Uji Klinik

Seberapa Mahalkah Uji Klinis untuk Obat Baru?

Farmasetika.com – Uji klinis (clinical trial) adalah tahap yang sangat menentukan dalam peluncuran suatu obat. Secara umum, uji klinis adalah tahap pengujian obat pada manusia. Terdapat beberapa fase uji klinis, yaitu uji klinis fase I, II, III, dan IV.

Paling tidak, suatu obat harus lolos uji klinis fase III untuk dapat dipasarkan. FDA melaporkan hanya sekitar 25-30% obat yang diteliti dapat melalui uji klinis fase III.

Uji klinis fase IV dilakukan untuk mengawasi keamanan dan efikasi obat setelah obat diluncurkan di pasaran. Untuk melewati uji klinis fase I-III, suatu obat biasa membutuhkan waktu minimal 5 tahun.

Dalam uji klinis juga diperlukan relawan uji dalam jumlah yang besar. Hal ini menyebabkan biaya yang diperlukan untuk uji klinis suatu obat menjadi sangat besar.

Beberapa faktor menyebabkan meningkatnya biaya uji klinis saat ini, yaitu

(i) peningkatan syarat regulasi, yang mana obat tidak hanya memenuhi syarat efikasi dan keamanan, tetapi juga harus lebih unggul dibandingkan dengan obat yang sudah ada sebelumnya, dan

(ii) tantangan untuk melakukan uji klinis pada sub-populasi tertentu atau pasien dengan penyakit langka. Saat ini, seberapa besarkah biaya uji klinis obat, terutama bagi obat-obat biologis?

KMR Group, suatu konsultan manajemen yang berfokus pada benchmark dan analisis performa perusahaan biofarmasi di Amerika Serikat, melakukan analisis terhadap biaya uji klinis yang dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan biofarmasi besar.

Sebanyak 7 perusahaan yang termasuk dalam 20 perusahaan farmasi dengan pendapatan tertinggi pada 2016 menjadi sumber data analisis. Melalui serangkaian analisis portofolio perusahaan,

KMR group melaporkan bahwa rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk uji klinik fase I adalah US$3.4 juta (~45 miliar rupiah), uji klinik fase II sebesar $8.6 juta (~114 miliar rupiah), dan uji klinik fase III sebesar $21.4 juta (~284 miliar rupiah).

KMR group juga melakukan analisis statistik terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi biaya uji klinik. Desain protokol uji klinis yang digunakan sangat mempengaruhi biaya uji klinis yang dikeluarkan.

Selain itu, semakin banyak jumlah negara yang dilibatkan dalam uji klinis dan waktu uji yang lama, semakin besar biaya uji klinis yang dikeluarkan.

Lebih lanjut, obat yang akan dipasarkan di negara berkembang juga memerlukan biaya yang lebih besar dan waktu uji klinis yang lebih panjang.

Sementara itu, faktor-faktor yang tidak mempengaruhi biaya uji klinis adalah bentuk molekul obat (senyawa kimia kecil atau obat biologis) serta apakah obat untuk penyakit langka atau tidak.

Sebagai penutup hasil analisis, KMR group menyimpulkan bahwa 3 kelompok faktor dapat menjadi target untuk meningkatkan cost performance suatu uji klinis, yaitu pemilihan parameter uji klinis, operasional uji klinis (penggunaan outsourcing dan pasar negara berkembang), serta penurunan cycle-time. Industri farmasi harus mampu memahami seluruh faktor-faktor tersebut guna menghasilkan uji klinis yang optimal.

Referensi

Martin, L. et al. (2017). How much do clinical trials cost? Nature News and Analysis. doi:10.1038/nrd.2017.70

 

 

Yonika Arum Larasati

Yonika Arum Larasati, S.Farm. Apt. adalah seorang apoteker yang saat ini sedang menempuh pendidikan master di Nara Institute of Science and Technology, Jepang. Saya memiliki ketertarikan di bidang riset pengembangan obat kanker.

Share
Published by
Yonika Arum Larasati

Recent Posts

VELSIPITY, Obat Baru Terapi Radang Usus Besar Mengandung ETRASIMOD

Majalah Farmasetika - FDA melakukan penerimaan terhadap Velsipity dengan Active Pharmaceutical Ingredients Etrasimod sebagai terapi…

20 jam ago

EXXUA, Obat Baru Terapi Gangguan Depresi Mayor Mengandung Giperone

Majalah Farmasetika - FDA telah memberikan persetujuan terhadap tablet oral extended release dari Fabre-Kramer Pharmaceuticals…

2 hari ago

EXBLIFEP® Kombinasi Antibiotik Baru Terapi Infeksi Saluran Kemih dengan Komplikasi

Majalah Farmasetika - Badan Pengawas Obat dan Makanan USA-FDA pada tanggal 29 Februari 2024 telah…

6 hari ago

Salah Kaprah Nomenklatur D3 Apoteker dan Risiko Reduksi Profesi Kesehatan

Majalah Farmasetika - Kekeliruan nomenklatur “D3 Apoteker” tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari irisan…

1 minggu ago

Konsep Aplikasi RME-APOTEK Komunitas: Transformasi Praktik Kefarmasian Menuju Pelayanan Klinis Terintegrasi

Majalah Farmasetika - apt. Sudarsono, M.Sc (Clin.Pharm) membuat catatan dalam bentuk e-book terkait Konsep Dasar…

2 minggu ago

TRYVIO™, Obat Hipertensi Resisten Golongan Antagonis Reseptor Endotelin Pertama yang disetujui oleh FDA

Majalah Farmasetika - Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik/diastolik melebihi…

2 minggu ago