Download Majalah Farmasetika

Mikroplastik dalam Sediaan Farmasi: Ancaman Tersembunyi di Rak Obat?

Majalah Farmasetika – Selama dekade terakhir, narasi mengenai pencemaran mikroplastik (MP) didominasi oleh gambaran lautan yang dipenuhi limbah, kura-kura yang terjerat jaring, atau kontaminasi pada ikan konsumsi. Namun, sebuah pertanyaan yang lebih personal mulai muncul ke permukaan: Seberapa dekat mikroplastik dengan sistem pengobatan kita?

Sebagai tenaga kesehatan, kita memahami bahwa obat adalah zat kimia yang dirancang untuk berinteraksi secara spesifik dengan target biologis dalam tubuh. Namun, bagaimana jika di dalam botol sirup, ampul, atau blister obat tersebut terdapat “penumpang gelap” berupa partikel polimer mikroskopis? Artikel ini akan membedah secara mendalam jalur kontaminasi, mekanika difusi kimia, dampak kesehatan, serta peran krusial apoteker dalam memitigasi risiko ini.

Memahami Skala Masalah: Apa itu Mikroplastik Farmasi?

Secara teknis, mikroplastik didefinisikan sebagai partikel plastik padat yang tidak larut dalam air dengan ukuran berkisar antara 1 µm hingga 5 mm. Jika ukurannya lebih kecil dari 1 µm, ia masuk ke kategori nanoplastik.

Dalam konteks farmasi, kontaminasi ini tidak selalu terlihat sebagai “potongan plastik”, melainkan sebagai degradasi polimer kemasan atau residu proses manufaktur. Ancaman ini menjadi serius karena obat-obatan sering kali dikonsumsi oleh individu yang sistem imunnya sedang tidak optimal, atau bahkan oleh kelompok rentan seperti bayi dan lansia.

Jalur Kontaminasi Utama

Kontaminasi mikroplastik dalam sediaan farmasi dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori:

  1. Kontaminasi Primer: Terjadi ketika partikel plastik sengaja ditambahkan atau timbul selama proses produksi (misalnya melalui gesekan alat mekanis berbahan polimer).
  2. Kontaminasi Sekunder: Terjadi akibat degradasi kemasan primer (botol, blister, kantong infus) yang berinteraksi dengan sediaan obat akibat faktor lingkungan seperti suhu, cahaya, dan waktu penyimpanan.

Analisis Fisikokimia: Hukum Difusi dan Degradasi Polimer

Mengapa plastik bisa “lepas” ke dalam obat? Jawabannya ada pada sifat termodinamika polimer. Plastik yang digunakan dalam kemasan obat (seperti Polyethylene (PE), Polypropylene (PP), atau Polyvinyl Chloride (PVC)) bukanlah material yang statis secara absolut.

Fenomena Leaching dan Suhu Transisi Gelas ($T_g$)

Setiap polimer memiliki Suhu Transisi Gelas ($T_g$), yaitu suhu di mana polimer berubah dari keadaan kaku (glassy) menjadi lebih fleksibel dan permeabel (rubbery). Ketika obat disimpan di lingkungan yang panas (misalnya di dalam mobil atau gudang yang tidak terkontrol suhunya), polimer kemasan melewati ambang batas energinya.

Migrasi molekul dari kemasan ke dalam sediaan cair mengikuti Hukum Difusi Fick Pertama, yang menyatakan bahwa fluks difusi sebanding dengan gradien konsentrasi:

J=-D x dC/dx

Di mana:

  • J: Fluks difusi (jumlah zat yang berpindah per unit luas per waktu).
  • D: Koefisien difusi (sangat dipengaruhi oleh suhu melalui persamaan Arrhenius).
  • dC/dx: Gradien konsentrasi antara kemasan dan sediaan obat.

Semakin tinggi suhu penyimpanan, nilai $D$ akan meningkat secara eksponensial. Hal ini menjelaskan mengapa obat sirup yang disimpan di tempat panas memiliki risiko kontaminasi mikro dan nanoplastik yang jauh lebih tinggi dibandingkan penyimpanan suhu kamar terkontrol.

Bahaya Tersembunyi: Dampak Toksikologis dan Efek “Trojan Horse”

Mikroplastik tidak hanya berbahaya karena bentuk fisiknya, tetapi juga karena sifat kimianya. Secara toksikologis, ada tiga ancaman utama yang dibawa oleh partikel ini:

A. Toksisitas Intrinsik (Aditif Plastik)

Plastik mengandung bahan tambahan seperti Phthalates sebagai plasticizer dan Bisphenol A (BPA) sebagai pengeras. Zat-zat ini dikenal sebagai Endocrine Disrupting Chemicals (EDCs). Ketika mikroplastik masuk ke dalam saluran cerna atau aliran darah melalui obat, zat aditif ini dapat terlepas dan mengganggu keseimbangan hormon manusia, yang berpotensi memicu gangguan kesuburan hingga risiko kanker.

B. Efek “Trojan Horse”

Karena mikroplastik bersifat hidrofobik dan memiliki luas permukaan yang sangat besar, mereka dapat menyerap kontaminasi lain dari lingkungan produksi, seperti logam berat atau mikroba patogen. Mereka bertindak sebagai “Kuda Troya” yang membawa zat beracun masuk menembus pertahanan tubuh.

