Edukasi

Hidroksiklorokuin, Lebih Aman dari Klorokuin dan Efektif Hambat Infeksi COVID-19

Farmasetika.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mempersiapkan dua obat untuk terapi COVID-19 di Indonesia. Selain Avigan yang berisi favipiravir, pemerintah juga menyiapkan klorokuin (chloroquine). Obat keras yang sebelumnya digunakan sebagai anti malaria dan memiliki efek samping yang perlu diperhatikan.

Penelitian terbaru yang diterbitkan di nature, Cell Discovery,  18 Maret 2020, yang berjudul “Hydroxychloroquine, a less toxic derivative of chloroquine, is effective in inhibiting SARS-CoV-2 infection in vitro” menjelaskan bahwa Hydroxychloroquine/hidroklorokuin yang merupakan turunan klorokuin dengan toksisitas lebih rendah efektif terhadap infeksi SARS-CoV-2 tetapi tidak ada perbedaan signifikan dengan klorokuin.

Toksisitas hidroksiklorokuin lebih rendah dibanding klorokuin

Selain itu, menurut penelitian tahun 1985,  frekuensi toksisitas retina pada pasien yang menerima klorokuin atau hidroksiklorokuin dan faktor-faktor yang dapat memprediksi kerentanan pasien terhadap toksisitas. Frekuensi keseluruhan retinopati adalah 6% (7 dari 110 pasien).

Dari 31 pasien yang menerima klorokuin saja, 6 mengembangkan toksisitas (19%). Sebaliknya, dari 66 pasien yang menerima hidroksiklorokuin, tidak ada yang mengembangkan retinopati. Retinopati dikaitkan dengan usia yang lebih besar dan dengan dosis chloroquine yang lebih besar. Dengan demikian, hidroksiklorokuin dapat digunakan dengan aman dengan risiko toksisitas minimal.

Apa itu hidroksiklorokuin?

Hidroksiklorokuin sulfat, turunan dari klorokuin, pertama kali disintesis pada tahun 1946 dengan memasukkan gugus hidroksil ke dalam klorokuin dan terbukti jauh lebih sedikit (~ 40%) beracun daripada klorokuin pada hewan. Lebih penting lagi, hidroksiklorokuin masih banyak tersedia untuk mengobati penyakit autoimun, seperti systemic lupus erythematosus dan rheumatoid arthritis.

Karena klorokuin dan hidroksiklorokuin memiliki struktur dan mekanisme kimia yang sama yang bertindak sebagai basa dan imunomodulator yang lemah, mudah untuk memunculkan gagasan bahwa hidroksiklorokuin mungkin merupakan kandidat kuat untuk mengobati infeksi oleh SARS-CoV-2.

Sebenarnya, pada 23 Februari 2020, tujuh pendaftar uji klinis ditemukan di Chinese Clinical Trial Registry (http://www.chictr.org.cn) karena menggunakan hidroklorokuin untuk mengobati COVID-19.

Hidroksiklorokuin efektif hambat infeksi SARS-CoV-2

Penulis utama, Ja Liu dari State Key Laboratory of Virology, Wuhan Institute of Virology, Center for Biosafety Mega-Science, mengevaluasi efek antivirus hidroksiklorokuin terhadap infeksi SARS-CoV-2 dibandingkan dengan klorokuin in vitro. Pertama, sitotoksisitas hidroksiklorokuin dan klorokuin dalam sel VeroE6 ginjal monyet hijau Afrika (ATCC-1586) diukur dengan uji CCK8 standar, dan hasilnya menunjukkan bahwa nilai konsentrasi sitotoksik (CC50) 50% dari klorokuin dan hidroklorokuin adalah 273.20 dan 249.50 μM , tidak berbeda secara signifikan satu sama lain

Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa aktivitas hidroksiklorokuin anti-SARS-CoV-2 tampaknya kurang kuat dibandingkan dengan klorokuin tetapi tidak berbeda signifikan. Perlu diingat hidroksiklorokuin memiliki toksisitas yang lebih rendang dibanding klorokuin.

Sumber ;

Comparison of Hydroxychloroquine and Chloroquine Use and the Development of Retinal Toxicity. J Rhematol.12 (4), 692-4. 

Hydroxychloroquine, a less toxic derivative of chloroquine, is effective in inhibiting SARS-CoV-2 infection in vitro. Cell Discovery. volume 6, Article number: 16 (2020)

farmasetika.com

Farmasetika.com (ISSN : 2528-0031) merupakan situs yang berisi informasi farmasi terkini berbasis ilmiah dan praktis dalam bentuk Majalah Farmasetika. Di situs ini merupakan edisi majalah populer. Sign Up untuk bergabung di komunitas farmasetika.com. Download aplikasi Android Majalah Farmasetika, Caping, atau Baca di smartphone, Ikuti twitter, instagram dan facebook kami. Terimakasih telah ikut bersama memajukan bidang farmasi di Indonesia.

Share
Published by
farmasetika.com

Recent Posts

VELSIPITY, Obat Baru Terapi Radang Usus Besar Mengandung ETRASIMOD

Majalah Farmasetika - FDA melakukan penerimaan terhadap Velsipity dengan Active Pharmaceutical Ingredients Etrasimod sebagai terapi…

1 hari ago

EXXUA, Obat Baru Terapi Gangguan Depresi Mayor Mengandung Giperone

Majalah Farmasetika - FDA telah memberikan persetujuan terhadap tablet oral extended release dari Fabre-Kramer Pharmaceuticals…

2 hari ago

EXBLIFEP® Kombinasi Antibiotik Baru Terapi Infeksi Saluran Kemih dengan Komplikasi

Majalah Farmasetika - Badan Pengawas Obat dan Makanan USA-FDA pada tanggal 29 Februari 2024 telah…

6 hari ago

Salah Kaprah Nomenklatur D3 Apoteker dan Risiko Reduksi Profesi Kesehatan

Majalah Farmasetika - Kekeliruan nomenklatur “D3 Apoteker” tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari irisan…

1 minggu ago

Konsep Aplikasi RME-APOTEK Komunitas: Transformasi Praktik Kefarmasian Menuju Pelayanan Klinis Terintegrasi

Majalah Farmasetika - apt. Sudarsono, M.Sc (Clin.Pharm) membuat catatan dalam bentuk e-book terkait Konsep Dasar…

2 minggu ago

TRYVIO™, Obat Hipertensi Resisten Golongan Antagonis Reseptor Endotelin Pertama yang disetujui oleh FDA

Majalah Farmasetika - Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik/diastolik melebihi…

2 minggu ago