Berita

Berkumur Dengan Obat Kumur Dapat Memperbaiki Lingkungan Mulut Hingga Menurunkan Risiko Diabetes

Majalah Farmasetika – Berkumur dengan obat kumur dapat meningkatkan kontrol glikemik pada pasien dengan diabetes tipe 2 (T2D), menurut temuan dari sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Scientific Reports. Diabetes dapat meningkatkan risiko periodontitis parah—sebuah penyakit radang menular kronis yang dapat menyebabkan kerugian gigi pada orang dewasa—dan periodontitis dapat memperburuk hiperglikemia dan kontrol glikemik, sehingga penting untuk menemukan perawatan yang mudah diakses untuk penyakit mulut ini.

“Dari berbagai produk perawatan diri yang tersedia, obat kumur adalah salah satu yang paling mudah digunakan bagi mereka yang ingin meningkatkan kebersihan mulut mereka,” tulis para penulis dalam artikel tersebut.

T2D adalah penyakit metabolisme yang disebabkan oleh resistensi insulin atau sekresi insulin yang buruk; pasien dengan T2D cenderung mengalami hiperglikemia kronis, yang dapat menyebabkan komplikasi lain. Sejumlah besar pasien dengan T2D mengalami periodontitis karena mereka memiliki lebih banyak mediator pro-inflamasi (interleukin-1b, faktor nekrosis tumor, interleukin-6, dan stres oksidatif).

Spesies kompleks merah adalah jenis utama spesies bakteri periodontopatik yang terkait dengan progresi periodontitis. Penelitian sebelumnya juga menghubungkan peningkatan spesies kompleks merah dengan kontrol glikemik yang buruk, tetapi obat kumur telah terbukti memiliki efek antimikroba pada bakteri ini. Obat kumur mengandung klorheksidin glukonat, yang menyebabkan spesies kompleks merah lepas dari biofilm di mulut. Namun, penelitian tentang peran obat kumur dalam jumlah spesies kompleks merah dan Hb1Ac, indikator kontrol glikemik, masih sedikit.

Para peneliti melakukan studi untuk menganalisis perubahan jumlah spesies kompleks merah dan tingkat HbA1c setelah mengikuti rezim berkumur dengan air atau obat kumur (berbasis klorheksidin glukonat) selama 6 bulan. Mereka mengukur DNA bakteri dan HbA1c dengan sampel air liur dan darah, secara berurutan.

Berkumur dengan obat kumur 2 kali sehari lebih efektif daripada air dalam mencegah pertumbuhan bakteri spesies kompleks merah yang dapat menyebabkan penyakit periodontal. Namun, obat kumur perlu mengandung klorheksidin glukonat untuk mendapatkan manfaat antimikroba ini, tulis para penulis.

Obat kumur juga lebih efektif daripada air dalam mengurangi bakteri ini, meskipun tidak ada agen yang signifikan memengaruhi HbA1c. Selain itu, pasien yang berusia 68 tahun ke bawah memiliki tingkat spesies kompleks merah yang lebih rendah setelah berkumur dengan obat kumur dibandingkan dengan pasien yang berusia 69 tahun ke atas.

Pasien yang lebih muda juga mengalami penurunan signifikan dalam tingkat HbA1c dibandingkan dengan pasien yang lebih tua, menunjukkan bahwa obat kumur adalah strategi yang efektif untuk memperbaiki lingkungan mulut dan mencegah peradangan yang terkait dengan T2D dan usia.

Terdapat juga perbedaan hasil yang bersifat spesifik jenis kelamin. Obat kumur lebih efektif dalam mengurangi spesies kompleks merah pada pria, tetapi berkumur dengan air atau obat kumur tidak lebih efektif dalam mengurangi HbA1c dibandingkan dengan wanita.

Ada keterbatasan pada penelitian ini. Para peneliti tidak melakukan semi-kwantifikasi bakteri. Selain itu, data hanya dikumpulkan di klinik kedokteran internal, tidak ada lingkungan mulut yang distandarisasi sebelum pengambilan sampel air liur, dan terdapat inkonsistensi dalam respons partisipan.

Upaya penelitian masa depan harus mempertimbangkan faktor pasien yang berbeda yang dapat memengaruhi efektivitas berkumur dengan obat kumur terhadap spesies kompleks merah dan tingkat HbA1c pada populasi pasien ini.

“Temuan ini menunjukkan bahwa berkumur dengan obat kumur mengurangi jumlah spesies kompleks merah dan meningkatkan status hiperglikemik pada pasien dengan T2DM, khususnya pada pasien yang lebih muda,” tulis para penulis.

Referensi

Matayoshi S, Tojo F, Suehiro Y, et al. Effects of mouthwash on periodontal pathogens and glycemic control in patients with type 2 diabetes mellitus. Sci Rep 14, 2777 (2024). Doi: 10.1038/s41598-024-53213-x

jamil mustofa

Share
Published by
jamil mustofa

Recent Posts

VELSIPITY, Obat Baru Terapi Radang Usus Besar Mengandung ETRASIMOD

Majalah Farmasetika - FDA melakukan penerimaan terhadap Velsipity dengan Active Pharmaceutical Ingredients Etrasimod sebagai terapi…

5 jam ago

EXXUA, Obat Baru Terapi Gangguan Depresi Mayor Mengandung Giperone

Majalah Farmasetika - FDA telah memberikan persetujuan terhadap tablet oral extended release dari Fabre-Kramer Pharmaceuticals…

2 hari ago

EXBLIFEP® Kombinasi Antibiotik Baru Terapi Infeksi Saluran Kemih dengan Komplikasi

Majalah Farmasetika - Badan Pengawas Obat dan Makanan USA-FDA pada tanggal 29 Februari 2024 telah…

5 hari ago

Salah Kaprah Nomenklatur D3 Apoteker dan Risiko Reduksi Profesi Kesehatan

Majalah Farmasetika - Kekeliruan nomenklatur “D3 Apoteker” tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari irisan…

1 minggu ago

Konsep Aplikasi RME-APOTEK Komunitas: Transformasi Praktik Kefarmasian Menuju Pelayanan Klinis Terintegrasi

Majalah Farmasetika - apt. Sudarsono, M.Sc (Clin.Pharm) membuat catatan dalam bentuk e-book terkait Konsep Dasar…

2 minggu ago

TRYVIO™, Obat Hipertensi Resisten Golongan Antagonis Reseptor Endotelin Pertama yang disetujui oleh FDA

Majalah Farmasetika - Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik/diastolik melebihi…

2 minggu ago