Mengenal Platform SatuSehat dan Kamus Farmasi Alkes Berbasis Digital

Majalah Farmasetika – Kementrian Kesehatan RI baru-baru ini telah merilis aplikasi SatuSehat sebuah platform integrasi sistem dan big data kesehatan untuk integrated health service.

SatuSehat mendorong interoperabilitas data di seluruh ekosistem sektor kesehatan sehingga dapat bermanfaat secara lebih luas dan menghasilkan outcome optimal. Selain itu, SatuSehat menyediakan spesifikasi dan mekanisme terstandar untuk proses bisnis, data, teknis, dan keamanan.

Latar belakang dibuatnya aplikasi SatuSehat

Menurut data Kemenkes, total fasilitas layanan kesehatan yang ada di Indonesia berjumlah

10,260 Puskesmas
11,347 Klinik
2,985 Rumah sakit
5,862 Dokter dan Dokter Gigi
1,400 Laboratorium
30,199 Apotek

Disinilah diperlukan platform SatuSehat dan sebagai uji coba skala pilot digunakan di 41 Rumah Sakit
(Alpha Testing) dan 31 Health Companies (Beta Testing).
Diantara total banyaknya fasilitas pelayanan kesehatan tersebut, saat ini terdapat 400 lebih aplikasi berbasis kesehatan milik pemerintah yang belum saling membaur sehingga beberapa data yang sama dikumpulkan oleh sistem yang berbeda-beda. Hal ini berdampak pada kurang optimalnya masyarakat dalam menerima pelayanan akses kesehatan.
Untuk mempermudah masyarakat dan tenaga medis dalam memperoleh optimasi pelayanan kesehatan, dibutuhkan digitalisasi dan standardisasi antara satu sistem dengan sistem yang lainnya dalam rekam jejak medis digital yang terstruktur. Dalam hal ini, masyarakat tidak perlu daftar ulang dengan mengisi formulir manual di aplikasi berbasis kesehatan dan tidak perlu mengisi data secara berulang di setiap sistem yang berbeda.

Kementerian Kesehatan RI baru-baru ini telah merilis aplikasi SatuSehat, sebuah platform integrasi sistem dan big data kesehatan untuk integrated health service. SatuSehat juga mendorong interoperabilitas data di seluruh ekosistem sektor kesehatan sehingga dapat bermanfaat secara lebih luas dan menghasilkan outcome yang optimal. Selain itu, SatuSehat menyediakan spesifikasi dan mekanisme terstandar untuk proses bisnis, data, teknis, dan keamanan.

Kamus Farmasi dan Alat Kesehatan (KFA)

Pada platform SatuSehat, Kemenkes juga berkomitmen mendorong integrasi data kesehatan dengan melakukan beberapa tahapan. Dimana salah satu tahapannya yaitu tahapan mendata obat yang terintegrasi dengan kamus obat atau biasa disebut KFA (Kamus Farmasi dan Alat Kesehatan).

KFA ini merupakan kamus yang memuat kode unik produk farmasi dan alkes sehingga dapat digunakan dan diintegrasikan pada semua sistem yang digunakan oleh industri farmasi, industri alat kesehatan, instansi pemerintah, hingga fasilitas pelayanan kesehatan.
Tujuan KFA sendiri diantaranya untuk :

  • Pengelolaan supply chain farmasi dan alat kesehatan secara nasional dari hulu ke hilir yang selaras dengan regulasi yang ada
  • Analisa yang akurat untuk kebutuhan obat, bahan baku obat, dan alat kesehatan secara nasional, dan
  • Deteksi dini peningkatan kebutuhan obat atau alat kesehatan di daerah yang diakibatkan oleh wabah penyakit atau bencana alam.

Penyusunan KFA merujuk pada interoperabilitas BPOM dan Regalkes, keputusan Menteri terkait dengan Jenis dan Penamaan Alat Kesehatan (Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/menkes/4745/2021), Sistem Klasifikasi Kimia Terapi Anatomi WHO, Terminologi RxNorm NLM, The Unified Code For Units of Measure (UCUM), dan National Center for Immunization and Respiratory Disease (CVX-NCIRD).

Manfaat KFA

Dengan KFA browser, produsen dapat mengetahui kode unik dari produk farmalkes (SKU) dan publik sebagai distributor juga dapat memperoleh informasi produk yang lebih rinci untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional khususnya saat terjadi wabah penyakit dan bencana alam.
Untuk rencana ke depan pun, obat-obatan yang terdaftar di BPOM dan Regalkes tersebut nantinya akan memiliki kode unik tunggal sebagai identitas dan dapat memudahkan proses pertukaran informasi antar sistem yang terintegrasi dalam platform SatuSehat.

Sumber :
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2022. Kamus Farmasi dan Alat-alat Kesehatan (KFA). Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.

Akhyatun Nisa

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan semester tujuh di Program Studi Farmasi Universitas Padjadjaran. Menulis merupakan hobi saya sedari saya remaja. Ada beberapa karya yang sudah pernah saya ikut sertakan dalam antologi seperti puisi dan cerpen.

Share
Published by
Akhyatun Nisa

Recent Posts

VELSIPITY, Obat Baru Terapi Radang Usus Besar Mengandung ETRASIMOD

Majalah Farmasetika - FDA melakukan penerimaan terhadap Velsipity dengan Active Pharmaceutical Ingredients Etrasimod sebagai terapi…

9 jam ago

EXXUA, Obat Baru Terapi Gangguan Depresi Mayor Mengandung Giperone

Majalah Farmasetika - FDA telah memberikan persetujuan terhadap tablet oral extended release dari Fabre-Kramer Pharmaceuticals…

2 hari ago

EXBLIFEP® Kombinasi Antibiotik Baru Terapi Infeksi Saluran Kemih dengan Komplikasi

Majalah Farmasetika - Badan Pengawas Obat dan Makanan USA-FDA pada tanggal 29 Februari 2024 telah…

6 hari ago

Salah Kaprah Nomenklatur D3 Apoteker dan Risiko Reduksi Profesi Kesehatan

Majalah Farmasetika - Kekeliruan nomenklatur “D3 Apoteker” tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari irisan…

1 minggu ago

Konsep Aplikasi RME-APOTEK Komunitas: Transformasi Praktik Kefarmasian Menuju Pelayanan Klinis Terintegrasi

Majalah Farmasetika - apt. Sudarsono, M.Sc (Clin.Pharm) membuat catatan dalam bentuk e-book terkait Konsep Dasar…

2 minggu ago

TRYVIO™, Obat Hipertensi Resisten Golongan Antagonis Reseptor Endotelin Pertama yang disetujui oleh FDA

Majalah Farmasetika - Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik/diastolik melebihi…

2 minggu ago