Farmasetika.com – Enhertu, dengan nama kimia fam-trastuzumab-deruxtecan-nxki, merupakan obat terobosan baru yang ditujukan untuk pasien dengan kanker payudara positif HER2 yang tidak dapat direseksi, metastatik, serta telah menerima dua atau lebih rejimen anti-HER2 sebelumnya.
Kanker payudara yang tidak dapat direseksi berarti kanker tidak dapat diangkat dengan operasi dan kondisi metastatik menunjukkan bahwa kanker telah menyebar ke bagian tubuh yang jauh dari payudara, seperti tulang atau hati.
Enhertu merupakan obat terobosan baru produksi Daiichi Sankyo Incorporated yang telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) pada 20 Desember 2019.
Enhertu merupakan terapi bertarget konjugat antibodi yang terdiri dari tiga bagian, yaitu:
Untuk menjamin keamanan Enhertu, telah dilakukan uji klinik 1 dan 2 dengan 234 pasien kanker payudara positif HER2 metastatik. Uji klinik dilakukan pada 86 daerah di Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan.
Uji klinik dilakukan hingga penyakit berkembang atau efek samping menjadi toksik. Uji ini bertujuan untuk mengukur persentase susutnya kanker dan berapa lama hal tersebut terjadi, serta untuk mengumpulkan data mengenai efek samping Enhertu.
Pada fase 1 59% pasien memberikan respon positif terhadap Enhertu dan pada fase 2 60,9% pasien memberikan respon terhadap Enhertu.
“Meskipun terapi langsung yang diarahkan pada HER2 telah mengarah pada hasil yang lebih baik untuk pasien dengan kanker payudara stadium lanut, resistensi terhadap obat ini hampir tidak terhindarkan,” kata Ian Krop MD, kepala asosiasi onkologi payudara Dana-Farber Cancer Institute, pada sebuah presentasi media tentang penelitian kanker payudara di San Antonio 2019.
Dalam pengaplikasiannya Enhertu diberikan secara intravena, satu kali setiap tiga minggu kecuali jika kanker tetap tumbuh atau efek samping yang tidak biasa muncul. Adapun efek samping yang biasa muncul dalam penggunaan Enhertu adalah mual, muntah, lelah, rambut rontok, sembelit, anemia, jumlah sel darah putih rendah, dan diare.
Dalam studi klinis, efek samping paling parah adalah penyakit paru interstisial, yang merupakan peradangan dan adanya jaringan parut di paru-paru yang dapat mengganggu proses pernapasan.
Enhertu dapat menyebabkan kecacatan bahkan kematian janin, maka dari itu wanita hamil atau yang sedang merencanakan hamil tidak diperbolehkan menggunakan Enhertu.
Sumber:
Daiichi Sankyo. 2020. ENHERTU® Now Available in U.S. for HER2 Positive Unresectable or Metastatic Breast Cancer Following Two or More Prior Anti-HER2-Based Regimens. Tersedia online di https://www.daiichisankyo.com/media_investors/media_relations/press_releases/detail/007092.html. [Diakses tanggal 28 Januari 2020].
FDA. 2019. Drug Trials Snapchot: ENHERTU. Tersedia online di https://www.fda.gov/drugs/drug-approvals-and-databases/drug-trials-snapshot-enhertu. [Diakses tanggal 28 Januari 2020].
Modi, S., et al. 2019. Trastuzumab Deruxtecan in Previously Treated HER2-Positive Breast Cancer. The New England Journal of Medicine.
Majalah Farmasetika - FDA melakukan penerimaan terhadap Velsipity dengan Active Pharmaceutical Ingredients Etrasimod sebagai terapi…
Majalah Farmasetika - FDA telah memberikan persetujuan terhadap tablet oral extended release dari Fabre-Kramer Pharmaceuticals…
Majalah Farmasetika - Badan Pengawas Obat dan Makanan USA-FDA pada tanggal 29 Februari 2024 telah…
Majalah Farmasetika - Kekeliruan nomenklatur “D3 Apoteker” tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari irisan…
Majalah Farmasetika - apt. Sudarsono, M.Sc (Clin.Pharm) membuat catatan dalam bentuk e-book terkait Konsep Dasar…
Majalah Farmasetika - Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik/diastolik melebihi…