Categories: Edukasi

Apoteker bisa Berperan dalam Aborsi Legal

Farmasetika.com – Aborsi selalu menjadi perhatian bagi kalangan kesehatan. Salah satu metode aborsi adalah dengan pemberian obat, yang tentunya berada pada ranah pelayanan kefarmasian oleh apoteker.

Penelitian yang dilakukan oleh Gunawan Widjadja dari Universitas Tarumanegara mencoba menjawab pertanyaan apakah apoteker dapat melaksanakan aborsi legal.

Data dan fakta terkait aborsi

Aborsi sudah lama menjadi perhatian umat manusia. Aborsi hingga saat ini merupakan salah satu perbuatan dalam bidang kesehatan yang membawa akibat yang buruk, bukan hanya akibat dari kematian bayi yang dikandung, melainkan juga mempengaruhi kesehatan dari ibu yang melakukan aborsi. Tidak ada data yang akurat mengenai tingkat aborsi yang terjadi. Salah satu penelitian yang pernah dilakukan oleh Guttmacher Institute.

Estimasi aborsi berdasarkan penelitian tersebut adalah 37 aborsi untuk setiap 1,000 perempuan usia reproduksi (15-49 tahun) setiap tahunnya1. Dalam Brief Notes yang diterbitkan oleh Lembaga Demografi FEB UI pada bulan Juni tahun 2017 dikatakan bahwa berdasarkan pada Laporan Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia tahun 2012, persentase remaja yang mengetahui praktik aborsi cenderung meningkat dibandingkan tahun 20072.

Aborsi, seringkali dilakukan oleh perempuan yang hamil tanpa mereka sadari dan tahu risiko yang dapat terjadi setelah aborsi dilakukan. Praktik aborsi “gelap” yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki kompetensi makin memperburuk persepsi tentang aborsi yang sudah berkembang dalam masyarakat.

Dari penelusuran terhadap literatur yang ada, sampai saat ini, peneliti belum menemukan adanya tulisan yang secara tegas dan jelas menguraikan aspek regulasi aborsi di Indonesia. Pemahaman mengenai aspek regulasi tentang aborsi menjadi penting karena hal ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang dapat tidaknya aborsi dilaksanakan secara legal di Indonesia, sehingga dapat dilakukan “safe abortion”.

Metode penelitian

Penelitian yang telah dipresentasikan di Pekan Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia (PIT IAI) bulan Maret 2019 lalu menjawab pertanyaan tersebut dengan menggunakan metode penelitian normatif dengan pendekatan kualitatif.

Data yang dicari dan dipergunakan adalah data sekunder yang merupakan bahan hukum primer, yang diterbitkan oleh Negara dan/atau Pemerintah Republik Indonesia dalam bentuk regulasi.

Sedangkan, analisis dilakukan dengan menghubungkan regulasi yang satu dengan yang lainnya untuk mencari tahu makna aborsi legal dan kemungkinan pelaksanaannya di Indonesia dan sejauh mana peran apoteker dalam pelaksanaan aborsi legal tersebut.

Peran apoteker dalam aborsi legal

Hasil penelitian yang telah dipublikasikan di Majalah Farmasetika, Volume 4, Suplemen 1, Desember 2019 menunjukkan bahwa di Indonesia, regulasi memungkinkan terjadinya aborsi legal.

Dalam regulasi tersebut tenaga kesehatan yang dapat melakukan aborsi legal adalah dokter yang sudah mendapatkan pendidikan khusus, dengan demikian berarti apoteker tidak dimungkinkan untuk melaksanakan aborsi legal secara sendiri.

“Jika pelaksanaan aborsi menggunakan obat, maka apoteker dapat berperan dan menjadi bagian dari kegiatan aborsi legal. Oleh karena itu, apoteker tidak dapat melaksanakan aborsi legal, namun dapat membantu proses terjadinya aborsi legal melalui proses dispensing obat.” Tertulis dalam kesimpulan penelitian yang merupakan 1 dari 39 artikel yang telah diterbitkan di edisi khusus PIT IAI 2019 dengan alamat situs :

http://jurnal.unpad.ac.id/farmasetika/issue/view/1389

farmasetika.com

Farmasetika.com (ISSN : 2528-0031) merupakan situs yang berisi informasi farmasi terkini berbasis ilmiah dan praktis dalam bentuk Majalah Farmasetika. Di situs ini merupakan edisi majalah populer. Sign Up untuk bergabung di komunitas farmasetika.com. Download aplikasi Android Majalah Farmasetika, Caping, atau Baca di smartphone, Ikuti twitter, instagram dan facebook kami. Terimakasih telah ikut bersama memajukan bidang farmasi di Indonesia.

Share
Published by
farmasetika.com

Recent Posts

EXXUA, Obat Baru Terapi Gangguan Depresi Mayor Mengandung Giperone

Majalah Farmasetika - FDA telah memberikan persetujuan terhadap tablet oral extended release dari Fabre-Kramer Pharmaceuticals…

1 hari ago

EXBLIFEP® Kombinasi Antibiotik Baru Terapi Infeksi Saluran Kemih dengan Komplikasi

Majalah Farmasetika - Badan Pengawas Obat dan Makanan USA-FDA pada tanggal 29 Februari 2024 telah…

5 hari ago

Salah Kaprah Nomenklatur D3 Apoteker dan Risiko Reduksi Profesi Kesehatan

Majalah Farmasetika - Kekeliruan nomenklatur “D3 Apoteker” tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari irisan…

1 minggu ago

Konsep Aplikasi RME-APOTEK Komunitas: Transformasi Praktik Kefarmasian Menuju Pelayanan Klinis Terintegrasi

Majalah Farmasetika - apt. Sudarsono, M.Sc (Clin.Pharm) membuat catatan dalam bentuk e-book terkait Konsep Dasar…

1 minggu ago

TRYVIO™, Obat Hipertensi Resisten Golongan Antagonis Reseptor Endotelin Pertama yang disetujui oleh FDA

Majalah Farmasetika - Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik/diastolik melebihi…

2 minggu ago

Iqirvo: Langkah Maju dalam Pengobatan Penyakit Autoimun Hati (Primary Biliary Cholangitis)

Majalah Farmasetika - Pada Agustus 2024, dunia medis menyambut Iqirvo, sebuah terapi revolusioner untuk Primary…

4 minggu ago