Cold Chain Product (CCP) merupakan kelompok sediaan farmasi yang memerlukan pengendalian suhu ketat sepanjang proses penyimpanan dan distribusi. Pada fasilitas distribusi, gangguan seperti penurunan performa chiller, pemadaman listrik, alarm suhu kritis, dan kesalahan operasional dapat memicu deviasi suhu yang berisiko terhadap mutu produk. Artikel ini bertujuan menganalisis penerapan contingency plan dalam mitigasi risiko deviasi suhu pada penyimpanan CCP di Pedagang Besar Farmasi (PBF). Penulisan dilakukan secara deskriptif-kualitatif melalui wawancara dengan apoteker penanggung jawab (APJ) dan telaah literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa contingency plan di PBF X telah diterapkan sebagai bagian dari sistem mutu, tercermin dari tersedianya prosedur tertulis, deteksi dini deviasi suhu, alur respons awal, dokumentasi kejadian, evaluasi excursion, pemulihan suhu, dan tindak lanjut melalui tindakan korektif dan pencegahan. Dengan demikian, contingency plan berfungsi sebagai mekanisme operasional yang membantu memperpendek durasi deviasi suhu, mendukung pengambilan keputusan terhadap produk terdampak, dan memperkuat penjaminan mutu CCP di PBF
Kata kunci: cold chain product, contingency plan, deviasi suhu, mitigasi risiko, pedagang besar farmasi
Pendahuluan
Mutu obat tidak hanya harus dijamin pada saat diproduksi oleh industri farmasi, tetapi juga harus dipertahankan selama proses penyimpanan dan distribusi sampai produk diterima oleh fasilitas pelayanan kefarmasian. Dalam rantai distribusi tersebut, Pedagang Besar Farmasi (PBF) memegang peran penting karena menjadi sarana yang melakukan pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran obat dalam jumlah besar. Posisi ini menjadikan PBF sebagai salah satu titik kritis dalam menjaga keamanan, khasiat, dan mutu sediaan farmasi sepanjang jalur distribusi (BPOM RI, 2025)
Salah satu kelompok produk yang paling memerlukan perhatian khusus adalah Cold Chain Product (CCP). Produk ini meliputi vaksin, insulin, produk biologis, dan beberapa sediaan lain yang sensitif terhadap perubahan suhu. Ketidaksesuaian suhu simpan dapat menurunkan stabilitas, potensi, serta efektivitas produk, sehingga pengendalian suhu pada CCP harus dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penjaminan mutu selama distribusi (Astiani & Musfiroh, 2022)
Pada praktik distribusi, pengendalian suhu penyimpanan CCP tidak cukup dilakukan hanya dengan menjaga ruang simpan tetap dingin. Sistem yang baik harus mencakup fasilitas yang sesuai, pemantauan suhu yang akurat, penggunaan data logger, alarm suhu, pemetaan suhu, pemeliharaan alat, dan mekanisme penanganan bila terjadi penyimpangan. Artinya, isu suhu pada CCP bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga menyangkut konsistensi penerapan sistem mutu di fasilitas distribusi (Pamungkas & Musfiroh, 2023)
Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 20 Tahun 2025 tentang Standar Cara Distribusi Obat yang Baik menegaskan bahwa area penyimpanan, termasuk cold room, chiller, dan freezer, harus dipetakan pada kondisi suhu yang mewakili. Untuk produk rantai dingin, pemantauan harus dilakukan terus-menerus secara elektronik dan setiap penyimpangan harus dikelola di dalam sistem mutu. Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian suhu pada CCP menuntut kesiapan fasilitas sekaligus kesiapan respons (BPOM RI, 2025)
Dalam konteks itulah contingency plan menjadi penting. Contingency plan dapat dipahami sebagai panduan tindakan ketika kondisi penyimpanan tidak berjalan sebagaimana mestinya, misalnya saat terjadi gangguan listrik, alarm suhu kritis, kerusakan chiller, atau kondisi lain yang menyebabkan deviasi suhu. Meskipun elemen ini sering muncul dalam pembahasan implementasi CDOB, posisinya masih jarang dikaji secara khusus sebagai mekanisme mitigasi risiko terhadap deviasi suhu pada penyimpanan CCP (Kumar & Jha, 2017)
Berdasarkan hal tersebut, artikel ini disusun untuk menganalisis penerapan contingency plan dalam mitigasi risiko deviasi suhu pada penyimpanan CCP di PBF. Fokus pembahasan diarahkan pada hasil wawancara dengan APJ yang kemudian dihubungkan dengan regulasi dan literatur pendukung, sehingga artikel ini tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga mencerminkan gambaran praktik lapangan yang lebih nyata (BPOM RI, 2025)
