Majalah Farmasetika – Stabilitas merupakan salah satu parameter yang sangat penting dalam pengembangan obat karena dapat menggambarkan kemampuan obat untuk mempertahankan sifat kimianya, kekuatan, dan kualitas sesuai dengan syarat yang telah ditetapkan. Hal yang paling penting dalam stabilitas adalah menjaga efikasi obat dan tidak terjadinya peningkatkan toksisitas selama masa penyimpanan obat. Pengujian stabilitas harus dilakukan untuk obat baru yang masih dalam proses penelitian dan pengembangan agar mendapatkan nomor izin edar serta masa kadaluarsa obat. Masa kadaluarsa yang akan didapatkan pada produk obat tersebut adalah 2n artinya apabila stabilitas obat baru dilakukan selama 12 bulan maka, akan mendapatkan masa kadaluarsa 2×12 bulan. Pengujian stabilitas harus tetap dilakukan meskipun sudah mendapatkan surat izin edar hingga lima tahun dimasa mendatang.
Pendahuluan
Stabilitas merupakan salah satu parameter yang sangat penting dalam pengembangan obat karena dapat menggambarkan kemampuan obat untuk mempertahankan sifat kimianya, kekuatan. Selain itu, pengujian stabilitas dilakukan untuk mengetahui umur simpan obat yang menggambarkan mutu obat dalam penyimpanan dalam jangka waktu dan kondisi penyimpanan tertentu. Pengujian stabilitas yang dilakukan di Indonesia yaitu zona IV b dengan suhu dan kelembabannya sebesar 30°C ± 2°C RH 75% ± 5%. Pengujian stabilitas terdiri atas beberapa jenis yaitu stabilitas fisika, stabilitas kimia, stabilitas mikrobiologi stabilitas toksikologi, dan stabilitas teraupetik.
Jenis-jenis stabilitas
Stabilitas terdiri atas beberapa jenis, yaitu:
Pengujian stabilitas accelerated-time dan stabilitas real-time:
Pengujian stabilitas terbagi menjadi dua, yaitu :
Obat Copy
Produk obat copy merupakan produk obat yang memiliki ekivalensi teraupetik atau alternatif farmasetik dengan produk obat innovator atau pembandingnya, dapat dipasarkan dengan nama generik atau nama dagang. Di Indonesia pengembangan produk obat didominasi oleh pengembangan produk obat copy. Hal ini dikarenakan waktu atau lamanya pengembangan obat copy lebih singkat bila dibandingkan dengan pengembangan obat baru yang memerlukan waktu lama dalam penelitian dan pengembangan produknya
Penurunan mutu obat
Sediaan obat penting mempertahankan sifat dan karakteristiknya agar tetap sama selama proses pembuatan, penyimpanan hingga digunakan. Namun, kenyataanya obat dapat mengalami degradasi atau penurunan mutu obat yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu, pH, cahaya, eksipien dan pelarut yang digunakan sehingga, pengujian stabilitas sangat penting dilakukan untuk mengetahui mutu obat apabila disimpan pada waktu dan kondisi penyimpan tertentu. Pengujian stabilitas yang dilakukan dapat menjadi acuan estimasi dalam penentuan umur simpan suatu produk obat baru. Penentuan umur simpan pada umumnya menggunakan persamaan Arrhenius yang didasarkan pada laju reaksi dan suhu.
Persamaan Arrhenius dapat menggambarkan umur simpan produk dalam suhu dan kelembaban tertentu. Umur simpan merupakan waktu pada produk farmasi mampu untuk mempertahankan mutu obat agar dapat stabil pada penyimpanan yang sesuai. Persamaan Arrhenius biasanya digunakan dalam metode pengujian stabilitas dipercepat yang dilakukan dengan cara menyimpanan produk obat baru pada kondisi suhu yang ekstrim untuk mendapatkan estimasi umur simpan dari persamaan arrhenius,
Kesimpulan
Produk obat dapat mengalami degradasi sehingga, dapat mempengaruhi mutu suatu obat. Oleh karena itu, pengujian stabilitas penting dilakukan untuk memastikan bahwa produk obat yang sedang dalam proses penelitian dan pengembangan memenuhi syarat mutlak setiap obat yang terdiri atas keamanan, bermutu dan bermanfaat sesuai pada persyaratan yang telah ditetapkan.
Daftar Pustaka
Ansel HC. 2008, Pengantar bentuk sediaan farmasi. Edisi IV, UI Press : Jakarta
Bhangare et al., 2022. Systematic strategies for degradation kinetic study of pharmaceuticals: an issue of utmost importance concerning current stability analysis practices. Journal of analytical science and technology. 13(7): 1-13.
International Council for Harmonization, 2003. Stability testing of new drug substances and products Q1A (R2). ICH
Yoshioka S, Stella VJ. 2000, Physical stability of drug substances, In: Stability of drugs and dosage forms, Springer: Berlin
Majalah Farmasetika - Pedagang Besar Farmasi (PBF) memiliki peran yang sangat penting dalam menangani produk…
Majalah Farmasetika - Obat ini saat ini sedang menjalani uji klinis fase 2 untuk pasien…
Majalah Farmasetika - Kanker payudara merupakan salah satu kanker dengan angka kejadian tertinggi dan angka…
Majalah Farmasetika - Farmasis Indonesia Bersatu (FIB) menyampaikan dokumen masukan kebijakan (policy brief) kepada Presiden…
Majalah Farmasetika - Food and Drugs Administration USA (FDA) atau badan pengawas makanan dan obat-obatan…
Majalah Farmasetika - FDA menyetujui Rezdiffra, agen pertama untuk steatohepatitis non-alkoholik non-sirosis (NASH) dengan fibrosis…