Majalah Farmasetika – Peran apoteker di berbagai negara terus berkembang dari sekadar dispensing obat menuju pelayanan klinis yang lebih komprehensif. Salah satu inovasi layanan yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir adalah model “test-and-treat” di apotek komunitas, yaitu layanan di mana apoteker melakukan pemeriksaan diagnostik sederhana (point-of-care testing) dan memberikan terapi berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut.
Model ini berkembang terutama setelah pandemi COVID-19, ketika banyak negara memperluas kewenangan apoteker untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan primer.
Apa Itu Layanan Test-and-Treat?
Test-and-treat merupakan model pelayanan kesehatan yang menggabungkan pemeriksaan diagnostik cepat dengan pemberian terapi langsung dalam satu tempat layanan. Dalam praktiknya, apoteker melakukan pemeriksaan sederhana menggunakan alat point-of-care testing (POCT) untuk menentukan penyebab penyakit tertentu sebelum memberikan terapi.
Beberapa penyakit yang umum dilayani dalam program ini antara lain:
- COVID-19
- Influenza
- Infeksi Streptococcus (radang tenggorokan)
- Respiratory Syncytial Virus (RSV)
Model ini dinilai mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap terapi yang cepat dan tepat.
Praktik di Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, layanan test-and-treat telah berkembang cukup luas di apotek komunitas. Data dari organisasi farmasi nasional menunjukkan bahwa apoteker di lebih dari 40 negara bagian telah diizinkan melakukan point-of-care testing, dan di sebagian besar wilayah tersebut apoteker juga dapat meresepkan obat berdasarkan hasil tes tersebut.
Contoh terapi yang dapat diberikan oleh apoteker setelah pemeriksaan meliputi:
- Oseltamivir untuk influenza
- Baloxavir untuk influenza
- Nirmatrelvir/ritonavir (Paxlovid) untuk COVID-19
Keberadaan layanan ini memungkinkan pasien memperoleh diagnosis dan terapi lebih cepat tanpa harus menunggu konsultasi dokter, terutama untuk penyakit infeksi akut.
Selain itu, ribuan apotek di Amerika Serikat telah menyediakan layanan POCT untuk influenza dan infeksi saluran pernapasan lainnya.
Implementasi di Eropa
Di beberapa negara Eropa, model test-and-treat juga mulai diterapkan melalui program layanan penyakit ringan (minor ailment service). Misalnya di Wales (Inggris), apoteker komunitas melakukan pemeriksaan radang tenggorokan menggunakan tes swab untuk menentukan apakah infeksi disebabkan oleh bakteri atau virus.
Hasil program tersebut menunjukkan bahwa hanya sekitar 20% kasus yang memerlukan antibiotik, sehingga layanan ini juga berkontribusi dalam menekan penggunaan antibiotik yang tidak rasional.
Program serupa juga berkembang di berbagai negara Eropa yang memperluas kewenangan apoteker dalam layanan kesehatan primer.
Manfaat Test-and-Treat bagi Sistem Kesehatan
Beberapa manfaat utama model ini antara lain:
1. Meningkatkan akses layanan kesehatan
Apotek komunitas biasanya lebih mudah dijangkau dibanding fasilitas kesehatan lainnya.
2. Mempercepat diagnosis dan terapi
Tes cepat memungkinkan terapi dimulai lebih awal, terutama pada penyakit infeksi akut.
3. Mengurangi beban fasilitas kesehatan
Pasien dengan penyakit ringan tidak selalu harus datang ke rumah sakit atau klinik.
4. Meningkatkan penggunaan obat yang rasional
Tes diagnostik membantu memastikan terapi diberikan berdasarkan penyebab penyakit.
Tantangan Implementasi di Indonesia
Di Indonesia, konsep test-and-treat di apotek komunitas masih belum diterapkan secara luas. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
Regulasi kewenangan apoteker
Saat ini kewenangan apoteker dalam memberikan terapi berbasis diagnosis masih terbatas.
Ketersediaan perangkat diagnostik
POCT membutuhkan standar kualitas dan pelatihan penggunaan yang tepat.
Integrasi sistem kesehatan
Data hasil pemeriksaan perlu terhubung dengan sistem rekam medis pasien.
Standar kompetensi
Apoteker perlu mendapatkan pelatihan tambahan dalam melakukan pemeriksaan diagnostik dan interpretasi hasil tes.
Peluang Pengembangan di Masa Depan
Meskipun menghadapi tantangan regulasi, peluang pengembangan layanan ini di Indonesia cukup besar. Beberapa faktor yang dapat mendukung implementasi test-and-treat antara lain:
- jumlah apotek komunitas yang sangat besar
- distribusi apotek yang dekat dengan masyarakat
- perkembangan teknologi diagnostik cepat
- transformasi digital kesehatan nasional
Jika dikembangkan melalui proyek percontohan (pilot project), layanan ini dapat menjadi bagian dari strategi peningkatan layanan kesehatan primer.
Peran Strategis Apoteker
Implementasi test-and-treat juga berpotensi memperkuat peran apoteker sebagai tenaga kesehatan yang tidak hanya berfokus pada obat, tetapi juga pada manajemen terapi pasien secara menyeluruh.
Dalam model ini, apoteker dapat berperan dalam:
- melakukan skrining awal pasien
- melakukan pemeriksaan diagnostik sederhana
- memberikan terapi sesuai protokol
- memberikan edukasi penggunaan obat
- melakukan rujukan jika diperlukan
Pendekatan ini sejalan dengan tren global yang menempatkan apoteker sebagai bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan primer.
Penutup
Model layanan test-and-treat di apotek komunitas menunjukkan bagaimana praktik kefarmasian dapat berkembang mengikuti kebutuhan sistem kesehatan modern. Dengan memanfaatkan aksesibilitas apotek dan kompetensi klinis apoteker, layanan ini dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap diagnosis dan terapi yang cepat serta rasional.
Meskipun implementasinya di Indonesia masih memerlukan penyesuaian regulasi dan penguatan kompetensi, konsep ini membuka peluang bagi apoteker untuk berperan lebih aktif dalam pelayanan kesehatan masyarakat di masa depan.
Pustaka
Gershman J. Pharmacists Can Implement Test-and-Treat Services in Their Practice Settings. Pharmacy Times.
National Alliance of State Pharmacy Associations. Pharmacist Prescribing: Test & Treat.
Hohmeier KC et al. Community pharmacy-based influenza point-of-care testing. Implementation Science Communications.
Witry M. The role of community pharmacists in point-of-care testing.
Alshorman K. Community pharmacy-led POCT services.