Home / Farmasi Industri / Apoteker Harus Tahu Sumber Kontaminasi pada Produk Steril dan Cara Mengatasinya
ijpst
pic : istimewa

Apoteker Harus Tahu Sumber Kontaminasi pada Produk Steril dan Cara Mengatasinya

farmasetika.com – Kontaminasi pada produk steril merupakan sebuah permasalahan yang serius pada proses pembuatan sediaan steril. Hal ini harus diatasi dengan hati-hati untuk mendapatkan produk yang berkualitas.

Dalam proses produksi farmasi, istilah “produk steril” biasanya digunakan untuk mendiskripsikan sediaan parenteral. Sediaan parenteral ini berupa produk yang tidak dimaksudkan untuk diberikan melalui jalur oral atau yang melewati saluran pencernaan.

Pemberian obat ini dilakukan langsung ke aliran darah atau melalui berbagai jaringan tubuh. Untuk preparasi parenteral dapat berupa administrasi langsung dengan disuntukan ke dalam tubuh atau dapat diencerkan dulu sebelum diadministrasikan.

Beberapa jenis produk parenteral adalah cairan intravena, injeksi intramuskular, dan larutan optik. Karena dalam prosesnya produk ini tidak melewati sistem perncernaan, maka berbagai kontaminasi dapat memberikan konsekuensi yang serius pada pasien.

Untuk alasan ini, jaminan sterilisasi untuk produk parenteral semacam itu bersifat sakral dan harus dicapai menggunakan standard Good Manufacturing Practica (GMP). Setiap langkah harus diambil untuk memastikan kemungkinan kontaminasi dalam produk steril ini dieliminasi.

Tentunya apoteker di industri harus mengetahui kemungkinan terjadinya kontaminasi pada proses produksi produk steril.

Kontaminasi pada produk steril

Satu hal yang dapat dipastikan bahwa produk steril dapat terkontaminasi. Hal ini dapat menyebabkan lebih banyak kerugian daripada manfaatnya, atau bahkan dapat menyebabkan kematian pada pasien jika standart tidak dipatuhi. Agar preparasi sediaan steril ini dapat melewati tes  jaminan uji sterlitas, berikut ini hal-hal yang tidak boleh ada pada produk :

1. Mikroorganisme aktif atau hidup

Organisme yang mampu menyebabkan penyakit tidak boleh ditemukan dalam proses preparasi.

2. Zat pirogenik

Produk mikroorganisme yang menyebabkan penyakit demam. Kehadiran zat pirogenik ini dalam persiapan steril berarti kita menyuntikkan demam langsung ke aliran darah pasien.

3. Partikel

Bila kita dapat melihat partikel pada proses preparasi dengan mata telanjang, maka produk tersebut tidak sesuai untuk administrasi daln seluruh batch harus dimusnahkan.

Jika salah satu dari yang dicantumkan diatas ditemukan dalam preparasi, kemungkinan besar hal ini akan meningkatkan kemungkinan terjadinya kontaminasi pada produk steril. Batch seperti ini harus di recalled dan segera dimusnahkan.

Sumber – sumber kontaminasi pada produk steril

Jadi, hal-hal umum apa yang menyebabkan kemungkinan kontaminasi pada produk steril?

  1. Personil

Operator selalu menjadi penyebab kontaminasi yang paling signifikan selama bertahun-tahun. Beberapa intervensi teknologi juga telah diterapkan untuk mengurangi kontaminasi dari operator. Pada CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) aneks 1 terdapat penjelasan tersendiri pada poin personalia.

  1. Desain pabrik yang buruk

Tekanan udara di ruang proses aseptik harus berada pada perbedaan yang lebih tinggi ke seluruh ruang proses yang berdekatan; semua permukaan yang terpapar hendaklah halus, kedap air dan untuk lantai tidak boleh ada retak serta harus mudah dibersihkan untuk mengurangi pelepasan atau akumulasi partikel atau mikroba dan untuk memungkinkan penggunaan berulang bahan pembersih dan bahan disinfektan.

Baca :  Apoteker Harus Tahu Obat Penurun Kolesterol Masa Depan Selain Statin

Aliran udara melalui daerah kritis harus mengalir hanya dalam satu arah; suhu dan kelembaban di ruang proses harus dikontrol dengan tepat; dan pabrik harus lolos dalam kualifikasi ulang setiap enam bulan sekali. Ruang bersih dan sarana udara bersih diklasifikasikan sesuai dengan EN ISO 14644-1. Jumlah maksimum partikulat udara yang diperbolehkan untuk setiap kelas mempunyai aturan tersendiri. Jika desain bangunan yang digunakan tidak sesuai dengan standar yang telah berlaku maka resiko terjdinya kontaminasi pada proses pembuatan sangatlah besar. Untuk prinsip dan aturan mengenai bangunan dan fasilitas diatur pada CPOB bab 3.

  1. Akses tidak terbatas ke area produksi

Sementara hanya staff yang bekerja di area fasilitas produksi steril yang memiliki akses untuk area produksi, mereka juga harus mempunyai ruang ganti standar industri dimana mereka perlu mengganti perlengkapan pelindung yang tepat sebelum mendapat akses.

Pakaian rumah dan pakaian kerja reguler hendaklah tidak dibawa masuk ke dalam kamar ganti pakaian yang berhubungan dengan ruang ber kelas B  dan C. Untuk tiap personil yang bekerja di kelas A/B, pakaian kerja steril (disterilkan atau disanitasi dengan memadai) hendaklah disediakan untuk tiap sesi kerja.

