Berita

JOURNAVX (Suzetrigine): Pengobatan Non-Opioid Baru dalam Manajemen Nyeri Akut Sedang hingga Berat

Majalah Farmasetika- Manajemen nyeri akut sering bergantung pada analgesik opioid, yang membawa risiko kecanduan dan efek samping sistemik. Diperlukan alternatif non-opioid yang efektif dan aman untuk nyeri sedang hingga berat. Sebuah analgesik non-opioid baru, untuk pengobatan nyeri akut sedang hingga berat pada orang dewasa yaitu Journavx (suzetrigine) dengan mengevaluasi keamanan dan efikasi. Efikasi Journavx dievaluasi dalam dua uji coba acak, tersamar ganda, terkontrol plasebo dan aktif untuk nyeri bedah akut, satu setelah abdominoplasti dan yang lainnya setelah bunionektomi. Kedua uji coba menunjukkan pengurangan nyeri superior yang signifikan secara statistik dengan Journavx dibandingkan dengan plasebo. Berdasarkan bukti dari tiga uji klinis (Uji 1/NCT05558410, Uji 2/NCT05553366, dan Uji 3/NCT05661734) terhadap 2.447 pasien dengan nyeri akut sedang hingga berat setelah prosedur bedah atau akibat kondisi non-bedah. Uji klinis tersebut dilakukan di 46 lokasi di Amerika Serikat. Dari uji klinis Fase 3 yang menunjukkan efektivitasnya dalam mengurangi nyeri akut selama 48 jam setelah operasi, Suzetrigine menurunkan intensitas nyeri secara signifikan dibanding plasebo, dengan efektivitas penurunan tingkat nyeri 47% dibanding acethaminophen 43% pada studi.

Pendahuluan

Nyeri adalah masalah kesehatan dunia diperkirakan setiap tahun 20% populasi dunia mengalami nyeri dan setengahnya adalah nyeri kronis. Di Amerika, nyeri merupakan alasan utama yang membuat orang datang mencari pusat pelayanan kesehatan. Berdasarkan penelitian di Amerika tahun 2012, terdapat sebanyak 86,6 juta orang dewasa yang mengalami nyeri akut setiap hari dan 25,5 juta memiliki nyeri kronis. Di Indonesia belum ada penelitian skala besar yang membahas prevalensi dan kualitas semua jenis nyeri. Indonesia juga belum memiliki parameter praktis untuk menilai nyeri, tingkat kenyamanan pasien, dan efek nyeri terhadap kualitas hidup rakyat Indonesia.

Penanganan yang adekuat sangat dibutuhkan oleh penderita nyeri, tidak hanya untuk meredakan rasa nyerinya melainkan pula untuk meningkatkan mutu kehidupannya. Maka, perlu dilakukan manajemen nyeri. Manajemen nyeri adalah mengidentifikasi dan mengelola pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan atau fungsional dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat dan konstan. 

Terapi Nyeri

Manajemen nyeri bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri yang sampai mengganggu aktivitas penderita. Nyeri dapat ditangani dengan menggunakan manajemen nyeri baik secara farmakologi dan non-farmakologi. Manajemen Nyeri Farmakologi menghilangkan nyeri dengan pemberian obat-obatan pereda nyeri. Penggunaan pada nyeri sangat hebat dan berlangsung berjam-jam atau hingga berhari-hari. Obat-obatan yang digunakan jenis analgesik, terdapat tiga jenis analgesik, yaitu:

  1. Non-narkotik dan anti inflamasi non-steroid (NSAID): dapat digunakan untuk nyeri ringan hingga sedang. Obat ini tidak menimbulkan depresi pernapasan.
  2. Analgesik narkotik atau opioid: diperuntukkan nyeri sedang hingga berat, misalnya pasca operasi. Efek samping obat ini menimbulkan depresi pernapasan, efek sedasi, konstipasi, mual, dan muntah.
  3. Obat tambahan atau adjuvant (koanalgesik): obat dalam jenis sedatif, anti cemas, dan pelemas otot. Obat ini dapat meningkatkan kontrol nyeri dan menghilangkan gejala penyertanya. Obat golongan NSAID, golongan kortikosteroid sintetik, golongan opioid memiliki onset sekitar 10 menit dengan maksimum analgesik tercapai dalam 1-2 jam. Durasi kerja sekitar 6-8 jam.

Journavx sebagai obat baru

Journavx adalah penghambat saluran natrium yang diindikasikan untuk pengobatan nyeri akut sedang hingga berat pada orang dewasa. Journavx berbentuk tablet. Dosis awal Journavx yang direkomendasikan adalah 100 mg per oral. Dimulai 12 jam setelah dosis awal, 50 mg Journavx diminum setiap 12 jam.

