Download Majalah Farmasetika

VIZZ (Aceclidine): Solusi Modern Mengatasi Rabun Mata Tua

Majalah Farmasetika- Penurunan kemampuan melihat dekat pada usia di atas 40 tahun adalah masalah global yang dihadapi hampir seluruh paruh baya dan lansia di dunia. Kondisi ini dikenal sebagai presbiopi atau akrab disebut “rabun mata tua” karena merupakan proses natural dari penuaan, namun dapat mengganggu kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari. Di Indonesia terdapat sekitar 86 juta penduduk berusia di atas 45 tahun berisiko menderita presbiopi. Penatalaksanaan presbiopi yang diterapkan hingga saat ini adalah dengan koreksi optik seperti kacamata atau lensa kontak yang kadang kala membatasi aktivitas dan mengganggu penampilan.

Inovasi dalam penanganan presbiopi diperlukan dalam rangka meningkatkan kenyamanan pasien. VIZZTM hadir menjawab tantangan dan keterbatasan tersebut. VIZZTM  merupakan obat tetes mata pertama yang mengandung bahan aktif aceclidine 1,44% dan disetujui FDA untuk mengoreksi rabun dekat akibat usia dengan cara praktis dan tahan lama.

Pendahuluan

Presbiopi adalah kondisi penurunan kemampuan mata seiring bertambahnya usia di mana lensa mata mengalami kehilangan elastisitas dan mengeras sehingga sulit berakomodasi untuk melihat objek dekat. Kondisi ini merupakan kondisi yang tak terelakkan dan akan dialami hampir semua usia lanjut, umumnya mulai dirasakan pada usia 40-an. Secara global, diperkirakan penderita presbiopi di tahun 2015 mencapai 1, 8 miliar penduduk dunia. Data dari web Lenz therapeutics melaporkan sekitar 128 juta orang dewasa Amerika Serikat menderita presbiopi. Di Indonesia belum ada data prevalensi presbiopi, namun berdasarkan jumlah populasi diperkirakan 86 juta penduduk Indonesia berusia di atas 45 tahun berisiko mengalami penyakit ini. Presbiopi sangat berdampak pada kesaharian, apalagi di tengah masifnya penggunaan teknologi digital seperti penggunaan handphone dan komputer membuat keterbatasan pengelihatan menjadi sangat mengganggu. Apabila presbopi tidak terkoreksi dengan baik akan menyebabkan kesulitan dalam aktivitas sehari-hari, menurunkan produktivitas, dan berdampak secara psikologis karena pasien merasa menua.

Terapi presbiopi saat ini di Indonesia maupun secara global masih terbatas pada penggunaan alat bantu optik dan prosedur bedah yang masih memiliki banyak kekurangan. Penggunaan kacamata baca adalah metode paling lazim digunakan. Walaupun efektif, penggunaan kacamata terus menerus mengganggu kenyamanan pengguna karena kurang praktis harus dilepas pasang saat dibutuhkan atau saat ingin berganti fokus dan berpotensi menghambat aktivitas serta menurunkan kualitas hidup penderita. Beberapa orang enggan menggunakan kacamata karena alasan estetika maupun kenyamanan, alternatif lain yang dapat menjadi opsi adalah penggunaan lensa kontak multifokal atau monovision. Namun, tidak semua orang cocok menggunakan lensa kontak, pemakaian yang tidak dirawat dan terkontrol sering menimbulkan iritasi pada mata. Prosedur seperti LASIK monovision atau penggantian lensa intraokular (refractivelens exchange) dapat menjadi solusi bersifat permanen untuk presbiopi. Tetapi tidak semua pasien bersedia dan memenuhi syarat untuk tindakan ini karena bersifat invasif, mahal, dan berisiko.

Perkembangan terapi farmakologi untuk presbiopi kian pesat beberapa tahun terakhir. Di tahun 2021, FDA menyetujui peredaran Vuity tetes mata pilokarpin 1,25 % sebagai terapi farmakologis untuk presbiopi. Efek Vuity tercatat dapat bertahan selama 6 jam setelah pemakaian. Pengembangan untuk terapi lebih lama dan efektif terus dilakukan. Pada 2025, penemuan obat testes sebagai agen terapi farmakologi presbiopi mengalami era baru. Dengan distujuinya VIZZTM oleh FDA sebagai agen terap presbiopi. VIZZTM merupakan obat tetes mengandung aceclidine yang memiliki durasi kerja lebih lama dibanding pendahulunya Vuity. VIZZTM dapat memberikan efek terapi 15 menit setelah pemberian dengan durasi aksi hingga 10 jam. VIZZTM menjadi yang pertama dan satu-satunya aceclidine tetes mata yang disetujui FDA yang memiliki durasi kerja lebih panjang dan profil efek samping yang ringan.