C. Translokasi Organ

Nanoplastik memiliki kemampuan untuk menembus membran sel. Penelitian menunjukkan bahwa partikel ini dapat melewati Sawar Darah Otak (Blood-Brain Barrier) dan Sawar Plasenta. Bagi pasien yang mengonsumsi obat secara kronis, akumulasi partikel ini di organ vital seperti hati, ginjal, dan limpa dapat memicu peradangan kronis (inflamasi) dan stres oksidatif.

Studi Kasus: Sediaan Cair vs. Sediaan Padat

Jenis SediaanRisiko KontaminasiMekanisme Utama
Sirup / SuspensiSangat TinggiInteraksi pelarut (air/gliserol) dengan dinding botol plastik dalam waktu lama.
Infus / InjeksiTinggiPelepasan partikel dari kantong PVC atau selang infus (IV lines) saat proses administrasi.
Tablet / KapsulSedangGesekan mekanis saat proses blistering atau serpihan dari lapisan coating.
Tetes MataTinggiKontaminasi saat penetesan akibat gesekan pada ujung penetes plastik.

Implementasi Green Pharmacy: Strategi Mitigasi untuk Apoteker

Sebagai “penjaga gerbang” obat, apoteker memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk meminimalkan paparan mikroplastik kepada pasien. Berikut adalah langkah-langkah strategis yang harus diambil:

A. Pengelolaan Rantai Dingin dan Suhu Ruang

Apoteker harus memastikan bahwa seluruh rantai distribusi obat (sejak dari gudang PBF hingga rak apotek) berada pada suhu yang disyaratkan oleh Farmakope. Suhu yang terjaga bukan hanya menjaga potensi zat aktif (seperti stabilitas antibiotik), tetapi juga menjaga integritas struktural kemasan plastik agar tidak terjadi leaching.

B. Edukasi DAGUSIBU yang Diperluas

Dalam kampanye DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang), poin SIMPAN harus ditekankan secara lebih spesifik terkait kemasan plastik:

  • Jangan simpan obat di tempat lembap atau terkena sinar matahari langsung.
  • Hindari memindahkan obat dari kemasan aslinya ke wadah plastik sembarangan yang tidak memiliki standar medical grade.
  • Perhatikan tanda-tanda degradasi kemasan, seperti botol yang mulai berubah warna atau menjadi rapuh.

C. Advokasi Penggunaan Kemasan Alternatif

Farmasi harus mulai melirik kembali penggunaan Amber Glass (botol kaca cokelat) untuk sediaan cair tertentu. Kaca bersifat inert secara kimiawi dan tidak melepaskan partikel polimer. Meski biaya produksi dan logistik mungkin lebih tinggi karena bobotnya, nilai keamanan jangka panjang bagi pasien jauh lebih berharga.

Masa Depan: Regulasi dan Tantangan Manufaktur

Hingga saat ini, belum ada ambang batas (Threshold) resmi dari badan pengawas obat seperti BPOM atau FDA terkait jumlah maksimal mikroplastik dalam sediaan farmasi. Ini adalah tantangan besar bagi dunia kefarmasian di masa depan.

Dunia manufaktur farmasi harus mulai menerapkan teknologi “Plastic-Free Manufacturing” atau menggunakan polimer biodegradable yang lebih stabil dan aman. Selain itu, metode deteksi mikroplastik dalam suspensi obat (seperti menggunakan Raman Spectroscopy atau FTIR) harus mulai distandarisasi sebagai bagian dari Quality Control di industri.

Kesimpulan

Mikroplastik dalam sediaan farmasi adalah realitas yang tidak bisa lagi kita abaikan. Meskipun obat dirancang untuk menyembuhkan, kontaminasi mikroskopis dari kemasannya memberikan risiko kesehatan tambahan yang harus dimitigasi.

Bagi sejawat apoteker, kunci utamanya adalah edukasi dan kontrol kualitas. Dengan menjaga stabilitas penyimpanan dan memberikan informasi yang benar kepada pasien, kita dapat memastikan bahwa obat yang sampai ke tangan masyarakat tetap menjadi sarana penyembuhan yang murni, bukan jalur masuk bagi polutan plastik.

Referensi:

  1. World Health Organization (WHO). Microplastics in drinking-water.
  2. Journal of Pharmaceutical Sciences: Polymer Degradation and Leaching Mechanisms.
  3. Farmakope Indonesia Edisi VI: Standar Penyimpanan dan Kemasan Obat.

About farmasetika.com

Farmasetika.com (ISSN : 2528-0031) merupakan situs yang berisi informasi farmasi terkini berbasis ilmiah dan praktis dalam bentuk Majalah Farmasetika. Di situs ini merupakan edisi majalah populer. Sign Up untuk bergabung di komunitas farmasetika.com. Download aplikasi Android Majalah Farmasetika, Caping, atau Baca di smartphone, Ikuti twitter, instagram dan facebook kami. Terimakasih telah ikut bersama memajukan bidang farmasi di Indonesia.

Check Also

Konsep Aplikasi RME-APOTEK Komunitas: Transformasi Praktik Kefarmasian Menuju Pelayanan Klinis Terintegrasi

Majalah Farmasetika – apt. Sudarsono, M.Sc (Clin.Pharm) membuat catatan dalam bentuk e-book terkait Konsep Dasar …

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses