Formulasi

Mengenal Chemical Enhancer pada Formulasi Sediaan Transdermal

Majalah Farmasetika – Pengobatan topikal berarti perlakuan obat terhadap kulit yang bersifat local atau tidak bertujuan untuk menghantarkan obat menuju sirkulasi darah. Penghantaran obat secara transdermal diartikan sebagai sebuah situasi dimana obat akan berdifusi melewati lapisan-lapisan kulit yang berbeda menuju sirkulasi sistemik untuk meinmbulkan respon terapetik, contohnya pada penanganan hipertensi menggunakan transdermal clonidine patch.

Sistem penghantaran obat secara transdermal seringkali disebut sebaga patch. Perbedaan antara sediaan topikal dan sediaan transdermal ini karena pada sediaan transdermal digunakan eksipien khusus yaitu enhancer (zat peningkat penetrasi) yang membantu penetrasi zat aktif melewati lapisan lapisan kulit. Jenis Enhancer yang paling umum digunakan adalah chemical enhancer karena daya penetrasinya yang baik.

Apa saja chemical enhancer yang dapat digunakan dan mekanismenya bagaimana serta yang bagaimana cara memilih enhancer yang sesuai?

Air (Water)

Merupakan enhancer yang paling aman dan umum untuk obat dan kosmetik. Mekanismenya dengan meningkatkan kelembaban inter dan intraselular, ketika bagian subkutan terhidrasi, bagian protein mengambil air kemudian susunan protein pada daerah tersebut terganggu dan air mulai mengganggu ikatan hidrogen antar protein sehingga interaksinya menjadi melemah dan memungkinkan molekul obat berpenetrasi melewatinya.

Etanol

Etanol bekerja dengan mengganggu susunan stratum korneum untuk meningkatkan kemampuan menembusnya zat bersifat lipid. Pada konsentrasi rendah, etanol menggantikn ikatan air pada head group dan mengganggu permukaan area lipid-polar sehingga memperluas area penyerapan. Pada konsentrasi rendah, etanol mengektrasi lipid dan protein dari lapisan subkutan, membuat lapisan subkutan dapat dilewati molekul obat.

Surfaktan

Surfaktan seperti Tween, Sodium Lauryl Sulphate, dan lainnya masuk kedalam formulasi untuk membantu melarutkan zat aktif (lipofil atau hidrofil) dan membantu penetrasi dengan melarutkan bagian lipid stratum korneum (bagian hidrofob) dan sehingga obat yang sifat kepolarannya lebih tinggi dapat melewati kulit.

IPM (Isopropil Miristat)

Beberapa mekanisme yang diketahui antara lain :

  • Mempengaruhi fluiditasi dan kerapatan lemak lamellae
  • Memasuki area lipofilik membrane kemudian mengaitkan gugus isoprofilnya pada area polar dan meningkatkan interaksi dengan bagian lipid
  • Menyebabkan fase segregasi dan terekstraknya lipid dari subkutan

Amida (Azone)

Memiliki 7 grup kepala polar yang tersambung dengan 12 rantai karbon, sehingga mengurangi resisten difusi obat meuju subkutan, dapat digunakan intuk meningkatkan permease dari obat hidrofilik, lipofilik, dan beberapa peptide.

Urea

Sebagai agen pembasah (hidrasi) untuk membantu penetrasi pada kondisi kulit keratotik seperti psoriasis, ichthyosis, dan lainnya. Peningkatan penetrasi berkaitan dengan peningkatan aktivitas keratolitik dari stratum korneum.

Simpulan

Perbedaan antara sediaan topikal dan transdermal adalah pada enhancer yang digunakan untuk berpentrasi pada kulit. Chemical enhancer merupakan yang paling umum digunakan, memliki mekanisme penetrasi yang berbeda-beda, untuk memilih zat enhancer mana yang palng cocok untuk digunakan, diperlukan beberapa pertimbangan antara lain : sifat zat aktif, kondisi kulit target pasien terapi, kecepatan terapi atau kecepatan pelepasan obat

Sumber :

Brown, M.B., Martin, G.P., Jones, S.A., Akomeah, F.K., 2006. Dermal and Transdermal Drug Delivery Systems:Ccurrent and Future Prospects. Drug Deilvery, Vol 13: 175–187.

Bulake, U., Sindhu, D., Nagavendra, K., & Wahid, K. (2017). Liposomal Formulations in Clinical Use:An Update Review. Pharmaceutics, Vol 9(2) : 1-33.

Haque, T., & Md, M. T. (2018). Chemical Enhancer: A Simplistic Way to Modulate Barrier Function of the Stratum Corneum . Adv Pharm Bull, Vol.8(2) : 169-179.

Murthy, S., & H., N. S. (2010). Handbook of Non-Invasive Drug Delivery System. Missisipi: William Andrew Applied Science Pub.

Osborne, D.W., 2008. Review of Changes in Topical Drug Classification. Pharm. Tech, Vol 32 : 66–74.

Wan Muhammad

Share
Published by
Wan Muhammad

Recent Posts

EXXUA, Obat Baru Terapi Gangguan Depresi Mayor Mengandung Giperone

Majalah Farmasetika - FDA telah memberikan persetujuan terhadap tablet oral extended release dari Fabre-Kramer Pharmaceuticals…

1 hari ago

EXBLIFEP® Kombinasi Antibiotik Baru Terapi Infeksi Saluran Kemih dengan Komplikasi

Majalah Farmasetika - Badan Pengawas Obat dan Makanan USA-FDA pada tanggal 29 Februari 2024 telah…

5 hari ago

Salah Kaprah Nomenklatur D3 Apoteker dan Risiko Reduksi Profesi Kesehatan

Majalah Farmasetika - Kekeliruan nomenklatur “D3 Apoteker” tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari irisan…

1 minggu ago

Konsep Aplikasi RME-APOTEK Komunitas: Transformasi Praktik Kefarmasian Menuju Pelayanan Klinis Terintegrasi

Majalah Farmasetika - apt. Sudarsono, M.Sc (Clin.Pharm) membuat catatan dalam bentuk e-book terkait Konsep Dasar…

1 minggu ago

TRYVIO™, Obat Hipertensi Resisten Golongan Antagonis Reseptor Endotelin Pertama yang disetujui oleh FDA

Majalah Farmasetika - Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik/diastolik melebihi…

2 minggu ago

Iqirvo: Langkah Maju dalam Pengobatan Penyakit Autoimun Hati (Primary Biliary Cholangitis)

Majalah Farmasetika - Pada Agustus 2024, dunia medis menyambut Iqirvo, sebuah terapi revolusioner untuk Primary…

4 minggu ago