Profil VIZZTM Aceclidine

VIZZTM adalah nama dagang dari tetes mata resep generasi baru mengandung aceclidine 1,44% yang dikembangkan untuk mengoreksi presbiopi. Aceclidine merupakan tetes mata agonis kolinergik yang bekerja dengan cara mengecilkan pupil melalui kontraksi otot sfingter iris dengan stimulasi minimal pada otot siliaris. Perusahaan, Lenz Therapeutics, mengatakan tetes itu bekerja dengan mempersempit pupil hingga berdiameter 2 mm, memperpanjang kedalaman fokus hingga 10 jam perbaikan penglihatan dekat tanpa menyebabkan pergeseran miopia. Berkurangnya efek pada otot siliaris inilah yang membedakan aceclidine dari miotik sebelumnya (seperti pilokarpin), sehingga diharapkan mengurangi keluhan seperti sakit kepala atau penglihatan jarak jauh kabur yang kerap muncul akibat spasme akomodasi.

Inovasi formulasi VIZZTM dalam bentuk larutan tetes mata 1,44% digunakan sekali sehari untuk mengatasi presbiopi. Dikemas dalam wadah vial single dose dan bebas pengawet. Keunggulannya VIZZTM dapat memberikan perbaikan pengelihatan dekat dalam hitungan menit dan durasi efek hingga 8-10 jam. Dengan durasi kerja panjang ini memungkinkan untuk menjadi obat tetes yang hanya digunaka sekali sehari untuk mengcover kegiatan produktif pengguna.

Persetujuan FDA terhadap VIZZTM didukung oleh data uji klinis fase 3 dimana efikasi VIZZTM untuk pengobatan presbiopi dibuktikan dalam dua studi acak, double masked, dan studi terkontrol melalui program CLARITY 1, 2, dan 3. Sebanyak 466 partisipan berusia 45 hingga 75 tahun dengan presbiopi diinstruksikan meneteskan 1 tetes VIZZTM tiap mata sekali sehari selama 42 hari. Penilaian efikasi oftalmik dilakukan pada Hari ke-1, Hari ke-15, dan Hari ke-28 penelitian pada berbagai titik waktu hingga 10 jam pascadosis. Adapun CLARITY 3 menilai keamanan jangka panjang pada 217 peserta dengan penggunaan harian selama 6 bulan.

Hasil Uji Klinis VIZZTM Aceclidine

Hasil uji menunjukkan arah yang positif dan konsisten. Mayoritas subjek yang menggunakan VIZZTM mengalami perbaikan signifikan pada ketajamam pengelihatan objek dekat dalam 30 menit setelah pemberian dan efeknya bertahan hingga 10 jam. Secara kuantitatif, mayoritas subyek yang diberi VIZZTM mengalami peningkatan kemampuan membaca huruf kecil. Laporan perusahaan menyebut sekitar 71% pasien mencapai peningkatan ≥3 baris dalam tes ketajaman baca pada 0,5 jam dan 3 jam pascadosis pertama, dan sekitar 40% pasien masih mempertahankan peningkatan ≥3 baris hingga 10 jam setelah dosis. Penting dicatat, peningkatan penglihatan dekat ini tidak disertai penurunan signifikan pada penglihatan jarak jauh (tidak ada kehilangan ≥1 baris ketajaman jauh pada penerima VIZZTM  dibanding plasebo). Dengan kata lain, VIZZTM berhasil memenuhi kriteria efektivitas FDA: memperbaiki penglihatan dekat (≥3 baris) tanpa mengorbankan ketajaman penglihatan jauh.

