farmasetika.com – Saat ini, ‘puasa’ atau ‘pembatasan asupan kalori’ menjadi topik yang banyak diteliti di bidang kesehatan. Berbagai manfaat puasa telah diulas secara ilmiah oleh Longo dan Mattson (2014) dalam jurnal Cell Metabolism.
Mereka merangkum bukti-bukti ilmiah terkait manfaat puasa, antara lain dalam pencegahan diabetes, penurunan resiko asma, penyakit jantung, degradasi neuron, rheumatoid arthritis, dan kanker. Pada awal tahun 2017, Lu et al. (2017) melaporkan bahwa puasa dapat menghambat perkembangan leukemia.
Leukemia adalah jenis kanker yang biasanya berawal dari kelainan produksi sel di sumsum tulang dan mengakibatkan tingginya jumlah sel darah putih yang abnormal. Sel-sel darah putih ini tidak sepenuhnya berkembang dengan baik yang disebut dengan sel-sel leukemia.
Gejala mungkin termasuk perdarahan dan masalah memar, merasa lelah, demam, dan peningkatan risiko infeksi. Gejala ini terjadi karena kurangnya sel darah normal. Diagnosis biasanya dibuat dengan tes darah atau biopsi sumsum tulang.
Tim peneliti menggunakan berbagai jenis leukemia dalam penelitian ini, yaitu B-cell dan T-cell acute lymphoblastic leukemia (B-ALL dan T-ALL) serta acute myeloid leukemia (AML).
Peneliti membuat model leukemia dengan melakukan transplantasi sel-sel leukemia pada hewan uji mencit. Setelah transplantasi sel leukemia, mencit dipuasakan dengan cara 1 hari pemberian makan dan 1 hari puasa secara bergantian (6 kali siklus).
Setelah 7 minggu, mencit yang dipuasakan memiliki jumlah sel leukemia yang lebih sedikit dibanding mencit yang tidak dipuasakan. 75% mencit yang dipuasakan juga dapat bertahan hidup lebih dari 120 hari, sementara seluruh mencit yang tidak dipuasakan mati dalam jangka waktu 59 hari akibat leukemia. Namun, hal ini hanya terjadi pada mencit yang ditransplantasi dengan sel leukemia jenis ALL. Puasa tidak memberikan efek positif pada mencit yang ditransplantasi dengan sel leukemia jenis AML. Hal ini menunjukkan bahwa efek puasa pada kanker belum dapat digeneralisir dan tergantung pada jenis kanker.
Lu et al. lalu menelusuri mekanisme molekuler antileukemia yang disebabkan oleh puasa. Mereka menemukan bahwa puasa meningkatkan ekspresi protein LEPR (Leptin Receptor) pada sel leukemia ALL. Dalam penelitian ini, dibuktikan bahwa defisiensi protein LEPR menyebabkan perkembangan sel leukemia ALL yang lebih cepat pada mencit. Di sisi lain, defisiensi LEPR berkaitan erat dengan obesitas.
Penelitian-penelitian terdahulu melaporkan bahwa ada asosiasi kuat antara obesitas dengan prognosis buruk leukemia ALL. Berdasarkan penelitian ini, puasa dapat menjadi terapi yang efektif bagi leukemia tipe ALL dan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut secara klinis mengenai efek puasa pada kanker. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas puasa pada kanker jenis lainnya.
Referensi:
Majalah Farmasetika - FDA melakukan penerimaan terhadap Velsipity dengan Active Pharmaceutical Ingredients Etrasimod sebagai terapi…
Majalah Farmasetika - FDA telah memberikan persetujuan terhadap tablet oral extended release dari Fabre-Kramer Pharmaceuticals…
Majalah Farmasetika - Badan Pengawas Obat dan Makanan USA-FDA pada tanggal 29 Februari 2024 telah…
Majalah Farmasetika - Kekeliruan nomenklatur “D3 Apoteker” tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari irisan…
Majalah Farmasetika - apt. Sudarsono, M.Sc (Clin.Pharm) membuat catatan dalam bentuk e-book terkait Konsep Dasar…
Majalah Farmasetika - Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik/diastolik melebihi…