Home / Sediaan & Alkes / Solid & Semisolid / Penyakit Sel Sabit dan Mekanisme Endari (L-Glutamin) untuk Mengobatinya
sel sabit

Penyakit Sel Sabit dan Mekanisme Endari (L-Glutamin) untuk Mengobatinya

farmasetika.com – Pada 7 Juli 2017, Food and Drug Administration (FDA) menyetujui  serbuk oral L-glutamine (Endari) untuk meringankan komplikasi akut dari penyakit sel sabit (sickle cells disease) pada pasien dewasa dan anak-anak usia 5 tahun ke atas. Obat Endari yang dibuat oleh Emmaus Medical Inc. ini merupakan pengobatan pertama yang disetujui ntuk pasien dengan penyakit sel sabit hampir 20 tahun, di mana sebelumnya hanya satu obat yang disetujui untuk pasien yang hidup dengan penyakit serius ini.

Penyakit sel sabit merupakan penyakit keturunan yang menyerang jutaan orang khususnya di afrika barat dan afrika tengah. Penyakit Sel Sabit (sickle cell disease) adalah suatu penyakit keturunan yang ditandai dengan sel darah merah yang berbentuk sabit dan anemia hemolitik kronik.

Pada penyakit sel sabit, sel darah merah memiliki hemoglobin (protein pengangkut oksigen) yang bentuknya abnormal, sehingga mengurangi jumlah oksigen di dalam sel dan menyebabkan bentuk sel menjadi seperti sabit.Sel yang berbentuk sabit menyumbat dan merusak pembuluh darah terkecil dalam limpa, ginjal, otak, tulang dan organ lainnya; dan menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen ke organ tersebut. Sel sabit ini rapuh dan akan pecah pada saat melewati pembuluh darah, menyebabkan anemia berat, penyumbatan aliran darah, kerusakan organ dan mungkin kematian.

Video di bawah ini akan mengambarkankan bagaimana mekanisme terjadinya sel sabit hingga dampak yang disebabkan oleh sel sabit terhadap tubuh:

Penyebab Penyakit Sel Sabit

  • Penyakit sel sabit hampir secara eksklusif menyerang orang kulit hitam.
  • Sekitar 10% orang kulit hitam di AS hanya memiliki 1 gen untuk penyakit ini (mereka memiliki rantai sel sabit) dan tidak menderita penyakit sel sabit.
  • Sekitar 0,3% memiliki 2 gen dan menderita penyakit sel sabit.

 Gejala

Penderita selalu mengalami berbagai tingkat anemia dan sakit kuning (jaundice) yang ringan, tetapi mereka hanya memiliki sedikit gejala lainnya.

Berbagai hal yang menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen dalam darah, (misalnya olah raga berat, mendaki gunung, terbang di ketinggian tanpa oksigen yang cukup atau penyakit) bisa menyebabkan terjadinya krisis sel sabit,yang ditandai dengan:

  • semakin memburuknya anemia secara tiba-tiba
  • nyeri (seringkali dirasakan di perut atau tulang-tulang panjang)
  • demam
  • kadang sesak nafas.
  • Nyeri perut bisa sangat hebat dan bisa penderita bisa mengalami muntah; gejala ini mirip dengan apendisitis atau suatu kista indung telur.

Pada anak-anak, bentuk yang umum dari krisis sel sabit adalah sindroma dada, yang ditandai dengan nyeri dada hebat dan kesulitan bernafas. Penyebab yang pasti dari sindroma dada ini tidak diketahui tetapi diduga akibat suatu infeksi atau tersumbatnya pembuluh darah karena adanya bekuan darah atau embolus (pecahan dari bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah).

Baca :  AstraZeneca Menggugat FDA untuk Mencegah Beredarnya Versi Generik Crestor

Sebagian besar penderita mengalami pembesaran limpa selama masa kanak-kanak. Pada umur 9 tahun, limpa terluka berat sehingga mengecil dan tidak berfungsi lagi. Limpa berfungsi membantu melawan infeksi, karena itu penderita cenderung mengalami pneumonia pneumokokus atau infeksi lainnya. Infeksi virus bisa menyebabkan berkurangnya pembentukan sel darah, sehingga anemia menjadi lebih berat lagi. Lama-lama hati menjadi lebih besar dan seringkali terbentuk batu empedu dari pecahan sel darah merah yang hancur. Jantung biasanya membesar dan sering ditemukan bunyi murmur.

Anak-anak yang menderita penyakit ini seringkali memiliki tubuh yang relatif pendek, tetapi lengan, tungkai, jari tangan dan jari kakinya panjang. Perubahan pada tulang dan sumsum tulang bisa menyebabkan nyeri tulang, terutama pada tangan dan kaki. Bisa terjadi episode nyeri tulang dan demam, dan sendi panggul mengalami kerusakan hebat sehingga pada akhirnya harus diganti dengan sendi buatan. Sirkulasi ke kulit yang jelek dapat menyebabkan luka terbuka di tungkai, terutama pada pergelangan kaki. Kerusakan pada sistem saraf bisa menyebabkan stroke. Pada penderita lanjut usia, paru-paru dan ginjal mengalami penurunan fungsi. Pria dewasa bisa menderita priapisme (nyeri ketika mengalami ereksi). Kadang air kemih penderita mengandung darah karena adanya perdarahan di ginjal. Jika diketahui bahwa perdarahan ini berhubungan dengan rantai sel sabit, maka penderita tidak boleh menjalani pembedahan eksplorasi dengan jarum.