Dari segi keamanan, VIZZTM memiliki profil yang baik yang dapat ditoleransi oleh pengguna. Selama uji CLARITY yang mencakup lebih dari 30.000 hari pemakaian, tidak ditemukan efek samping serius akibat penggunaan VIZZTM. Efek samping tersering yang dilaporkan bersifat ringan dan sementara. Beberapa di antaranya rasa perih saat penetesan (20% peserta), penglihatan agak kabur sementara (16%), dan sakit kepala (13%). Selain itu, tercatat 7-8% mengalami mata merah (hiperemia konjungtiva). Sebagian besar efek ini dapat reda tanpa pengobatan dan tidak menjadi alasan peserta uji coba berhenti di tengah jalan. Tidak ada peserta yangmengalami komplikasi berat pada mata. Meskipun demikian, para ahli menganjurkan agar pasien dengan miopia tinggi diperiksa kondisi retinanya sebelum memulai terapi tetes mata presbiopi apa pun, mengingat adanya beberapa laporan ablasi retina pasca penggunaan pilokarpin pada populasi berisiko. Secara keseluruhan, hasil uji klinis menegaskan bahwa VIZZTM aceclidine efektif meningkatkan penglihatan dekat hingga sekitar 8–10 jam, dengan keamanan yang terjamin dan efek samping minimal.

Prospek di Indonesia

Kemunculan VIZZTM aceclidine sebagai terapi presbiopi membawa angin segar bagi jutaan penderita di dunia, termasuk di Indonesia. Saat ini belum ada terapi tetes mata yang digunakan untuk presbiopi di Indonesia. Terapi presbiopi masih terbatas pada penggunaan kacamata baca atau koreksi optik lainnya. Sehingga potensi besar akan disambut baik ketika mengadopsi VIZZTM menjadi opsi baru dalam dunia praktik optalmologi dan optometri di Indonesia.

Jika dibandingkan dengan produk eksisting lainnya, VIZZTM menawarkan berbagai keunggulan seperti: Praktis, VIZZTM yang berbasis tetes mata dapat digunakan sesuai kebutuhan tanpa harus membawa beberapa pasang kacamata. Yang kedua adalah Non invasif, tetes mata tidak memerlukan prosedur bedah apapun sehingga lebih minim risiko. Selain itu, VIZZTM juga tidak mengubah bentuk lensa sehingga pengelihatan jauh tidak terganggu serta minim efek samping.

VIZZTM Akan dipasarkan di Amerika Serikat pada bulan oktober 2025 ini. Pemantauan terhadap tren farmakoterapi presbiopi masih harus dilakukan. Revolusi pengobatan dari cara konvensional ke metode canggih dan modern perlu waktu untuk beradaptasi. Jika ingin benar-benar mengadopsi terapi ini ke dalam negegi, perlu kesiapan dari aspek regulasi dan kepakaran untuk edukasi klinisi sedini mungkin agar dapat diterapkan beberapa tahun ke depan. Dengan jumlah lansia di indonesia mencapai 86 juta, penggunaan VIZZTM di Indonesia cukup menjanjikan. Jika tantangan implementasi dapat diatasi, bukan tidak mungkin tetes mata ini akan menjadi standar baru penanganan presbiopi di masa depan, melengkapi atau bahkan menggantikan peran kacamata baca sebagai tatalaksana utama. Para tenaga kesehatan mata di Indonesia patut mengikuti perkembangan ini, karena era baru terapi presbiopi dengan tetes mata inovatif sudah di depan mata.

Kesimpulan

Kehadiran VIZZTM (aceclidine 1,44%) sebagai tetes mata khusus presbiopi yang telah disetujui oleh FDA memberikan harapan baru akan terapi yang praktis, non-invasif, dan efektif. Bagi Indonesia, adopsi terapi ini akan sangat relevan mengingat tingginya populasi penderita presbiopi.

Pustaka

  1. https://www.accessdata.fda.gov/drugsatfda_docs/label/2025/218585s000lbl.pdf
  2. Markoulli M, Fricke TR, Arvind A, Frick KD, Hart KM, Joshi MR, et al. (2024). BCLA CLEAR Presbyopia: Epidemiology and impact. Contact Lens and Anterior Eye, 47(4), 102157. https://doi.org/10.1016/j.clae.2024.102157
  3. GlobeNewswire. (2025).  LENZ Therapeutics Announces US FDA Approval of VIZZ™ for Presbyopia. (Press release, July 31, 2025) https://d1io3yog0oux5.cloudfront.net/_09c088fe973e480a5fc477693a4409ac/lenztx/news/2025-07-31_LENZ_Therapeutics_Announces_US_FDA_Approval_of_39.pdf
  4. World Health Organization (WHO). (2019). World report on vision. Licence: CC BY-NC-SA 3.0 IGO

About Dian Arista Damayanti Asis

Check Also

EXXUA, Obat Baru Terapi Gangguan Depresi Mayor Mengandung Giperone

Majalah Farmasetika – FDA telah memberikan persetujuan terhadap tablet oral extended release dari Fabre-Kramer Pharmaceuticals …

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses