Categories: Farmasi Industri

Menilik Ketergantungan Bahan Baku Obat di Industri Farmasi Indonesia

Majalah Farmasetika – Indonesia saat ini menduduki posisi ke-4 sebagai negara dengan penduduk terbanyak di dunia, hal ini otomatis menjadikan industri farmasi di Indonesia sebagai pasar yang sangat menjanjikan untuk konsumsi obat.

Namun kebutuhan obat yang besar tidak diiringi dengan kemandirian Indonesia dalam industri farmasi. Indonesia tercatat masih mengimpor 95% bahan baku obat dari luar negeri sebagian besar berasal dari Tiongkok (60%) dan India (30%), hal ini menjadikan Indonesia sangat tergantung pada kedua negara tersebut untuk membuat obat yang akan digunakan didalam negeri.

Industri farmasi di Indonesia sebagian besar hanya berkutat pada Industri dihilir saja seperti formulasi obat dengan mengimpor sebagian besar bahan baku. Dari 95% tersebut merupakan bahan baku obat yang digunakan sebagai eksipien maupun bahan aktif obat, sementara 90% obat jadi diproduksi di Indonesia. Hal ini menjadikan indonesia mempunyai potensi untuk mampu menyerap produksi bahan baku obatnya sendiri.

Apabila hal ini terus berlanjut, masalah dapat muncul ketika terjadi kendala pada industri luar negeri ataupun dibagian distribusi, seperti perubahan kebijakan, hubungan antar negara dan faktor pandemi seperti yang terjadi sekarang. Contoh ketika awal pandemi terjadi dan China melakukan lockdown banyak pelaku usaha industri farmasi yang khawatir tidak mendapatkan bahan baku obat yang dibutuhkan. Dari 95% tersebut merupakan bahan baku obat yang digunakan sebagai eksipien maupun bahan aktif obat, sementara 90% obat jadi diproduksi di Indonesia. Hal ini menjadikan indonesia mempunyai potensi untuk mampu menyerap produksi bahan baku obatnya sendiri.

Presiden Joko Widodo menyatakan keseriusannya untuk memperkuat industri farmasi di Indonesia,

“Contohnya paracetamol, obat umum bahan dasarnya saja masih impor. Semua orang minum obat paracetamol kok mesti impor,” ucapnya.

Pemerintah menargetkan ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor menurun sebesar 35% pada tahun 2024. Hal ini tentu bukan perkara mudah mengingat industri luar negeri sudah mapan dan mampu menghasilkan bahan baku obat yang lebih murah, jika pemerintah ingin serius untuk menanggapi masalah ini, perlu komitmen dan dukungan yang kuat bagi pelaku industri lokal baik berupa dukungan finansial serta kemudahan dari segi perizinan serta penyerapan hasil produksi bagi industri lokal.

Perkembangan industri farmasi di Indonesia sebenarnya sudah cukup baik data dari BPOM rata-rata pertumbuhan industri farmasi mencapai 14.10% pertahun, yang jauh lebih tinggi dibandingkan perkembangan ekonomi nasional yang berkisar diangka 5-6%.

Indonesia sebenernya sudah mampu memproduksi beberapa obat sendiri, obat-obat ini dikenal sebagai OMAI (Obat Modern Asli Indonesia). Obat-obatan produksi dalam negeri ini masih didominasi oleh obat-obatan herbal asli Indonesia, sebagian besar obat ini sudah masuk kedalam golongan fitofarmaka. Fitofarmaka merupakan obat herbal yang bahan bakunya telah terstandardisasi dan telah teruji klinis manfaatnya, yang berarti obat ini sudah teruji aman dan terbukti khasiatnya untuk mengobati penyakit. Akan tetapi obat ini masih belum banyak direkomendasikan oleh dokter diklinik pengobatan, yang menjadikan pengobatannya masih kurang luas digunakan di masyarakat, juga OMAI belum masuk kedalam list obat yang dinaungi JKN, menjadikan obat ini tidak banyak diproduksi dan RnD-nya menjadi lebih lambat.

Pada akhirnya masalah ketergantungan industri farmasi merupakan masalah kompleks pada berbagai lapisan industri ini, akan tetapi bukan tidak mungkin Indonesia secara bertahap mampu keluar dari ketergantungan ini, perlu dukungan dari berbagai stakeholder seperti pemerintah, perusahaan farmasi swasta, tenaga kesehatan dan juga masyarakat Indonesia untuk mewujudkan Indonesia berdaulat pada industri farmasi.

Daftar Pustaka

Ariana, Lutfah., Dian, Prihadyanti., Hartiningsih., Maulana,Ikbal dan Alamsyah,Putra.2015. Technological Catch Up Industri Farmasi Indonesia. Jakarta: LIPI Press 2015

Fikri Satria

Mahasiwa S1 Farmasi Universitas Padjadjaran

Share
Published by
Fikri Satria

Recent Posts

VELSIPITY, Obat Baru Terapi Radang Usus Besar Mengandung ETRASIMOD

Majalah Farmasetika - FDA melakukan penerimaan terhadap Velsipity dengan Active Pharmaceutical Ingredients Etrasimod sebagai terapi…

1 hari ago

EXXUA, Obat Baru Terapi Gangguan Depresi Mayor Mengandung Giperone

Majalah Farmasetika - FDA telah memberikan persetujuan terhadap tablet oral extended release dari Fabre-Kramer Pharmaceuticals…

3 hari ago

EXBLIFEP® Kombinasi Antibiotik Baru Terapi Infeksi Saluran Kemih dengan Komplikasi

Majalah Farmasetika - Badan Pengawas Obat dan Makanan USA-FDA pada tanggal 29 Februari 2024 telah…

6 hari ago

Salah Kaprah Nomenklatur D3 Apoteker dan Risiko Reduksi Profesi Kesehatan

Majalah Farmasetika - Kekeliruan nomenklatur “D3 Apoteker” tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari irisan…

1 minggu ago

Konsep Aplikasi RME-APOTEK Komunitas: Transformasi Praktik Kefarmasian Menuju Pelayanan Klinis Terintegrasi

Majalah Farmasetika - apt. Sudarsono, M.Sc (Clin.Pharm) membuat catatan dalam bentuk e-book terkait Konsep Dasar…

2 minggu ago

TRYVIO™, Obat Hipertensi Resisten Golongan Antagonis Reseptor Endotelin Pertama yang disetujui oleh FDA

Majalah Farmasetika - Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik/diastolik melebihi…

2 minggu ago