Farmasetika.com – LIBTAYO® (Cemiplimab) adalah salah satu obat baru yang disetujui oleh United State Food and Drug Administration (U.S FDA) pada tahun 2018, berbentuk larutan bening hingga warna kuning pucat, dan dikemas dalam bentuk vial. Obat ini diindikasikan untuk pasien kanker kulit “CSCC” (cutaneous squamous cell carcinoma). Adapun hak patennya berasal dari Regeneron Pharmaceuticals, Inc (FDA, 2018).
Prevalensi kanker kulit di Indonesia menempati urutan ketiga setelah kanker leher rahim dan kanker payudara (Rata, 2007). Sinar ultraviolet sangat berperan terhadap kanker kulit. Hal ini terlihat dari adanya mutasi gen p53 yang terjadi pada 90% KSS (karsinoma sel skuamosa). Kelompok geriatrik (usia lebih dari 60 tahun), kulit putih, dan laki-laki merupakan kelompok yang memiliki risiko tinggi mendapatkan tumor kulit ganas (Manuaba,2010).
Indonesia termasuk negara tropis dengan paparan sinar ultraviolet matahari yang sangat kuat dan sebagian besar masyarakatnya banyak melakukan aktivitas yang langsung terpapar sinar matahari, sehingga berpengaruh pada proses terjadinya kanker kulit (Suhariyanto, 2004).
Hingga saat ini pengobatan yang beredar di Indonesia untuk penyakit kanker kulit “CSCC” adalah operasi dan radioterapi, sedangkan untuk pengobatan menggunakan injeksi belum tersedia.
Libtayo merupakan obat imunoterapi baru yang digunakan untuk membantu mengatasi pasien-pasien yang tidak bisa diterapi dengan operasi dan radioterapi. Berdasarkan hal tersebut, Libtayo berpotensi untuk dipasarkan di Indonesia.
Berikut adalah informasi lengkap mengenai LIBTAYO® (Cemiplimab):
kanker kulit “CSCC” (cutaneous squamous cell carcinoma)
Cemiplimab merupakan salah satu antibodi monoklonal yang menargetkan inhibitor checkpoint PD-1 (programmed death 1) dan memblokir interaksinya dengan PD-L1 dan PD-L2, melepaskan penghambatan yang diperantarai jalur PD-1 dari respon imun, termasuk respon imun antitumor, sehingga akan mengurangi pertumbuhan tumor. Pengikatan ligan PD-1 PD-L1 dan PD-L2, ke reseptor PD-1 yang ditemukan pada sel T, akan menghambat proliferasi sel-T dan produksi setokin (Medscape, 2018).
LIBTAYO: sebagai agen tunggal atau dalam kombinasi dengan kemoterapi atau radiasi yang diberikan secara IV pada dosis :
Di antara 534 pasien, 38% terpapar selama ≥ 6 bulan dan 16% terpapar selama ≥ 12 bulan.
Diberikan Libtayo sampai perkembangan penyakit, toksisitas yang tidak dapat diterima, atau penyelesaian perawatan terencana.
Rata rata durasi paparan adalah 20 minggu (3 hari sampai 1,4 tahun).
LIBTAYO secara permanen dihentikan karena reaksi merugikan pada 5% pasien: pneumonitis, miokarditis autoimun, hepatitis, meningitis aseptic, sindrom nyeri regional kompleks, batuk, dan kelemahan otot.
Infus intravena sebanyak 350 mg selama 30 menit setiap 3 minggu hingga terjadi progress penurunan penyakit atau sampai diketahui toksisitas yang sangat membahayakan.
Injeksi intravena
Referensi:
FDA. 2018. FDA approves first treatment for advanced form of the second most common skin cancer. Available online at https://www.fda.gov/NewsEvents/Newsroom/PressAnnouncements/ucm622044.htm [Accesed on 26th November 2018].
Manuaba IBTW.2010. Panduan penatalaksanaan tumor ganas kulit. Jakarta: Sagung Seto; pp.133-61. 13
Medscape. 2018. Cemiplimab (Rx). Available online at https://reference.medscape.com/drug/libtayo-cemiplimab-1000263#10 [Accesed on 26th November 2018].
Rata IGAK. 2007. Tumor kulit. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. pp. 229-41.
Suhariyanto B, Prasetyo R. 2004. Melanoma maligna dan permasalahannya. Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. pp. 172-7. 6
Penulis : Fachreza Erdi Pratama, Riska Nelinda, Qisti Fauza, Nadia Ariati Mutiana, Rahma Alya Nafisah, Paraswati, Huriyatus Tsaniyah (Program Studi Sarjana Farmasi, Angkatan 2015-Universitas Padjadjaran).
Majalah Farmasetika - FDA melakukan penerimaan terhadap Velsipity dengan Active Pharmaceutical Ingredients Etrasimod sebagai terapi…
Majalah Farmasetika - FDA telah memberikan persetujuan terhadap tablet oral extended release dari Fabre-Kramer Pharmaceuticals…
Majalah Farmasetika - Badan Pengawas Obat dan Makanan USA-FDA pada tanggal 29 Februari 2024 telah…
Majalah Farmasetika - Kekeliruan nomenklatur “D3 Apoteker” tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari irisan…
Majalah Farmasetika - apt. Sudarsono, M.Sc (Clin.Pharm) membuat catatan dalam bentuk e-book terkait Konsep Dasar…
Majalah Farmasetika - Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik/diastolik melebihi…