Farmasetika.com – Diabetes merupakan salah satu dari empat prioritas penyakit tidak menular. Berdasarkan data WHO, pada tahun 2013, diabetes menjadi salah satu beban pengeluaran kesehatan terbesar di dunia yang diestimasikan sekitar 11% dari pembelanjaan untuk kesehatan dunia. Oleh karena itu, banyak obat diabetes dikembangkan, salah satunya adalah steglatro (ertugliflozin).
Steglatro merupakan obat untuk mengendalikan kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2.
Steglatro dapat diberikan satu tablet sekali sehari di pagi hari. Salah satu kelebihan obat steglatro ini adalah sudah teruji klinis dapat mengendalikan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2. Selain itu, penggunaan steglatro tidak terbatas pada jenis kelamin karena obat memiliki efek yang sama baik pada pria maupun wanita. Obat ini juga dapat digunakan pada pasien usia diatas 65 tahun. Namun, kebanyakan penggunaan steglatro ini ditujukan pada ras kulit putih.
Dalam penggunaan, perlu pengawasan yang ketat karena steglatro dikhawatirkan dapat menyebabkan beberapa efek samping seperti dapat menyebabkan penurunan tekanan darah, kerusakan ginjal, peningkatan kadar kolesterol, dan kadar gula darah yang sangat rendah bila digunakan dalam kombinasi dengan insulin atau obat yang meningkatkan insulin, dan infeksi saluran kemih yang serius serta ketoasidosis.
Steglatro merupakan golongan obat sglt2 . Di indonesia juga sudah tersedia obat DM tipe 2 dengan golongan SGLT-2, salah satunya Dapagliflozin.
Dapagliflozin merupakan obat antidiabetes golongan inhibitor SGLT2 paling baru di Indonesia yang telah disetujui oleh BPOM pada 22 Maret 2018 dengan nomor registrasi DKI 1735301317A1. Inhibitor SGLT2 bekerja menurunkan reabsorpsi glukosa dalam ginjal dan meningkat ekskresi glukosa urin sehingga mengurangi kadar glukosa puasa darah dan postprandial.
Dapagliflozin ini tersedia dengan merek dagang Forxiga dan diproduksi oleh Astra Zeneca. Dosis yang tersedia yaitu 5 mg dan 10 mg. Menurut sebuah penelitian, penggunaan dapagliflozin 10 mg sekali sehari pada diabetes tipe 2 dapat memperbaiki kontrol glikemik dengan pemakaian sebagai monoterapi jika diet dan latihan fisik tidak memberikan kontrol glikemik yang adekuat atau pada pasien yang tidak dapat menggunakan metformin karena intoleransi.
Seglatro baru disetujui oleh FDA pada tahun 2017. Dibandingkan dengan obat-obat golongan SGLT-2 inhibitor di Indonesia lainnya, steglatro tidak memiliki kelebihan dalam efikasi dan keamanan yang signifikan. Data di Amerika menunjukkan obat steglatro memliki harga yang lebih murah dibanding dengan obat segolongan lainnya.
Penelitian lebih lanjut masih berlangsung sampai tahun ini (2019) untuk menunjukkan bahwa steglatro (ertugliflozin) dapat berpotensi menjaga kesehatan jantung. Obat ini juga sebaiknya dihindarkan bagi pasien yang memiliki penyakit ginjal.
Sumber :
BPOM. 2017. Dapagliflozin. Tersedia online di https://cekbpom.pom.go.id/index.php/home/produk/mpi8s5sfd1khp5jr7lb8fgch32/all/row/10/page/0/order/4/DESC/search/5/dapagliflozin (diakses tanggal 27 November 2018).
JAMA. 2018. Ertugliflozin for Type 2 Diabetes. American Medical Association, 319 (23): 2434-2435
Luman, A. 2015. Peran Inhibitor Sodium Glucose Co-transporter 2 (SGLT2) pada Terapi Diabetes Melitus. Continuing Professional Development, 42 (7): 498-503
Penulis : Wiwit Nurhidayah, Mohamad Irfan Fitriansyah, Rini Meliawati, Hanifa Olgha Rizka, Widiya Nurmalasari, Yeni Andriani
Majalah Farmasetika - FDA melakukan penerimaan terhadap Velsipity dengan Active Pharmaceutical Ingredients Etrasimod sebagai terapi…
Majalah Farmasetika - FDA telah memberikan persetujuan terhadap tablet oral extended release dari Fabre-Kramer Pharmaceuticals…
Majalah Farmasetika - Badan Pengawas Obat dan Makanan USA-FDA pada tanggal 29 Februari 2024 telah…
Majalah Farmasetika - Kekeliruan nomenklatur “D3 Apoteker” tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari irisan…
Majalah Farmasetika - apt. Sudarsono, M.Sc (Clin.Pharm) membuat catatan dalam bentuk e-book terkait Konsep Dasar…
Majalah Farmasetika - Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik/diastolik melebihi…