Categories: BeritaEdukasi

Fomepizole yang Mahal Bisa Diganti Etanol, Senyawa Alkohol di Miras

Majalah Farmasetika – Pemerintah saat ini telah mengimpor obat penawar keracunan antidotum dari Singapura, Australia, dan Jepang. Pakar farmasi dari UGM, Prof. Zullies Ikawati, menjelaskan bahwa Fomepizole bisa diganti dengan etanol, suatu senyawa alkohol yang menjadi komponen minuman keras.

“Nama obat Fomepizole memang sedang naik daun belakangan ini, karena disebut-sebut sebagai obat gagal ginjal akut yang saat ini sedang menjadi musibah besar di tanah air. Tapi harganya yang mencapai Rp 16 juta/vial tentu membuat jidat berkerut, sementara hasilnya belum bisa dipastikan, karena banyak faktor bisa mempengaruhi.” Jelas Prof Zullies dalam postingan di facebooknya (26/10/2022).

“Lalu, tahukah Anda bahwa fomepizole bisa digantikan dengan miras ? Haah, miras ? Tentu bukan sembarang miras ya, apalagi miras oplosan. Tepatnya adalah menggunakan ETANOL. Etanol adalah senyawa alkohol yang biasa menjadi komponen miras atau minuman beralkohol.” lanjut Prof Zullies.

Etilen Glikol Bersaing dengan Etanol

Prof Zullies menjelaskan bahwa Fomepizole bekerja dengan menghambat enzim ALCOHOL DEHYDROGENASE yang mengubah etilen glikol menjadi senyawa toksiknya. Nah, etanol ketika masuk ke dalam tubuh juga akan dimetabolisme oleh enzim yang sama, yaitu ALCOHOL DEHYDROGENASE.

“Bedanya, hasil metabolisme etanol ini relatif tidak toksik, yaitu asetaldehide. Ketika seorang terpapar etilen glikol, maka ketika dia juga mengkonsumsi etanol, maka etilen glikol dan etanol akan bersaing untuk dimetabolisme enzim yang sama. Dengan demikian, jumlah etilen glikol yang akan menjadi senyawa toksiknya akan berkurang. Etilen glikol akan tetap dalam bentuk utuhnya dan kemudian bisa dieliminasi melalui urin, sehingga mengurangi toksisitas dari etilen glikol.” Jelas Prof Zullies.

Etanol seperti apa yang bisa digunakan?

“Etanol untuk terapi keracunan EG dapat diberikan sebagai minuman maupun infus intravena. Enzim Alkohol dehidrogenase dapat diblokir dengan 10 mL/kg larutan etanol 10%, diikuti oleh 1 mL/kg 10% larutan etanol diinfuskan per jam.” Jelas guru besar dari Fakultas Farmasi, UGM ini.

Prof Zullies melanjutkan IDAI memberi panduan penggunaan etanol dengan dosis inisial 800 mg/kgBB, lalu dilanjutkan dengan 100-150 mg/kgBB/jam. Dapatkan kadar etanol serum setelah dosis awal dan sering selama terapi pemeliharaan untuk memastikan konsentrasi 100 mg/dL (misalnya, setiap 1-2 jam sampai tujuan tercapai atau setelah perubahan laju infus, kemudian setiap 2-4 jam selama dosis rumatan). Untuk pemberian per oral, dapat digunakan etanol 20% atau kurang dan diberikan secara oral atau melalui selang nasogastrik. Karena bersifat sangat hiperosmolar, pemberian diberikan selama 1 jam.

“Kelemahan etanol adalah memerlukan pemberian yang terus menerus dan pemantauan kadar etanol dan glukosa serum yang lebih sering, dan dapat menyebabkan efek penekanan sistem syaraf pusat dan hipoglikemia. Meskipun biaya etanol jauh lebih murah, penghematannya mungkin perlu diimbangi dengan biaya tambahan untuk memantau pasien dan test laboratorium.” Jelasnya.

“Pada prinsipnya, etanol dapat digunakan sebagai alternatif terapi intoksikasi etilen glikol dengan biaya lebih murah, tetapi tentu harus diperhatikan potensi risikonya untuk menjadi pertimbangan dan kewaspadaan dalam mencegah efek yang tidak diharapkan. Sediaan ETANOLnya juga bukan sembarangan ya. HARUS yang pharmaceutical grade jika akan diinfuskan, dan minimal food grade jika akan diberikan oral. Jika perlu, dibuat sediaan etanol antidotum ini sesuai dengan cara pembuatan obat yang baik, dan nantinya diberikan kepada pasien dengan cara pemberian yang tepat, dengan pemantauan ketat.” Tutup Prof Zullies.

Sumber

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02pxjS9AeyMgkqeuETaxHMiq5oqgSCNdEBW5oqeyBcdawFSkeJxycuuY6VcMTo6xX8l&id=1313708945
farmasetika.com

Farmasetika.com (ISSN : 2528-0031) merupakan situs yang berisi informasi farmasi terkini berbasis ilmiah dan praktis dalam bentuk Majalah Farmasetika. Di situs ini merupakan edisi majalah populer. Sign Up untuk bergabung di komunitas farmasetika.com. Download aplikasi Android Majalah Farmasetika, Caping, atau Baca di smartphone, Ikuti twitter, instagram dan facebook kami. Terimakasih telah ikut bersama memajukan bidang farmasi di Indonesia.

Share
Published by
farmasetika.com

Recent Posts

VELSIPITY, Obat Baru Terapi Radang Usus Besar Mengandung ETRASIMOD

Majalah Farmasetika - FDA melakukan penerimaan terhadap Velsipity dengan Active Pharmaceutical Ingredients Etrasimod sebagai terapi…

1 hari ago

EXXUA, Obat Baru Terapi Gangguan Depresi Mayor Mengandung Giperone

Majalah Farmasetika - FDA telah memberikan persetujuan terhadap tablet oral extended release dari Fabre-Kramer Pharmaceuticals…

2 hari ago

EXBLIFEP® Kombinasi Antibiotik Baru Terapi Infeksi Saluran Kemih dengan Komplikasi

Majalah Farmasetika - Badan Pengawas Obat dan Makanan USA-FDA pada tanggal 29 Februari 2024 telah…

6 hari ago

Salah Kaprah Nomenklatur D3 Apoteker dan Risiko Reduksi Profesi Kesehatan

Majalah Farmasetika - Kekeliruan nomenklatur “D3 Apoteker” tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari irisan…

1 minggu ago

Konsep Aplikasi RME-APOTEK Komunitas: Transformasi Praktik Kefarmasian Menuju Pelayanan Klinis Terintegrasi

Majalah Farmasetika - apt. Sudarsono, M.Sc (Clin.Pharm) membuat catatan dalam bentuk e-book terkait Konsep Dasar…

2 minggu ago

TRYVIO™, Obat Hipertensi Resisten Golongan Antagonis Reseptor Endotelin Pertama yang disetujui oleh FDA

Majalah Farmasetika - Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik/diastolik melebihi…

2 minggu ago