Produksi

Tablet Coating : Tak Sekadar Estetika, Namun Penjaga Stabilitas Juga

Majalah Farmasetika – Pada industri farmasi, serangkaian proses pembuatan obat dilakukan dengan tetap memperhatikan mutu akhir produk. Terdapat berbagai bentuk sediaan obat, salah satunya yaitu tablet sebagai sediaan padat yang mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Formulasi tablet yang digunakan sebagai bahan tambahan untuk mencapai bentuk sediaan yang memiliki sifat fisika kimia sesuai dengan spesifikasi disebut dengan bahan eksipien. Tiap kali mengonsumsi tablet, jarang terpikir bahwa dibalik lapisan permukaannya tersimpan fungsi yang begitu vital. Salah satu bahan eksipien dengan tahapan krusial yang perlu mendapat perhatian adalah coating agent atau sering dikenal sebagai proses penyalutan (coating tablet).

Pendahuluan

Berbagai rute pemberian obat memiliki peran dalam menentukan hasil terapi, dengan masing-masing rute memengaruhi penyerapan serta distribusi obat di dalam tubuh yang berbeda-beda. Salah satu yang paling dikenal oleh sebagian masyarakat adalah rute pemberian obat secara oral dan sediaan farmasi yang dimaksud yakni dalam bentuk tablet. Hal ini disebabkan tablet memiliki berbagai keuntungan, baik dalam hal penggunaannya yang mudah, pemberian dosis yang lebih tepat, stabil dalam penyimpanannya, lalu praktis secara kemasan. Tablet merupakan bentuk sediaan padat yang mengandung zat aktif dan zat tambahan atau eksipien. Zat aktif adalah bagian dari obat yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan efek terapeutik atau farmakologis. Sedangkan, zat tambahan atau eksipien pada proses pembuatan tablet bertujuan untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan memenuhi standar sediaan yang ditetapkan.

Berbagai bahan eksipien dapat ditambahkan pada formulasi pembuatan tablet sesuai fungsi atau kegunaan yang dibutuhkan, sehingga suatu produk dapat memenuhi persyaratan tertentu sebagai contoh yang sudah tertera pada Catatan Pengolahan Batch (CPB). Bahan eksipien yang digunakan dapat berupa pengisi (filler), pengikat (binder), penghancur (disintegrant), pelicin (glidant), pelincir (lubricant), agen pendapar (buffer), pemanis (sweetening agent), dan coating agent. Salah satu bahan eksipien yang melindungi zat aktif dengan cara melapisi bahkan dapat meningkatkan stabilitas yakni coating agent. Penyalutan tablet dapat dilakukan dengan tujuan tertentu misalnya pada kebutuhan estetika untuk memperbaiki penampilan, melindungi zat aktif dari kelembapan atau cahaya, menutupi rasa dan bau yang tidak sedap, hingga memperbaiki stabilitas obat. Oleh karena itu, tiap tahapan formulasi termasuk pada proses penyalutan tablet bukan sekadar sebagai proses teknis, melainkan juga upaya terintegrasi pencapaian hasil akhir yang optimal sehingga dapat menghasilkan produk yang bermutu, aman, serta berkhasiat.

Coating Tablet Terhadap Stabilitas Obat

          Penyalutan tablet merupakan cara untuk mencapai stabilitas. Stabilitas sediaan farmasi mengacu pada kemampuan suatu produk untuk mempertahankan sifat dan karakteristik fisika kimia yang dimilikinya selama produksi (identitas, kekuatan, kualitas, dan kemurnian) dalam batas tertentu selama periode penyimpanan dan penggunaan. Suatu obat bisa dikatakan stabil apabila kadarnya tidak berkurang dalam penyimpanan. Namun, jika obat berubah dari segi warna, bau, dan bentuk serta terdapat cemaran mikroba maka dapat disimpulkan bahwa obat tersebut tidak stabil. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas suatu sediaan yakni sebagai berikut:

  1. Faktor Obat

Sebagai contoh: pH sediaan, ukuran partikel obat, serta sifat fisika kimia dari bahan yang digunakan.

