Edukasi

Hindari COVID-19, Apoteker Bisa Buat Sediaan Antiseptik Sesuai Panduan WHO

farmasetika.com – Wabah penyakit COVID-19 yang disebabkan oleh novel coronavirus/nCoV-2019 telah sampai ke Indonesia (1/3/2020). Tidak hanya masker yang mendadak habis stok di pasaran, sediaan antiseptik atau hand sanitizer/handrub pembasmi bakteri dan kuman pun susah dicari.

Apoteker sebagai ahli farmasi dalam formulasi sediaan handrub bisa berperan dalam menanggulangi wabah ini dengan membuat sendiri sesuai panduan yang diberikan World Health Organization (WHO) untuk produksi skala kecil.

Panduan teknis pembuatan handrub yang di rilis badan kesehatan dunia ini dibagi menjadi 2 bagian, yakni

Bagian A memberikan panduan praktis untuk digunakan di ahli farmasi selama persiapan yang sebenarnya
formulasi. Pengguna mungkin ingin ditampilkan bahan di dinding unit produksi.

Bagian B merangkum beberapa informasi teknis latar belakang yang penting dan diambil dari Pedoman WHO tentang Kebersihan Tangan dalam Perawatan Kesehatan (2009). Di dalam Bagian B pengguna memiliki akses ke informasi keselamatan dan biaya yang penting dan bahan pelengkap yang berkaitan dengan pembuatan dan distribusi.

Ada 2 formula yang diperkenalkan, untuk formula pertama menggunakan Ethanol 96% , Hydrogen peroxide 3%, Glycerol 98%, air suling steril atau air mendidih.

Formula kedua Isopropyl alcohol 99.8%, Hydrogen peroxide 3%, Glycerol 98%, air suling steril atau air mendidih.

Gliserol: digunakan sebagai humektan, tetapi emolien lain dapat digunakan untuk perawatan kulit, asalkan harganya murah, tersedia secara luas dan larut dalam air dan alkohol dan tidak menambah toksisitas, atau meningkatkan alergi.

Hidrogen peroksida: digunakan untuk menonaktifkan spora bakteri yang terkontaminasi dalam larutan dan bukan merupakan zat aktif untuk antisepsis tangan. Zat ini sebetulnya bisa digantikan oleh antibakteri lainnya seperti Benzalkronium Klorida.

Aditif lebih lanjut untuk kedua formulasi harus diberi label yang jelas dan tidak beracun jika tertelan secara tidak sengaja.

Pewarna dapat ditambahkan untuk memungkinkan diferensiasi dari cairan lain, tetapi tidak boleh menambah toksisitas, meningkatkan alergi, atau mengganggu sifat antimikroba. Penambahan parfum atau pewarna tidak dianjurkan karena risiko reaksi alergi.

Sumber :

farmasetika.com

Farmasetika.com (ISSN : 2528-0031) merupakan situs yang berisi informasi farmasi terkini berbasis ilmiah dan praktis dalam bentuk Majalah Farmasetika. Di situs ini merupakan edisi majalah populer. Sign Up untuk bergabung di komunitas farmasetika.com. Download aplikasi Android Majalah Farmasetika, Caping, atau Baca di smartphone, Ikuti twitter, instagram dan facebook kami. Terimakasih telah ikut bersama memajukan bidang farmasi di Indonesia.

Share
Published by
farmasetika.com

Recent Posts

Pentingnya Stabilitas Obat dalam Pengembangan Obat Copy

Majalah Farmasetika - Stabilitas merupakan salah satu parameter yang sangat penting dalam pengembangan obat karena…

2 hari ago

Analisis Kesesuaian Penyimpanan Cold Chain Product (CCP) di Salah Satu Pedagang Besar Farmasi

Majalah Farmasetika - Pedagang Besar Farmasi (PBF) memiliki peran yang sangat penting dalam menangani produk…

3 hari ago

Pengembangan Obat RLS-0071 oleh ReAlta: Potensi Terapi Baru untuk aGVHD

Majalah Farmasetika - Obat ini saat ini sedang menjalani uji klinis fase 2 untuk pasien…

7 hari ago

Capivasertib, Golongan AKT inhibitor Pertama sebagai Terapi Kanker Payudara Stadium Lanjut HR-positif

Majalah Farmasetika - Kanker payudara merupakan salah satu kanker dengan angka kejadian tertinggi dan angka…

1 minggu ago

Klasifikasi Apotek dalam KBLI 2025 Jadi Perhatian Farmasis Indonesia Bersatu

Majalah Farmasetika - Farmasis Indonesia Bersatu (FIB) menyampaikan dokumen masukan kebijakan (policy brief) kepada Presiden…

1 minggu ago

Yorvipath, Terapi Hipoparatiroidisme Pertama dan Satu-satunya yang Disetujui FDA

Majalah Farmasetika - Food and Drugs Administration USA (FDA) atau badan pengawas makanan dan obat-obatan…

1 minggu ago