Majalah Farmasetika- Respiratory syncytial virus (RSV) merupakan salah satu penyebab utama infeksi saluran pernapasan bawah pada bayi dan anak kecil. Selama beberapa dekade, pilihan terapi pencegahan terbatas pada imunisasi pasif menggunakan palivizumab, yang efektivitasnya masih terbatas dan membutuhkan dosis berulang. Kehadiran antibodi monoklonal baru, Enflonsia™ (clesrovimab-cfor), menjadi inovasi penting dalam bidang farmasi pediatrik. Produk ini menawarkan profil farmakologis yang lebih unggul dengan masa kerja panjang, sehingga mampu memberikan perlindungan sepanjang musim RSV pertama pada bayi.
Respiratory syncytial virus (RSV) merupakan salah satu virus paling penting dalam bidang pediatri, terutama karena menjadi penyebab utama infeksi saluran pernapasan bawah pada bayi dan anak-anak. Berbeda dengan influenza atau SARS-CoV-2, RSV jarang menimbulkan pandemi global, namun setiap tahunnya tetap menyebabkan beban penyakit yang sangat besar. Tantangan dalam penanggulangan RSV muncul karena hingga kini belum ada vaksin aktif yang secara efektif dapat diberikan kepada bayi. RSV merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak usia dini. Setiap tahunnya, lebih dari 30 juta kasus infeksi saluran pernapasan bawah akibat RSV terjadi di dunia, dengan sekitar 3,2 juta kasus membutuhkan rawat inap, dan 60.000 kematian terjadi pada anak di bawah usia lima tahun. Angka ini menjadikan RSV sebagai salah satu penyebab utama rawat inap pada bayi, melampaui penyakit lain seperti influenza pada kelompok usia tersebut. Oleh karena itu, strategi imunisasi pasif menggunakan antibodi monoklonal menjadi fokus utama penelitian dalam dua dekade terakhir.
Di negara beriklim sedang, musim RSV biasanya berlangsung dari akhir musim gugur hingga awal musim semi. Namun, di negara tropis, termasuk Indonesia, sirkulasi RSV dapat terjadi sepanjang tahun, meskipun sering menunjukkan puncak pada musim hujan. Pola ini menyulitkan prediksi epidemiologi serta membuat risiko infeksi pada bayi menjadi lebih tinggi, Palivizumab, antibodi monoklonal pertama yang disetujui untuk pencegahan RSV, memberikan harapan baru saat diperkenalkan pada akhir 1990-an. Meski bermanfaat, penggunaannya terbatas karena harus diberikan setiap bulan selama musim RSV, dengan efektivitas sekitar 45–55% dalam mencegah rawat inap. Namun, keterbatasannya berupa kebutuhan injeksi bulanan, efektivitas sedang, dan biaya tinggi membuat penggunaannya terbatas hanya pada bayi dengan risiko tinggi. Seiring perkembangan bioteknologi, lahirlah generasi antibodi monoklonal dengan waktu paruh lebih panjang, salah satunya clesrovimab yang kini dipasarkan dengan nama dagang Enflonsia™.
Clesrovimab, antibodi monoklonal generasi baru dengan waktu paruh yang diperpanjang, dirancang untuk memberikan perlindungan jangka panjang dengan satu kali dosis. Teknologi rekayasa pada domain Fc memungkinkan antibodi bertahan lebih lama dalam sirkulasi, sehingga proteksi dapat berlangsung sepanjang musim RSV pertama bayi. Hal ini meningkatkan kepatuhan terapi, mengurangi kebutuhan kunjungan medis berulang, dan berpotensi lebih efisien secara ekonomi. Dengan profil farmakologi yang unggul, Enflonsia diharapkan dapat memperluas cakupan pencegahan RSV, tidak hanya pada bayi berisiko tinggi, tetapi juga bayi sehat pada umumnya. Implementasi luas terapi ini dapat berdampak besar dalam menurunkan angka rawat inap, penggunaan ventilasi mekanis, hingga komplikasi jangka panjang seperti asma akibat infeksi RSV berat di awal kehidupan.
Enflonsia™ (clesrovimab-cfor) adalah antibodi monoklonal generasi terbaru yang dikembangkan untuk pencegahan infeksi saluran pernapasan bawah akibat Respiratory Syncytial Virus (RSV) pada bayi baru lahir serta bayi yang lahir selama atau memasuki musim RSV pertama mereka. RSV merupakan penyebab utama rawat inap bayi, dengan lebih dari 30 juta kasus global setiap tahunnya, sehingga kebutuhan akan strategi pencegahan yang efektif menjadi sangat mendesak. Enflonsia bekerja dengan menargetkan protein fusi RSV (F protein), molekul kunci yang memungkinkan virus masuk dan bereplikasi dalam sel epitel saluran napas. Dengan mengikat protein ini, clesrovimab mencegah proses fusi membran, sehingga menghentikan infeksi pada tahap paling awal). Dibandingkan dengan palivizumab, antibodi monoklonal generasi sebelumnya, Enflonsia memiliki keunggulan utama berupa waktu paruh yang lebih panjang akibat modifikasi pada domain Fc, yang memungkinkan pemberian hanya satu kali injeksi intramuskular untuk perlindungan selama satu musim RSV penuh.