  1. Faktor Lingkungan

Sebagai contoh: cahaya, suhu, serta kelembapan.

Coating tablet bukan hanya berperan dalam pelepasan di tempat tertentu (misalnya pada usus), melainkan juga meningkatkan stabilitas suatu sediaan farmasi terhadap faktor suhu. Sebagai contoh, perbandingan antara zat aktif yang diformulasikan dalam bentuk tablet biasa dengan sediaan tablet yang mengandung bahan pelapis cellulose acetate phthalate. Tablet yang disalut oleh bahan pelapis tersebut dinamakan tablet salut enterik. Selain ketika dikonsumsi tablet salut enterik tidak terdegradasi oleh asam lambung, tetapi juga dapat mencegah degradasi zat aktif tersebut oleh pengaruh suhu dan penyimpanan. Penurunan kadar lebih kecil terjadi pada sediaan tablet yang sudah mengalami proses penyalutan, hal ini menunjukkan coating tablet dapat memperlambat laju degradasi obat.

Tak hanya itu, coating tablet juga dapat meningkatkan stabilitas pada bahan yang mudah menyerap air. Sifat higroskopis ini dapat menyebabkan kerusakan tablet melalui proses hidrolisis dan loss in potency pada zat aktif yang terkandung. Dengan menggunakan sebagai contoh bahan pelapis HPMC, maka dapat menekan penyerapan kelembapan pada tablet tersebut.  

Jenis Tablet Salut

Terdapat beberapa jenis penyalutan untuk sediaan farmasi berupa tablet yakni sebagai berikut:

  1. Tablet Salut Enterik

Tablet yang disalut dengan suatu zat yang tahan terhadap cairan lambung, reaksi asam, tetapi terlarut dalam usus halus yang pelepasan zat aktifnya terkendali pada waktu tertentu.

Sebagai contoh: cellulose acetate phthalate, polyvinyl acetate phtalate.

  1. Tablet Salut Film

Tablet yang disalut dengan salut tipis, berwarna atau tidak dari bahan polimer yang larut dalam air yang hancur cepat di dalam saluran cerna. penyalutan tidak perlu berulang.

Sebagai contoh: hidroksipropilmetilselulosa, etil selulosa, metil selulosa.

  1. Tablet Salut Gula

Tablet yang disalut dengan beberapa lapisan gula baik berwarna maupun tidak. untuk melindungi zat aktif terhadap lingkungan udara (O2 dan kelembapan), menutup rasa, bau tidak enak, dan menaikkan penampilan tablet.

Sebagai contoh: sukrosa, laktosa.

Sub Coating dan Top Coating

Pemilihan bahan untuk proses penyalutan perlu disesuaikan dengan tujuan dari coating tablet tersebut. Ada pula tablet yang mendapatkan proses penyalutan melalui dua tahapan dengan maksud dan tujuan tertentu, yakni Sub Coating dan Top Coating. Sub coating berperan sebagai pelapisan dasar yang bertujuan untuk membulatkan tepi tablet dan menutup sudut-sudut kritis pada tablet inti serta meningkatkan berat tablet agar memenuhi persyaratan pada Catatan Pengolahan Batch (CPB). Sedangkan Top coating sebagai lapisan terluar atau lapisan akhir yang diaplikasikan di atas sub coating, memiliki fungsi yang lebih spesifik seperti melindungi obat dari kelembapan sehingga dapat menjaga stabilitas sediaan, menutupi rasa dan bau yang tidak enak, ataupun mengontrol pelepasan tablet.

