Opini

Perubahan Strategi Dari Lockdown ke Herd Immunity: Model Indonesia

Majalah Farmasetika – MIT Technology Review menerbitkan artikel menyatakan pada dasarnya ada 3 cara untuk menghentikan pandemi Covid19 untuk selamanya.

Pertama: melibatkan pembatasan pada pergerakan manusia. Variasinya mulai pembatasan ringan, sampai terberat yang dikenal lockdown. Tujuannya untuk menghentikan transmisi virus sepenuhnya. Namun, ini sulit mengingat pandemi telah berjangkit di 178 Negara dan di Indonesia sudah menyebar di 34 provinsi dan 154 kabupaten/kota.

Kedua: penggunaan vaksin. Tujuannya melindungi semua orang. Tetapi vaksin Covid-19 masih perlu dikembangkan dan tampaknya tidak tersedia cukup dalam waktu dekat.

Ketiga: herd immunity. Tujuannya membiarkan orang tertular sampai mendapatkan kekebalan virus. Jika virus terus menyebar, pada akhirnya banyak orang yang akan terinfeksi dan jika mereka bertahan hidup maka menjadi kebal sehingga wabah akan hilang dengan sendirinya, karena kuman menemukan semakin sulit untuk menemukan inang yang rentan.

Kasus Indonesia

Strategi lockdown model Indonesia yang disebut PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dinilai kurang berhasil dilakukan di Indonesia maka strategi akan dialihkan ke arah herd immunity. Setelah Idul Fitri Pemerintah bisa jadi tidak lagi meng-update jumlah yang tekena Covid-19. Per 23 Mei 2020 ini yang terdeteksi sudah 22 ribu lebih, ditambah yang PDP, ODP, dan OTG sudah mencapai 500 ribuan orang.

Kemungkinan dalam waktu dekat akan diberlakukan herd immunity, artinya menyerahkan rakyat pada seleksi alam, yang kuat bertahan kemudian immun, yang lemah akan wafat dengan sendirinya.

Herd Immunity Menjadi Pilihan Terakhir

Dari berbagai sumber herd immunity mengacu pada situasi dimana cukup banyak orang dalam satu populasi yang memiliki kekebalan terhadap infeksi sehingga dapat secara efektif menghentikan penyebaran penyakit tersebut.

Sambil menunggu vaksin, yang tidak mungkin dalam waktu dekat karena paling cepat 1 tahun. Maka pilihan terakhir adalah menerapkan strategi herd immunity dengan cara menginfeksi penduduk secara langsung, yaitu dengan membiarkan sampai 70% populasi terinfeksi Covid19 sehingga akan mendapatkan kekebalan antibodi secara alami.

Dari kemungkinan infeksi ini hanya 2 hal yang akan terjadi, yaitu: (1) individu akan bertahan hidup, kebal terhadap penyakit; atau (2) individu akan wafat karena tidak kuat.

Herd immunity yang pelan-pelan akan dilakukan -meski nantinya tidak akan dibilang herd immunity secara langsung- tapi kita akan mulai merasakannya. Ketika itu yang sadar paham betul arahnya herd immunity, yang tidak sadar akan mengira Covid-19 sudah selesai padahal masih membara.

Herd Immunity Model Indonesia

Perlahan strategi herd immunity sudah menerap di beberapa wilayah di Indonesia. Pertokoan, area pasar, transportasi dibuka walau dengan protokol kebersihan dan kesehatan yang tinggi. Lalu perlahan sekolah mulai dibuka. Perlahan perkantoran dan aktivitas massal mulai diperbolehkan aktif kembali.

Herd immunity mempunyai dampak negatif dan positif. Dampak negatifnya: (1) akan kehilangan penduduk lebih dari separuh populasi; (2) hal menyebabkan kematian massal; (3) sehingga akibatnya rumah sakit dan fasilitas kesehatan akan super kewalahan.

Dampak positifnya: (1) pandemi akan cepat berakhir; (2) situasi melahirkan terbentuknya individu baru yang lebih kebal, beradaptasi dengan penyakit baru; dan (3) perkembangan perekonomian tidak terhambat.