Hasil uji klinis

FDA menyetujui Journavx berdasarkan bukti dari tiga uji klinis (Uji 1/NCT05558410, Uji 2/NCT05553366, dan Uji 3/NCT05661734) terhadap 2.447 pasien dengan nyeri akut sedang hingga berat setelah prosedur bedah atau akibat kondisi non-bedah. Uji klinis tersebut dilakukan di 46 lokasi di Amerika Serikat. Journavx telah mendapatkan persetujuan FDA pada 30 Januari 2025 untuk mengobati nyeri akut sedang hingga berat pada orang dewasa. Persetujuan ini didasarkan pada hasil positif dari uji klinis Fase 3 yang menunjukkan efektivitasnya dalam mengurangi nyeri akut selama 48 jam setelah operasi.

Efikasi Journavx dievaluasi dalam dua uji coba acak, tersamar ganda, terkontrol plasebo dan aktif untuk nyeri bedah akut, satu setelah abdominoplasti dan yang lainnya setelah bunionektomi. Selain menerima pengobatan acak, semua peserta uji coba dengan kontrol nyeri yang tidak memadai diizinkan untuk menggunakan ibuprofen sesuai kebutuhan sebagai obat pereda nyeri “penyelamat”. Kedua uji coba menunjukkan pengurangan nyeri superior yang signifikan secara statistik dengan Journavx dibandingkan dengan plasebo.

Gambar 1. Intensitas rata-rata waktu penggunaan Journavx, Plasebo, dan Acetaminophen dalam percobaan 1.

Efek samping Journavx yang paling umum dalam uji klinis adalah gatal, kejang otot, peningkatan kadar kreatin fosfokinase dalam darah, dan ruam. Obat ini dapat mengurangi kemungkinan kehamilan pada wanita untuk sementara waktu selama mengonsumsi obat ini. Konsultasikan dengan penyedia layanan kesehatan jika khawatir akan kehamilan. Kontrasepsi hormonal (kontrasepsi) yang mengandung progestin selain levonorgestrel atau norethindrone mungkin tidak bekerja dengan baik saat mengonsumsi Journavx.

Waktu median hingga rasa sakit yang signifikan mereda (didefinisikan sebagai penurunan NPRS ≥ 2 poin) adalah 119 menit untuk pasien dalam kelompok JOURNAVX dan 480 menit untuk pasien dalam kelompok plasebo. Waktu median hingga rasa sakit yang nyata mereda (didefinisikan sebagai penurunan NPRS ≥ 1 poin) untuk pasien dalam kelompok JOURNAVX adalah 34 menit.

Kebaruan

Suzetrigine dan obat-obatan masa depan dengan mekanisme manajemen nyeri baru seperti itu mungkin dapat menjembatani kesenjangan antara obat bebas dan opioid, menyediakan alternatif non-adiktif bagi mereka yang ingin menghindari risiko yang terkait dengan penggunaan opioid. Obat-obatan ini dapat mengurangi jumlah resep opioid yang diberikan oleh penyedia layanan kesehatan.

Kesimpulan

Persetujuan obat ini merupakan kabar baik bagi industri medis yang menginginkan akses ke analgesik non-adiktif lain selain suzetrigin. Meskipun analgesik bebas seperti NSAID dan asetaminofen mungkin efektif dalam mengatasi nyeri ringan hingga sedang, obat-obatan seperti suzetrigin dapat terbukti bermanfaat dalam skenario manajemen nyeri jangka pendek yang lebih signifikan, seperti pemulihan pascaoperasi.

Pustaka

Thessa Nuryani

Share
Published by
Thessa Nuryani

Recent Posts

EXXUA, Obat Baru Terapi Gangguan Depresi Mayor Mengandung Giperone

Majalah Farmasetika - FDA telah memberikan persetujuan terhadap tablet oral extended release dari Fabre-Kramer Pharmaceuticals…

1 hari ago

EXBLIFEP® Kombinasi Antibiotik Baru Terapi Infeksi Saluran Kemih dengan Komplikasi

Majalah Farmasetika - Badan Pengawas Obat dan Makanan USA-FDA pada tanggal 29 Februari 2024 telah…

5 hari ago

Salah Kaprah Nomenklatur D3 Apoteker dan Risiko Reduksi Profesi Kesehatan

Majalah Farmasetika - Kekeliruan nomenklatur “D3 Apoteker” tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari irisan…

1 minggu ago

Konsep Aplikasi RME-APOTEK Komunitas: Transformasi Praktik Kefarmasian Menuju Pelayanan Klinis Terintegrasi

Majalah Farmasetika - apt. Sudarsono, M.Sc (Clin.Pharm) membuat catatan dalam bentuk e-book terkait Konsep Dasar…

1 minggu ago

TRYVIO™, Obat Hipertensi Resisten Golongan Antagonis Reseptor Endotelin Pertama yang disetujui oleh FDA

Majalah Farmasetika - Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik/diastolik melebihi…

2 minggu ago

Iqirvo: Langkah Maju dalam Pengobatan Penyakit Autoimun Hati (Primary Biliary Cholangitis)

Majalah Farmasetika - Pada Agustus 2024, dunia medis menyambut Iqirvo, sebuah terapi revolusioner untuk Primary…

4 minggu ago