Formulasi Enflonsia hadir dalam bentuk larutan injeksi dosis tunggal (105 mg/0,7 mL) dalam prefilled syringe, dirancang untuk memudahkan pemberian dan meminimalkan risiko kontaminasi. Farmakokinetik menunjukkan onset proteksi dalam beberapa hari pasca pemberian, dengan durasi perlindungan hingga lima bulan, yang menutupi periode risiko tertinggi infeksi RSV pada bayi. Persetujuan internasional terhadap Enflonsia didasarkan pada hasil uji klinis fase 2 dan fase 3 yang melibatkan ribuan bayi di berbagai negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian clesrovimab menurunkan angka rawat inap akibat RSV hingga 60–70% dibandingkan plasebo, dengan profil keamanan yang baik. Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah reaksi lokal di tempat suntikan, eritema, dan demam ringan, sementara reaksi serius seperti anafilaksis sangat jarang terjadi
Selain pada bayi sehat, Enflonsia juga terbukti efektif digunakan pada populasi risiko tinggi, termasuk bayi prematur (<35 minggu gestasi), bayi dengan penyakit jantung bawaan (CHD), serta bayi dengan penyakit paru kronik. Studi lanjutan menegaskan bahwa efikasi perlindungan tetap konsisten pada kelompok-kelompok ini, memberikan dasar kuat untuk penggunaannya secara luas. Dengan segala inovasi dan bukti ilmiah yang ada, Enflonsia dinilai sebagai terobosan penting dalam pencegahan RSV. Jika akses dan distribusinya dapat diperluas, terutama di negara dengan sumber daya terbatas, Enflonsia berpotensi menggantikan palivizumab sebagai standar baru profilaksis RSV global, sekaligus menurunkan angka kesakitan, kematian, dan beban ekonomi akibat infeksi RSV.
Hasil penelitian klinis terhadap Enflonsia menunjukkan bahwa antibodi monoklonal ini memiliki efikasi yang konsisten, baik pada bayi sehat maupun pada bayi dengan risiko tinggi. Pada uji fase awal, pemberian satu kali dosis intramuskular mampu menghasilkan kadar antibodi protektif yang bertahan hingga sekitar lima bulan, mencakup keseluruhan musim RSV. Efek samping yang muncul umumnya ringan dan bersifat lokal, seperti kemerahan, bengkak, dan ruam di tempat suntikan, sementara kejadian efek samping serius jarang ditemukan dan tidak berbeda dengan plasebo.
Penelitian pada ribuan bayi sehat memperlihatkan bahwa Enflonsia secara signifikan mampu menurunkan risiko rawat inap akibat infeksi RSV hingga sekitar 70% dan mengurangi kunjungan ke unit gawat darurat lebih dari 60%. Efikasi protektif terlihat sejak minggu pertama setelah pemberian dan tetap bertahan sepanjang musim RSV. Temuan serupa juga ditunjukkan pada kelompok bayi dengan risiko tinggi, termasuk bayi prematur, bayi dengan penyakit jantung bawaan, dan bayi dengan penyakit paru kronis, dengan penurunan angka rawat inap mencapai sekitar 65% serta profil keamanan yang tetap baik.
Selain itu, data farmakokinetik menunjukkan bahwa Enflonsia memiliki waktu paruh yang panjang, sekitar 70 hari, berkat modifikasi pada fragmen Fc antibodi. Perpanjangan waktu paruh ini memungkinkan perlindungan jangka panjang hanya dengan satu kali dosis per musim RSV, sehingga memberikan keunggulan praktis dibandingkan antibodi monoklonal generasi sebelumnya yang memerlukan injeksi berulang setiap bulan.
Secara keseluruhan, data klinis menegaskan bahwa Enflonsia mampu memberikan perlindungan jangka panjang terhadap RSV dengan tingkat efikasi tinggi dan keamanan yang baik. Karakteristik ini menjadikan Enflonsia sebagai salah satu kandidat utama dalam pencegahan infeksi RSV pada bayi, sekaligus memberikan harapan baru dalam upaya mengurangi beban penyakit saluran pernapasan bawah di seluruh dunia.
Enflonsia dipandang sebagai salah satu terobosan penting dalam pencegahan penyakit saluran pernapasan bawah akibat RSV pada bayi. Dengan mekanisme kerja spesifik terhadap protein fusi RSV dan durasi perlindungan panjang hanya dengan satu kali dosis per musim, antibodi ini menawarkan pendekatan yang lebih efisien dibandingkan palivizumab yang memerlukan injeksi bulanan. Keunggulan farmakokinetik dan efikasi tinggi menjadikan Enflonsia berpotensi menjadi standar baru pencegahan RSV secara global, terutama pada populasi yang paling rentan, yaitu bayi baru lahir dan bayi dengan risiko tinggi.