Sehingga akan muncul individu “baru” yang kuat, dengan gaya hidup yang bagus, berdaya tahan tubuh yang baik, maka akan kebal dengan penyakit Covid19 ini. Sebaliknya, individu yang tidak punya sistem kekebalan tubuh baik dengan faktor resiko penyakit penyerta (komorbid) maka akan tereliminasi alias wafat.

Bertahan di Masa Herd Immunity

Terdapat beberapa cara agar bisa bertahan menjadi individu “baru” selama herd immunity.

Pertama: PERUBAHAN GAYA HIDUP. Individu memulai perhatian besar pada kebersihan, membiasakan berolahraga, mengkonsumsi makan makanan dan minuman sehat, dan mulai rajin mengasup vitamin.

Kedua: HIDUP SEHAT. Individu harus mengubah lingkungan hidup menjadi lebih sehat. Pembiasaan pemakaian masker, menghindari kerumunan, sering mencuci tangan memakai sabun atau hand sanitizer, dan juga menjaga lingkungan lebih higienis.

Akhirnya, perlahan manusia Indonesia akan berevolusi menjadi manusia “baru” yang berhasil mengalami seleksi alam menjadi lebih adaptif.

Sumber:

  1. Hellosehat: https://hellosehat.com/coronavirus/covid19/apa-itu-herd-immunity/
  2. Tempo: https://dunia.tempo.co/read/1345310/swedia-terapkan-herd-immunity-virus-corona-bagaimana-hasilnya/full?view=ok
  3. Detik.com https://m.detik.com/news/berita-jawa-timur/d-5026521/malam-takbiran-pasar-di-surabaya-ramai-pembeli-yang-abai-dan-tak-bermasker

Penulis : Randy R. Wrihatnolo
(Tulisan sepenuhnya merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak membawa nama dan/atau mencerminkan pandangan institusi manapun)

farmasetika.com

Farmasetika.com (ISSN : 2528-0031) merupakan situs yang berisi informasi farmasi terkini berbasis ilmiah dan praktis dalam bentuk Majalah Farmasetika. Di situs ini merupakan edisi majalah populer. Sign Up untuk bergabung di komunitas farmasetika.com. Download aplikasi Android Majalah Farmasetika, Caping, atau Baca di smartphone, Ikuti twitter, instagram dan facebook kami. Terimakasih telah ikut bersama memajukan bidang farmasi di Indonesia.

Share
Published by
farmasetika.com

Recent Posts

VELSIPITY, Obat Baru Terapi Radang Usus Besar Mengandung ETRASIMOD

Majalah Farmasetika - FDA melakukan penerimaan terhadap Velsipity dengan Active Pharmaceutical Ingredients Etrasimod sebagai terapi…

2 hari ago

EXXUA, Obat Baru Terapi Gangguan Depresi Mayor Mengandung Giperone

Majalah Farmasetika - FDA telah memberikan persetujuan terhadap tablet oral extended release dari Fabre-Kramer Pharmaceuticals…

3 hari ago

EXBLIFEP® Kombinasi Antibiotik Baru Terapi Infeksi Saluran Kemih dengan Komplikasi

Majalah Farmasetika - Badan Pengawas Obat dan Makanan USA-FDA pada tanggal 29 Februari 2024 telah…

7 hari ago

Salah Kaprah Nomenklatur D3 Apoteker dan Risiko Reduksi Profesi Kesehatan

Majalah Farmasetika - Kekeliruan nomenklatur “D3 Apoteker” tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari irisan…

1 minggu ago

Konsep Aplikasi RME-APOTEK Komunitas: Transformasi Praktik Kefarmasian Menuju Pelayanan Klinis Terintegrasi

Majalah Farmasetika - apt. Sudarsono, M.Sc (Clin.Pharm) membuat catatan dalam bentuk e-book terkait Konsep Dasar…

2 minggu ago

TRYVIO™, Obat Hipertensi Resisten Golongan Antagonis Reseptor Endotelin Pertama yang disetujui oleh FDA

Majalah Farmasetika - Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik/diastolik melebihi…

2 minggu ago