diabetes
pic : freedigitalphotos.net

10 Hasil Penelitian Klinis Diabetes yang Wajib Diketahui Apoteker

7. PROactive (2005)

Penelitian prospektif, acak, dan terkontrol ini memeriksa efek pioglitazone terhadap pencegahan sekunder kejadian penyakit makrovaskular pada pasien DT2 berisiko tinggi.

Sebanyak 5.238 pasien DT2 dengan bukti penyakit makrovaskular dikelompokkan pada kelompok pioglitazone dan plasebo yang akan diberikan selain obat-obat penurun kadar glukosa dan obat lainnya.

Hasil akhir primer (gabungan tingkat kematian secara keseluruhan, infark miokard non-fatal, stroke, sindrom koroner akut, dan beberapa hasil akhir lainnya) tidak mencapai signifikansi secara statistik. Hasil akhir sekunder (gabungan tingkat kematian secara keseluruhan, infark miokard non-fatal, stroke) secara signifikan lebih rendah pada kelompok pioglitazone. Sedikit lebih banyak partisipan yang mengonsumsi pioglitazone dirawat inap karena gagal jantung.

Kesimpulan
Pada pasien DT2 berisiko tinggi, pioglitazone tidak menurunkan hasil akhir makrovaskular primer. Akan tetapi, teradapat penurunan secara signifikan pada hasil akhir sekunder penyakit kardiovaskular utama.

8. EMPA-REG OUTCOMES (2015)
Penelitian ini dirancang untuk mengetahui pengaruh empagliflozin terhadap morbiditas dan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular pada pasien DT2 yang berisiko tinggi terhadap kejadian kardiovaskular.

Penelitian ini melibatkan pengacakan 7.020 pasien pada kelompok empagliflozin oral harian 10 mg, 25 mg, dan plasebo. Durasi pengobatan rata-rata yaitu 2,6 tahun dan waaktu pengamatan rata-rata yaitu 3,1 tahun.

Empagliflozin menghasilkan penurunan hasil primer (kematian keseluruhan akibat kardiovaskular, infark miokard non-fatal, dan stroke non-fatal. Obat ini juga menghasilkan risiko kematian yang jauh lebih rendah akibat kardiovaskular, kematian akibat penyebab lainnya, dan rawat inap akibat gagal jantung. Sedikit penurunan teramati pada berat badan, lingkar pinggang, serta tekanan darah sistol dan diastol pada pasien yang diobati dengan empagliflozin dibandingkan plasebo.

Kesimpulan
Empagliflozin mengurangi laju kejadian penyakit kardiovaskular pada pasien DT2 yang memiliki risiko tinggi kardiovaskular.

Baca :  Peneliti Temukan Obat Diabetes Bisa Berperan Penting dalam Terapi Kanker Payudara

9. LEADER (2016)

Penelitian multicenter, double-blind, dan dengan kontrol plasebo ini menyalidiki keamanan kardiovaskular liraglutida selama periode hingga 5 tahun. Penelitian ini melibatkan lebih dari 9.000 pasien dewasa dari 410 lokasi di 32 negara. Hasil keseluruhan primer dalam analisis waktu terhadap kejadian adalah kejadian pertama kematian akibat kardiovaskular, infark miokard non-fatal, atau stroke non-fatal.

Kelompok liraglutida menunjukkan risiko yang secara statistik terhadap hasil primer. Ditemukan juga risiko kematian yang lebih rendah akibat penyakit kardiovaskular, kematian akibat penyebab lainnya, dan kejadian mikrovaskular.

Kesimpulan
Pasien-pasien DT2 yang diberi liraglutida mengalami penurunan kejadian kardiovaskuler yang signifikan dibandingkan plasebo.

10. The North American Comparator Trial (2013)

Penelitian ini dilaksanakan untuk menentukan perbedaan akurasi antara sistem pemantauan glukosa darah (blood glucose monitoring system, BGMS) Contour Next EZ dengan 4 BGMS lainnya (Accu-Chek Aviva, FreeStyle Freedom Lite, One Touch Ultra 2, and True-Track).

Hingga 3 sampel darah kapiler diambil dari 146 subyek dengan dan tanpa diabetes. Akurasi BGMS dibandingkan menggunakan mean absolute relative difference (MARD) dan analisis lainnya. Selama memeriksa kadar glukosa, Contour EZ memiliki MARD paling rendah (4,7%); Accu-Chek, FreeStyle, One Touch, and True-Track memiliki nilai MARD 6,3%, 18,3%, 23,4%, and 26,2%, secara berturut-turut. Untuk sampel dengan konsentrasi glukosa

Kesimpulan
Contour Next EZ meter merupakan BGMS paling akurat yang diperiksa.

Sumber :

  1. http://www.pharmacytimes.com/contributor/timothy-o-shea/2016/07/10-diabetes-studies-every-pharmacist-should-know
  2. http://lifestyle.sindonews.com/read/1101939/155/penderita-diabetes-di-indonesia-ketujuh-terbesar-di-dunia-1460963840
Share this:

About Hafshah

Hafshah Nurul Afifah, S.Farm., Apt. meraih gelar sarjana dari Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran pada tahun 2012. Gelar apoteker diperoleh dari Program Studi Profesi Apoteker Universitas Padjadjaran pada tahun 2016. Tahun 2012 hingga 2013 bekerja full-time sebagai editor buku farmasi di CV. EGC Penerbit Buku Kedokteran. Saat ini masih aktif sebagai editor dan penerjemah lepas serta bekerja sebagai staff Quality Assurance di sebuah industri farmasi swasta di Bandung.

Check Also

Konsumsi Vitamin C Kurangi Radang Paru-Paru pada Pasien Cystic Fibrosis

Majalah Farmasetika – Vitamin C dapat mengurangi peradangan paru-paru pada pasien dengan cystic fibrosis (CF), …

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.