Majalah Farmasetika – Badan Pengawas Obat dan Makanan USA-FDA pada tanggal 29 Februari 2024 telah menyetujui EXBLIFEB®, yang merupakan kombinasi antibiotik baru (Cefepime-Enmetazobactam) dari Allecra Therapeutics sebagai pengobatan pasien Infeksi Saluran Kemih (ISK) dengan Komplikasi.
Peranan Penting EXBLIFEB® bagi Pengobatan ISK-Komplikasi
Selama ini β-laktam pernah menjadi kelompok antibiotik yang paling banyak digunakan karena keamanan dan kemanjurannya. Sayangnya, penggunaan antibiotik secara ekstensif ini mengakibatkan munculnya patogen resisten β-laktam yang berspektrum luas (Extended-Spectrum β-lactam resisten atau ESBL). Saat ini, ESBL merupakan masalah di seluruh dunia, dengan prevalensi yang tinggi dan terus meningkat baik di negara maju maupun negara berkembang.
Exblifep merupakan kombinasi inhibitor β-laktamase baru, Enmetazobaktam, dengan Cephalosporin generasi ke-empat yaitu Cefepim, dirancang khusus untuk melawan resistensi yang diperantarai oleh Enterobacterales dengan β-laktamase spektrum luas (extended-spectrum β-lactamase/ESBL) dan merupakan pilihan terapi baru yang penting dalam mengatasi resistensi antimikroba (AMR).
Standar perawatan saat ini untuk mengobati Infeksi Saluran Kemih dengan menggabungkan β-laktam dengan penghambat β-laktamase, seperti Piperasilin-Tazobaktam (TZP), namun terapi gabungan antibiotik ini memiliki tantangan dimana adanya peningkatan prevalensi resistensi yang diperantarai oleh ESBL, sehingga menghasilkan pathogen yang seringkali resisten terhadap sebagian besar antibiotik fluoroquinolone, aminoglikosida, dan β-laktam.
Carbapenem merupakan salah satu antibiotik yang digunakan untuk mengatasi patogen yang resisten/MDR (multi drug resistant), namun seringkali dicadangkan sebagai pilihan pengobatan pilihan terakhir, dikarenakan untuk membatasi pertumbuhan strain bakteri yang resisten terhadap Carbapenem. Sehingga kehadiran EXBLIFEP® diharapkan bisa memberikan peran penting terhadap pengobatan Infeksi Saluran Kemih dengan komplikasi yang disebabkan ESBL dan infeksi patogen resisten lain.
Mekanisme Kerja EXBLIFEB®
Zat aktif dalam EXBLIFEB®, yaitu Cefepime dan Enmetazobactam, bekerja dengan mekanisme yang berbeda. Cefepime adalah jenis antibiotik Cephalosporin, yang termasuk dalam kelompok antibiotik beta-laktam. Antibiotik ini bekerja dengan mencegah bakteri tertentu membuat dinding sel mereka sendiri, sehingga membunuh bakteri. Enmetazobactam memblokir kerja beberapa enzim bakteri yang disebut beta-laktamase. Enzim ini memungkinkan bakteri untuk memecah antibiotik beta-laktam seperti Cefepime, membuat bakteri menjadi kebal/resisten terhadap aksi antibiotik. Dengan memblokir kerja enzim-enzim ini, kehadiran Enmetazobactam memungkinkan Cefepime bekerja melawan bakteri yang seharusnya kebal terhadap antibiotik ini.
Uji Klinis EXBLIFEP®
Uji coba dilakukan di 90 lokasi di 19 negara termasuk Argentina, Bulgaria, Belarusia, Spanyol, Estonia, Georgia, Kroasia, Hongaria, Lithuania, Latvia, Meksiko, Peru, Polandia, Rusia, Serbia, Slovakia, Afrika Selatan, Ukraina, dan Amerika Serikat.
EXBLIFEP® dievaluasi dalam uji klinis multinasional, double-blind, randomized, controlled dan non-inferiority terhadap 1.041 pasien dengan ISK-Komplikasi, termasuk Pyelonephritis. Pasien diacak dengan rasio 1:1 ke dalam salah satu dari dua kelompok pengobatan, EXBLIFEP® dan Piperasilin/Tazobaktam. Obat tersebut diinfuskan secara intravena selama dua jam, setiap delapan jam selama 7 hari, atau hingga 14 hari untuk pasien dengan concurrent bacteremia. End point dari efikasi primer adalah titik akhir komposit dari kesembuhan klinis dan respons mikrobiologis, pada kunjungan uji kesembuhan (test of cure/TOC) tujuh hari setelah akhir pengobatan.
EXBLIFEP® terbukti lebih efektif daripada antibiotik lain yang menggabungkan beta-laktam dan penghambat beta-laktamase (Piperasilin dan Tazobaktam) dalam mengobati ISK dengan komplikasi, termasuk pielonefritis akut (infeksi ginjal yang terjadi secara tiba-tiba). Setelah 7 hingga 14 hari, sekitar 79% (273 dari 345) pasien yang diobati dengan EXBLIFEP® memiliki hasil yang baik (diukur dengan sembuhnya gejala dan tidak adanya bakteri yang menyebabkan infeksi di dalam darah) dibandingkan dengan sekitar 59% (196 dari 333) pasien yang diobati dengan Piperasilin dan Tazobaktam.
Efek Samping yang mengikuti penggunaan EXBLIFEP®
Efek samping yang paling umum terjadi pada EXBLIFEP® (dapat mempengaruhi hingga 1 dari 10 orang) termasuk kadar alanine aminotransferase dan aspartate aminotransferase (enzim hati) yang tinggi, serta diare dan flebitis (radang pembuluh darah) di tempat infus. Efek samping yang serius dengan EXBLIFEP® termasuk kolitis (radang usus besar) karena bakteri Clostridioides difficile (yang dapat mempengaruhi lebih dari 1 dari 1.000 orang). Exblifep tidak boleh digunakan pada orang yang hipersensitif (alergi) terhadap kelompok Cephalosporin.
Referensi:
1. Drug Trial Snapshots – Exblifep. Diakses 24 Agustus 2024. https://www.fda.gov/drugs/drug-approvals-and-databases/drug-trials-snapshots-exblifep
2. Kaye KS, Belley A, Barth P, et al. Effect of Cefepime/Enmetazobactam vs Piperacillin/Tazobactam on Clinical Cure and Microbiological Eradication in Patients With Complicated Urinary Tract Infection or Acute Pyelonephritis: A Randomized Clinical Trial. JAMA. 2022;328(13):1304–1314. doi:10.1001/jama.2022.17034. https://jamanetwork.com/journals/jama/article-abstract/2796946
3. European Medicines Agency Science Medicines Health, EMA/52694/2024, EMEA/H/C/005431 Exblifep (Cefepime/Enmetazobactam) An overview of Exblifep and why its authorised in the EU. Exblifep | European Medicines Agency (EMA) (europa.eu)