Sarung tangan hendaklah secara rutin didisinfeksikan selama bekerja. Masker dan sarung tangan yang jarang diganti juga akan menimbulkan kontaminasi jadi hendaklah diganti paling sedikit tiap sesi kerja.

  1. Pembersihan area

Pembersihan dan disinfeksi yang buruk di area kerja juga merupakan penyebab utama kemungkinan kontaminasi pada produk steril.

  1. Pasokan air

Untuk fasillitas seperti ini, air yang digunakan haruslah air suling atau WFI (Water for Injection) dan peralatan untuk produksi reguler dan produksi dari grade of water yang sangat banyak harus tersedia.

Air juga merupakan salah satu sumber kontaminan yang sangat tinggi sehingga untuk membuat produk steril termasuk penyimpanan dan sistem distribusinya hendaklah selalu dikendalikan untuk menjamin bahwa spesifikasi yang sesuai dicapai tiap pengoperasian.

Langkah – langkah untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya kontaminasi dalam produksi steril

  1. Staf produksi harus memenuhi syarat dan terlatih serta mampu menjaga kebersihan diri yang tinggi. Mereka harus selalu mengenakan pakaian pelindung dan tidak pernah menyentuh produk dengan tangan kosong saat proses produksi. Pada CPOB aneks 1 menjelaskan tentang pembuatan produk steril, dijelaskan juga semua personil (termasuk bagian pembersihan dan perawatan) yang akan bekerja di area tersebut hendaklah mendapat pelatihan teratur dalam bidang yang berkaitan dengan pembuatan produk yang terkait dengan pembuatan produk steril yang benar, termasuk mengenai pengetahuan dasar mikrobiologi. Bila personil luar yang tidak pernah menerima pelatihan seperti kontraktor bangunan atau perawatan yang harus masuk ke area bersih, perhatian khusus hendaklah diberikan dengan instruksi dan pengawasan.
  2. Desain fasilitas hanya boleh dilakukan oleh para ahli di lapangan, untuk memastikan suhu dan kelembaban dapat dikontrol dengan tepat selain pemasangan dan penggunaan peralatan filtrasi udara yang benar, kunci udara dan pintu untuk UV harus dipasang pada area yang berbeda dengan persyaratan kesterilan yang berbeda. Laminar air flow di atas area kerja harus memiliki kecepatan yang cukup untuk melepaskan partikel dari area pengemasan. Restricted access barrier system (RABS) harus dipasang untuk digunakan oleh para ahli. RABS merupakan instalasi yang  digunakan di berbagai industri seperti farmasi, medis, kimia, dll yang membutuhkan udara bersih. RABS menyediakan penghalang fisik antara pekerja dan area produksi.
  3. Akses ke ruangan produksi harus terbatas oleh staf produksi yang terlatih. Dalam CPOB juga dijelaskan bahwa hal ini sangat penting untuk dilakukan. Personil yang bekerja di area bersih harus dipilih secara seksama dan jumlahnya terbatas untuk yang berada di area bersih, hal ini sangat penting khususnya pada proses aseptis. Inspeksi dan pengawasan hendaklah dilaksanakan sedapat mungkin dari luar area bersih
  4. Area finishing untuk produksi harus sedemikian rupa dimana semua jendela harus mudah untuk dibersihkan dan debu tidak dapat masuk. Hanya wastefel dari stainless steel yang dibolehkan. Ada beberapa macam tipe stainless steel yang diperbolehkan dalam produksi sediaan farmasi misalnya stainless steel 304, 304L, 306, 306L. Semua lantai, plafon, dan dinding harus mudah dibersihkan dan benar- benar bebas dari celah. Ventilasi, pipa kerja, dan sumber cahaya harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak membuat semacam lubang yang susah untuk dibersihkan.
  5. Staf harus memiliki standar kebersihan yang sangat tinggi dan dapat diandalkan untuk bekerja dengan penuh disiplin serta tidak mengidap suatu penyakit atau dalam kondisi kesehatan yang dapat menimbulkan bahaya pencemaran mikrobiologis terhadap produk. Ketika membersihkan fasilitas harus sesuai dengan kebutuhan dengan grade bahan kimia yang tepat.
  6. Air suling atau WFI. WFI harus selalu digunakan dalam proses produksi dan pastikan juga air tidak berkumpul dan tinggal di area dimana akan mendorong pertumbuhan mikroba dan multifikasi.
Baca :  3 Asisten Apoteker Salah Memberikan Obat Hingga Sebabkan Cedera Fisik Serius

Kesimpulan

Jadi selalu ada kemungkinan bahaya kontaminasi yang terjadi selama pembuatan produk steril, mengikuti langkah – langkah pencegahan sederhana yang dilakukan bersama dengan menjaga persyaratan penjaminan mutu serta ketentuan dari regulasi dapat mengurangi kemungkinan yang berbahaya ini. Manfaat untuk pasien adalah sangat penting bahwa sediaan steril yang digunakan harus tetap steril.

Sumber :

  1. Possibilities Contamination Sterile Production. http://www.pharmaguideline.com/2017/05/possibilities-contamination-sterile-production.html (Diakses 14 Juli 2017)
  2. CPOB 2012 . PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.33.12.12.8195 TAHUN 2012 TENTANG CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK
Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About Siska Hermawati

Siska Hermawati S.Farm yang saat ini sedang menempuh program studi profesi apoteker di Universitas Padjadjaran tahun ajaran 2017.

Check Also

Pentingnya Penerapan Teknologi Informasi di Industri Farmasi

Farmasetika.com – Industri farmasi Indonesia tentu tidak dapat mengisolasi diri dari perkembangan dan persaingan regional …

Leave a Reply

Skip to toolbar