Rukobia “Fostemsavir”, Obat Baru Bagi Lasien HIV-1 Resisten

Majalah Farmasetika – Rukobia (Fostemsavir) merupakan obat yang digunakan untuk infeksi virus imunodefisiensi tipe 1 (HIV-1) pada orang dewasa dengan resistensi terhadap beberapa obat lain. (Lagishetty et al, 2020).

Efek samping

Fostemsavir memang dapat menyebabkan efek samping seperti abnormalitas tertentu. Salah satu kasus yang tercatat adalah pada ibu hamil berdasarkan MADCP (Metropolitan Atlanta Congenital Defects Program) penggunaan fostemsavir pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran, cacat lahir dimana persentase tersebut tercatat hingga 15 – 20 % kejadian.

Disetujui FDA

Fostemsavir sendiri dikembangkan oleh ViiV Healthcare yang merupakan perusahaan HIV khusus yang didirikan oleh GSK dan Pfizer pada tahun 2009.

Fotemsavir disetujui di Amerika Serikat pada 2 Juli 2020 untuk pengobatan infeksi HIV-1 pada orang dewasa yang resisten terhadap regimen antiretroviral yang sedang digunakan (Markham, 2020).

Hasil uji klinik

Uji coba fase I dilakukan pada bulan November 2009 melalui studi QT dan pemodelan exposure-response pada konsentrasi terapeutik dan supraterapeutik Temsavir (Lagishetty et al, 2020).

Kemudian, dilakukan uji coba fase IIb pada tahun 2011 hingga 2017. Saat ini sedang dilakukan uji klinis fase 3 BRIGHTE dan diperkirakan berakhir pada bulan Desembar 2024 (Markham, 2020).
Pengujian klinis fase 3 ini dilakukan terhadap 371 subjek yang sudah pernah diterapi dengan multiclass HIV-1 resistance. Subjek tersebut harus memiliki paling sedikit 400 salinan muatan virus tiap mL dan tersisa pengobatan kurang dari 2 kelas obat anti retrovirus karena adanya resistansi, intoleran, kontraindikasi, maupun masalah keamanan lainnya. Subjek dibagi kedalam kelompok random (272 subjek) dan tidak random (99 subjek).
Sedangkan untuk kelompok random, subjek diberikan blinded rukobia 600 mg dua kali sehari untuk 203 subjek dan plasebo untuk 69 subjek, yaitu peneliti dan subjek tidak mengetahui subjek mana saja yang mendapat terapi rukobia dan mana yang hanya mendapat plasebo.

Pemberian blinded rukobia tersebut dilakukan selama 8 hari dan diberikan sebagai tambahan monoterapi yang sebelumnya dilakukan tapi gagal. Setelah hari ke-8, subjek akan diberikan openlabel rukobia 600 mg dua kali sehari (peneliti dan subjek mengetahui regimen apa yang mereka dapatkan) ditambah OBT (optimized background therapy) yang dipilih oleh peneliti. Hasilnya ialah kelompok random ini menunjukkan keberhasilan terapi rukobia
Subjek pada kelompok tidak random tidak memiliki agen aktif antiretroviral yang disetujui saat dilakukan skrining. Subjek ini diberikan terapi rukobia dua kali sehari dengan penambahan OBT sejak hari pertama.

Baca :  Niraparib Zejula, Harapan Baru Untuk Mengatasi Kanker Ovarium

Hasil keseluruhan dari kelompok random dan tidak random ialah, 81% dari penggunaan rukobia ini menimbulkan efek samping yang ringan-sedang.

Kebaryan fostemsavir

Keterbaruan dari Fostemsavir dibandingkan dengan obat Ibalizumab yang sebelumnya telah disetujui oleh FDA pada tahun 2018 sebagai regimen terapi dalam pengobatan MDR HIV adalah mekanisme kerja serta rute pemberiannya. Temsavir merupakan metabolit aktif dari fostemsavir yang dapat menginhibisi aktivitas dari subunit gp120 sehingga HIV-1 tidak dapat berikatan dengan reseptor CD4 pada sel inang.