Sebelumnya pengobatan untuk penyakit sel sabit ini meliputi Hydroxyurea, transfusi darah, dan transplantasi sel punca. Hydroxyurea adalah satu-satunya obat yang disetujui oleh FDA untuk mengurangi terjadinya Sickle Cell Crisis (SCC) dan untuk mengurangi kebutuhan transfusi darah pada pasien penyakit Sikle Cell Disease (SCD). Hydroxyurea dapat mengurangi SCC tapi tidak menghilangkannya. Selain itu, beberapa pasien tidak dapat mentolerir pengobatan dengan Hydroxyurea karena efek samping seperti leukopenia, neutropenia, anemia, dan trombositopenia. Hingga L-glutamin disetujui tidak ada terapi yang disetujui untuk mengurangi SCC pada anak-anak dengan SCD. Ini adalah kebutuhan kritis karena gejala dan kerusakan organ SCD dimulai pada tahun-tahun pertama. Selain itu, sekitar 1 dari 10 pasien dengan SCD akan mengalami stroke secara klinis sebelum usia 20 tahun.

Endari (L-Glutamin)

Endari (L-glutamin) adalah sebuah asam amino yang memiliki rumus molekul C5H10N2O3 dengan berat molekul 146.15 g/mol. Endari diformulasikan sebagai serbuk kristal putih dan dikemas sebanyak5 gram dalam plastik kertas foil yang ditujukan untuk sedian oral.

Baca :  Simponi ARIA: Antiinflamasi Baru untuk Gangguan Autoimun

Efikasi obat endari (L-glutamin) untuk penyakit anemia sel sabit dievaluasi dengan uji klinis. Uji klinis dilakukan pada 230 pasien (berumur 5 sampai 58 tahun) yang mengidap penyakit anemia sel sabit atau talasemia βo.

Pasien diberikan pengobatan secara acak dengan endari ataupun plasebo, kemudian dievaluasi selama 48 minggu. Pasien yang diberi obat endari mengalami penurunan frekuensi kunjungan ke rumah sakit karena rasa sakit yang diobati dengan narkotika secara parenteral atau obat ketorolac secara parenteral. Pasien yang menerima obat endari juga memiliki lebih sedikit kejadian sindroma dada akut (komplikasi penyakit sel sabit yang mengancam jiwa) dibandingkan dengan pasien yang menerima plasebo (8,6 % vs 23,1 %). Adapun efek samping dari endari adalah konstipasi, mual, sakit kepala, sakit perut, batuk, nyeri punggung dan nyeri dada. Penghentian pengobatan akibat reaksi merugikan dilaporkan pada 2,7% (n = 5) pasien yang menerima Endari. Reaksi buruk ini termasuk hipersplenisme, sakit perut, dispepsia, sensasi terbakar, dan hot flash. Endari menerima sebutan Orphan Drug untuk penggunaan ini, yang memberikan insentif untuk membantu dan mendorong pengembangan obat untuk penyakit langka.

Mekanisme kerja obat ini dalam mengobati SCD belum sepenuhnya dipahami. Fenomena stres oksidatif terlibat dalam patofisiologi penyakit ini. Sel darah merah berbentuk sabit lebih rentan terhadap kerusakan oksidatif dibandingkan dengan sel darah merah normal, yang dapat menyebabkan hemolysis kronis dan kejadian vaso-occlusive yang terkait dengan SCD. Nukleotida piridin, NAD+ dan bentuk tereduksinya yakni NADH memiliki peran dalam mengatur dan mencegah kerusakan oksidatif pada sel darah merah, L-glutamin dapat memperbaiki potensi redoks NAD pada sel darah merah sabit melalui ketersediaan glutation yang berkurang.

Dosis endari yang dianjurkan adalah 10 gram sampai 30 gram per hari (berdasarkan berat badan) yang diminum secara oral, dua kali sehari. Setiap dosis harus dicampur dalam 8 ons. (240 mL) minuman suhu dingin atau suhu ruangan atau dengan 4 sampai 6 ons makanan sebelum dikonsumsi.

Sumber :

https://www.accessdata.fda.gov/drugsatfda_docs/label/2017/208587s000lbl.pdf

https://www.fda.gov/Drugs/InformationOnDrugs/ApprovedDrugs/ucm566097.htm

https://www.fda.gov/downloads/AdvisoryCommittees/CommitteesMeetingMaterials/Drugs/OncologicDrugsAdvisoryCommittee/U

CM559736.pdf

Penulis : Gadena Artesis Tanti, Anisahtul Alawiyah, Chusnul Hayati, Iqlima Safitri, Khadijah Asy Syifa, Friska Dewi Sari Hutauruk, Silvia Sari Prastiwi

Share this:
  • 22
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    22
    Shares

About Anisahtul Alawiyah

Check Also

FDA Umumkan Obat Diabetes Inhibitor SGLT2 Sebabkan Infeksi Serius

Farmasetika.com – Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat kemarin (28/8/2018) memperingatkan bahwa kasus infeksi …

Leave a Reply

Skip to toolbar