Prospek penggunaan Enflonsia juga sangat menjanjikan dari sisi implementasi program kesehatan masyarakat. Data dari uji klinis berskala besar menunjukkan penurunan signifikan angka rawat inap dan kunjungan gawat darurat, yang secara langsung dapat mengurangi beban sistem kesehatan. Hal ini sejalan dengan rekomendasi WHO yang menempatkan antibodi monoklonal berumur panjang sebagai salah satu strategi prioritas dalam pengendalian RSV, terutama di negara dengan keterbatasan akses vaksin.
| Karakteristik | Palivizumab | Nirsevimab | Enflonsia (Clesrovimabcfor) |
| Tahun Persetujuan FDA | 1998 | 2022 | 2025 |
| Target Utama | Protein F RSV | Protein F RSV (prefusion) | Protein F RSV (Prefusion) |
| Populasi Sasaran | Bayi dengan risiko tinggi (prematur, penyakit jantung bawaan, gangguan paru kronis) | Semua bayi sehat dan berisiko tinggi pada musim RSV pertama | Semua bayi sehat dan berisiko pada musim RSV pertama |
| Regimen Dosis | 15 mg/kg, bulanan, 5 dosis/musim RSV | 50 mg atau 100 mg, sekali per musim RSV | 50–100 mg, sekali per musim RSV |
| Rute Pemberian | Intramuskular (IM) | Intramuskular (IM) | Intramuskular (IM) |
| Durasi Perlindungan | ±1 bulan per dosis | Hingga 5 bulan (satu musim RSV) | Hingga 5–6 bulan (satu musim RSV) |
| Efikasi Klinis | Mengurangi rawat inap akibat RSV pada bayi risiko tinggi | Menurunkan risiko LRTI-RSV hingga >70% pada bayi sehat | Menurunkan LRTI-RSV secara signifikan pada bayi sehat & prematur |
| Keterbatasan | Harus suntikan bulanan, mahal, terbatas pada bayi risiko tinggi | Belum tersedia luas di semua negara | Obat baru → data jangka panjang masih terbatas, ketersediaan global bertahap |
| Profil Keamanan | Umumnya aman, reaksi lokal & hipersensitivitas jarang | Aman, efek samping ringan–sedang (misalnya reaksi lokal) | Aman, profil mirip plasebo; efek samping ringan (mis. demam, reaksi lokal) |
Meskipun begitu, tantangan tetap ada, terutama terkait aspek biaya dan ketersediaan. Harga antibodi monoklonal umumnya tinggi, sehingga perlu strategi untuk memastikan akses yang merata di negara berpendapatan rendah dan menengah. Kolaborasi antara industri farmasi, lembaga kesehatan global, dan pemerintah akan sangat menentukan keberhasilan distribusi Enflonsia secara luas. Selain itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas jangka panjang pada berbagai populasi, termasuk bayi dengan komorbiditas yang lebih kompleks.
Dari perspektif ilmiah, keberhasilan Enflonsia membuka peluang pengembangan antibodi monoklonal lain yang ditujukan untuk penyakit infeksi masa kanak-kanak. Pendekatan ini menandai pergeseran paradigma dari terapi suportif menjadi pencegahan berbasis imun pasif yang praktis, aman, dan efektif. Jika tantangan akses dapat diatasi, Enflonsia berpotensi menjadi model keberhasilan penerapan imunoprofilaksis modern terhadap penyakit virus pada populasi bayi.
Enflonsia (clesrovimab-cfor) merupakan antibodi monoklonal generasi baru dengan efikasi tinggi, durasi proteksi panjang, dan profil keamanan baik untuk pencegahan RSV pada bayi. Berbeda dengan palivizumab, Enflonsia hanya membutuhkan satu kali injeksi untuk memberikan perlindungan sepanjang musim RSV pertama. Jika dapat diimplementasikan secara luas, Enflonsia berpotensi menurunkan angka rawat inap, mortalitas, serta beban ekonomi akibat RSV pada tingkat global.
Majalah Farmasetika - FDA telah memberikan persetujuan terhadap tablet oral extended release dari Fabre-Kramer Pharmaceuticals…
Majalah Farmasetika - Badan Pengawas Obat dan Makanan USA-FDA pada tanggal 29 Februari 2024 telah…
Majalah Farmasetika - Kekeliruan nomenklatur “D3 Apoteker” tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari irisan…
Majalah Farmasetika - apt. Sudarsono, M.Sc (Clin.Pharm) membuat catatan dalam bentuk e-book terkait Konsep Dasar…
Majalah Farmasetika - Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik/diastolik melebihi…
Majalah Farmasetika - Pada Agustus 2024, dunia medis menyambut Iqirvo, sebuah terapi revolusioner untuk Primary…