Walaupun dirancang untuk melindungi zat aktif pada sediaan tablet, coating agent harus tetap memiliki kemampuan untuk hancur pada jangka waktu tertentu. Untuk tablet salut gula umumnya harus hancur dalam waktu tidak lebih dari 30 menit. Sedangkan, untuk tablet salut enterik tidak boleh hancur dalam waktu 60 menit dan segera hancur pada medium basa. Maka dari itu, perlunya pertimbangan dalam pemilihan bahan penyalut sesuai dengan tujuan penyalutan.

Kesimpulan

Coating tablet berperan dalam meningkatkan mutu suatu produk dengan menjaga atau meningkatkan stabilitas. Berbagai maksud dan tujuan dari coating tablet tergantung pada kebutuhan penggunaan, namun tetap peran utamanya yakni untuk melindungi ataupun memperlambat laju degradasi obat. Dengan demikian, perlunya pertimbangan dalam pemilihan coating agent disesuaikan dengan tujuan coating tablet sehingga stabilitas produk dapat tercapai secara optimal.    

Referensi

Anwar dan Effionora. 2012. Eksipien dalam Sediaan Farmasi. Jakarta: Dian Rakyat

Nurjanah, F., Sriwidodo, S., dan Nurhadi, B. 2021. Stabilitas Tablet yang Mengandung Zat Aktif Bersifat Higroskopis. Majalah Farmasetika. Vol. 6 (1): 10-22.

Shara, A., Triani, R. F., Nurmalasari D. A., Putra, A. I. T. P., Rahmawati, D., dan Wida, D. Z. 2025. Formulasi dan Evaluasi Sediaan Tablet Salut Film. Jurnal Ilmiah Farmasi Akademi Farmasi. Vol. 8 (1): 145-160.

Yuniarsih, N., Valentina, D. P., Kurniawati, I., Mudrikah, S., Amelia, T., Bintang, I., Pranata, F., dan Sukandar, D. 2023. Pengaruh Penyalutan Tablet Terhadap Stabilitas Obat. Innovative: Journal Of Social Science Research. Vol. 3 (2): 1072-1083.

Zaini, A. N., dan Gozali, D. 2016. Pengaruh Suhu Terhadap Stabilitas Obat Sediaan Suspensi. Farmaka. Vol 14 (2): 140-150.

novia vivin safitri

Share
Published by
novia vivin safitri

Recent Posts

EXXUA, Obat Baru Terapi Gangguan Depresi Mayor Mengandung Giperone

Majalah Farmasetika - FDA telah memberikan persetujuan terhadap tablet oral extended release dari Fabre-Kramer Pharmaceuticals…

1 hari ago

EXBLIFEP® Kombinasi Antibiotik Baru Terapi Infeksi Saluran Kemih dengan Komplikasi

Majalah Farmasetika - Badan Pengawas Obat dan Makanan USA-FDA pada tanggal 29 Februari 2024 telah…

5 hari ago

Salah Kaprah Nomenklatur D3 Apoteker dan Risiko Reduksi Profesi Kesehatan

Majalah Farmasetika - Kekeliruan nomenklatur “D3 Apoteker” tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari irisan…

1 minggu ago

Konsep Aplikasi RME-APOTEK Komunitas: Transformasi Praktik Kefarmasian Menuju Pelayanan Klinis Terintegrasi

Majalah Farmasetika - apt. Sudarsono, M.Sc (Clin.Pharm) membuat catatan dalam bentuk e-book terkait Konsep Dasar…

1 minggu ago

TRYVIO™, Obat Hipertensi Resisten Golongan Antagonis Reseptor Endotelin Pertama yang disetujui oleh FDA

Majalah Farmasetika - Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik/diastolik melebihi…

2 minggu ago

Iqirvo: Langkah Maju dalam Pengobatan Penyakit Autoimun Hati (Primary Biliary Cholangitis)

Majalah Farmasetika - Pada Agustus 2024, dunia medis menyambut Iqirvo, sebuah terapi revolusioner untuk Primary…

4 minggu ago