Untuk rute pemberian obat, fostemsavir dapat diberikan secara peroral dalam bentuk tablet 600 mg yang digunakan sebanyak 2 kali sehari. Hal tersebut menyebabkan meningkatnya kemudahan dan kenyamanan pasien dalam penggunaan obat dibandingkan dengan pemberian Ibalizumab secara intravena yang harus dilakukan oleh tenaga profesional.
Di Indonesia sendiri terapi rukobia ini belum tersedia atau belum beredar, maka untuk studi lebih lanjut perlu dilakukan pengujian klinik supaya bisa mengetahui apakah terapi rukobia bisa digunakan di Indonesia atau tidak.

Adapun kelebihan-kelebihan dari Rukobia (Fostemsavir) ini diantaranya ialah : Fostemsavir memiliki mekanisme yang baru dalam melawan HIV-1 dan sangat efektif dalam mengurangi HIV-1 secara signifikan pada pasien yang berpengalaman dengan pengobatan dengan infeksi HIV-1 yang resisten terhadap beberapa obat (Viiv Healthcare, 2020; Li Z et al., 2020).

Terapi HIV di Indonesia

Saat ini di Indonesia, penggunaan terapi yang umum digunakan untuk pengobatan HIV-1 resisten adalah kombinasi penggunaan minimal dua obat yang diduga masih dapat bekerja pada pasien.

Paduan obat tersebut yaitu kombinasi 2 NRTI dan 1 boosted-PI yaitu LPV/r (lopinavir/ritonavir). NRTI tersebut dapat berupa tenofovir, emtrisitabin, zidovudine dan lamivudine (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2019). Rukobia ditemukan tidak berinteraksi secara antagonis dengan obat-obatan tersebut. Sejauh ini, uji klinik Rukobia dilakukan pada dua kelompok dengan kondisi yang sangat berbeda, sehingga sulit untuk membandingkannya dengan uji klinik obat antiretroviral lain terutama dalam hal reaksi obat yang tidak diinginkan (ROTD) (FDA, 2019).

Baca :  FDA Peringatkan Obat Antipsikotik Olanzapine Bisa Sebabkan Reaksi Kulit Serius

Tetapi telah dilakukan perbandingan antara penggunaan fostemsavir (FTR) berbagai dosis dengan pasien yang sebelumnya menggunakan ATV lalu dilanjutkan FTR. Dari uji klinik tersebut didapatkan bahwa FTR dosis 600 mg dua kali sehari memiliki efikasi yang lebih tinggi (80%) dibandingkan penggunaan ATV dan dilanjutkan FTR (75%) (Lalezari et al., 2019).
Tetapi bukan tidak mungkin cepat atau lambat rukobia akan menjadi salah satu terapi untuk HIV-1 resisten.
Sumber
Food and Drug Administration. 2019. Rukobia Intergated Review Document. NDA 212950. Tersedia online di: https://www.fda.gov/media/140641/download. Diakses pada tanggal 17 November 2020.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/90/2019. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana HIV. 19 Februari 2019.
Lagishetty, C. et al. 2020. Effects of Temsavir, Active Moiety of Antiretroviral Agent Fostemsavir, on QT Interval : Results From a Phase I Study and an Exposure-Response Analysis. Clinical and Translational Science. Vol.13 (4) : 769-776.
Lalezari JP, Latiff GH, Brinson C, et al. 2015. Safety and efficacy of the HIV-1 attachment inhibitor prodrug BMS-663068 in treatment-experienced individuals: 24 week results of AI438011, a phase 2b, randomised controlled trial. Vol. 2: 427-437.
Markham, A. 2020. Fostemsavir : First Approval. Drugs. Vol. 80 : 1495 – 1490.
ViiV Healthcare. Rukobia prescribing information. July 2020.
Li Z, Zhou N, Sun Y, et al. Activity of the HIV-1 attachment inhibitor BMS-626529, the active component of the prodrug BMS-663068, against CD4-independent viruses and HIV-1 envelopes resistant to other entry inhibitors. Antimicrob Agents Chemother 2013;57:4172-4180.

Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About Rezsitta Oknine Husein

Check Also

Beberapa gorila positif COVID-19 di kebun binatang San Diego (Foto arsip kebun binatang San Diego)

Virus Corona Serang Kebun Binatang, 8 Gorila Positif COVID-19

Majalah Farmasetika – Ketika dua gorila di Taman Safari Kebun Binatang San Diego, California, Amerika …

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.