Project Milenial featuring news blogs and tutorials Adjustable Beds – Not Just For The Elderly! How A Dermatologist Can Help With Acne Problems Aromatherapy And Kids Amazingly Simple Skin Care Tips For People With Acne

Malnutrisi Sejak Dini Pengaruhi Tingkat Kecerdasan Anak

Majalah Farmasetika – Malnutrisi merupakan masalah kesehatan yang sulit diatasi oleh bangsa Indonesia, terutama malnutrisi yang terjadi pada anak. Kementerian Kesehatan tahun 2007 dan 2010 secara konsisten menunjukkan bahwa rata-rata asupan kalori dan protein anak balita masih di bawah Angka Kecukupan Gizi (AKG).

Anak yang memiliki status gizi kurang atau buruk (underweight) berdasarkan pengukuran berat badan terhadap umur (BB/U) dan pendek atau sangat pendek (stunting) berdasarkan pengukuran tinggi badan terhadap umur (TB/U) yang sangat rendah terhadap standar WHO mempunyai resiko kehilangan kecerdasan atau intelligence quotient (IQ) sebesar 1015 poin.

Saat ini, hampir satu dari tiga orang di dunia menderita setidaknya satu bentuk kekurangan gizi: kurus, pendek, kekurangan vitamin dan mineral, kelebihan berat badan atau obesitas, dan penyakit tidak menular yang berhubungan dengan pola makan.

Salah satu organ yang paling cepat rusak akibat malnutrisi adalah otak. Otak adalah saraf pusat yang berkaitan erat dengan respon anak terhadap melihat, mendengar, berpikir, dan melakukan gerakan. Mengutip dari anwar 2008 dalam Sumiati dan Ikhram 2018.

Pendapat Anwar (2008) bahwa pengaruh makanan terhadap perkembangan otak, apabila makanan tidak cukup mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan, dan keadaan ini berlangsung lama, akan menyebabkan perubahan metabolisme dalam otak, berakibat terjadi ketidakmampuan berfungsi normal.

Pada keadaan yang lebih berat dan kronis, kekurangan gizi menyebabkan pertumbuhan badan terganggu, badan lebih kecil diikuti dengan ukuran otak yang juga kecil. Jumlah sel dalam otak berkurang dan terjadi ketidakmatangan dan ketidaksempurnaan organisasi biokimia dalam otak. Keadaan ini berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan anak

Menurut Liansyah (2015), anak yang kurang zat besi dapat berdampak pada gangguan pertumbuhan sel-sel otak, yang kemudian hari dapat mengurangi IQ anak hinga 10%.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aurora dkk tahun 2020 bahwa terdapat hubungan yang kuat antara malnutrisi dan IQ pada anak, sebanyak 82,9% anak malnutrisi yang diteliti memiliki hasil tes IQ yang tidak optimal. Hubungan intelihen berpengaruh pada anak-anak karena kurangnya konsumsi nutrisi mikro seperti yodium, Fe, dan PEM.

Anak-anak yang malnutrisi memiliki peluang 5,2 lebih rendah dibandingkan anak yang tidak malnutsis setelah dikontrol oleh asupan makanan, status ekonomi, sanitasi lingkungan dan akademik.

Lantas bagaimana cara untuk mengatasi malnutrisi pada anak?

Cara mengatasi kurang gizi biasanya disesuaikan kembali dengan tingkat keparahan dan kondisi khusus yang dialami masing-masing anak. Secara garis besar, pengobatan untuk kondisi anak dengan gizi kurang yaitu dengan rencana perawatan, pengaturan pola makan yang akan disarankan oleh dokter dan ahli gizi sesuai dengan kondisi pasien, pemantauan kesehatan anak yang dilakukan secara rutin untuk melihat apakah anak menerima jumlah kalori dan kebutuhan gizi yang cukup, serta dapat diberikan pengobatan terhadap kondisi anak yang telah kritis.

Sumber :

Aurora, W. I. D., Sitorus, R. J., dan Flora, R., 2020. Effect of Stunting on Intelligence Quotient (IQ) of School-Age Children. Proceedings of The 3rd Green Development International Conference (GDIC 2020). Volume 205.

Liansyah, T. M., 2015. Malnutrisi pada Anak Balita. Jurnal Buah Hati. Vol II (1).

Sumiati, dan Ikhram, H., 2018. Pengaruh Status Gizi Dengan Tingkat Kecerdasan Pada Siswa/i Sekolah Dasar Di Kota Makassar. Prosiding Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 1.

Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About Rizkita Nur Ainun

Rizkita Nur Ainun
Mahasiswi farmasi semester 5 di Universitas Halu Oleo

Check Also

Data dan Fakta Terkait Varian COVID-19 Omicron Menurut WHO

Majalah Farmasetika – Pada tanggal 26 November 2021, WHO menetapkan varian B.1.1.529 sebagai varian yang …

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.