Metode
Artikel ini disusun menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Data utama diperoleh melalui wawancara dengan apoteker penanggung jawab (APJ) di PBF X mengenai penerapan contingency plan pada penyimpanan CCP. Wawancara dilakukan menggunakan checklist evaluasi yang disusun berdasarkan aspek pengendalian suhu, pengelolaan penyimpangan, dan sistem mutu sesuai ketentuan CDOB 2025. Selain hasil wawancara, penulisan artikel juga didukung oleh telaah literatur yang meliputi regulasi nasional dan artikel ilmiah terkait pengelolaan CCP di PBF, temperature monitoring, temperature mapping, dan temperature excursion management. Data hasil wawancara dianalisis secara deskriptif dengan menghubungkan temuan lapangan dengan konsep dan ketentuan yang berlaku, sehingga dapat diperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai posisi contingency plan dalam pengendalian suhu penyimpanan CCP (Kartoglu & Ames, 2022)
Gambaran pengendalian suhu CCP di PBF X
Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ, pengendalian suhu pada penyimpanan CCP di PBF X dipandang sebagai salah satu area yang paling kritis dalam kegiatan distribusi. Hal ini disebabkan karena CCP merupakan produk yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu, sehingga setiap gangguan, baik yang berasal dari alat maupun aktivitas operasional, harus segera dikenali. Dalam praktiknya, APJ menekankan bahwa pengendalian suhu bukan hanya bergantung pada alat penyimpanan, tetapi juga pada konsistensi pemantauan dan kesiapan personel ketika terjadi kondisi tidak normal (BPOM RI, 2025)
Pandangan tersebut sejalan dengan ketentuan CDOB 2025 yang menempatkan suhu dan pengendalian lingkungan sebagai komponen utama pada bangunan dan peralatan. Regulasi ini mensyaratkan pemetaan suhu awal, pemantauan suhu dan kelembapan, kalibrasi alat, serta pemeliharaan peralatan vital seperti chiller, genset, dan termometer. Dengan demikian, pengendalian suhu pada CCP harus dipahami sebagai sistem yang saling terhubung, bukan sebagai aktivitas tunggal yang berdiri sendiri (BPOM RI, 2025)
Posisi contingency plan dalam penyimpanan CCP
Hasil wawancara menunjukkan bahwa contingency plan di PBF X tidak dipandang hanya sebagai dokumen untuk kebutuhan audit atau kelengkapan administrasi. APJ menjelaskan bahwa contingency plan digunakan sebagai pedoman ketika penyimpanan mengalami gangguan yang berpotensi menyebabkan deviasi suhu. Dalam konteks operasional, dokumen tersebut membantu menentukan siapa yang harus bertindak, langkah apa yang dilakukan terlebih dahulu, dan bagaimana kejadian didokumentasikan (Kumar & Jha, 2017).
Temuan tersebut penting karena dalam praktik distribusi, sistem penyimpanan tidak selalu berjalan dalam kondisi ideal. Pada saat gangguan terjadi, keberadaan prosedur yang jelas akan menentukan apakah respons dapat dilakukan secara cepat dan seragam atau justru berjalan lambat dan tidak terarah. Dari sisi mutu, keterlambatan respons dapat memperpanjang paparan suhu di luar rentang yang dipersyaratkan, sehingga meningkatkan risiko terhadap stabilitas produk (Desai et al., 2020)
Kondisi yang memerlukan aktivasi contingency plan
Contingency plan terutama diperlukan ketika muncul alarm suhu kritis, terjadi pemadaman listrik, performa chiller menurun, atau terdapat indikasi bahwa suhu penyimpanan tidak stabil. Selain faktor teknis tersebut, juga ditekankan bahwa aktivitas operasional, seperti intensitas buka-tutup pintu penyimpanan, dapat menjadi faktor yang memicu fluktuasi suhu. Dengan kata lain, sumber risiko tidak selalu berasal dari kerusakan alat, tetapi juga dapat muncul dari dinamika kerja sehari-hari. Kondisi tersebut didukung oleh studi pemetaan suhu penyimpanan CCP yang menunjukkan bahwa suhu maksimum pada ruang simpan dapat mendekati bahkan melampaui batas atas rentang penyimpanan saat aktivitas operasional meningkat. Temuan ini memperlihatkan bahwa deviasi suhu bukan sekadar kemungkinan teoritis, melainkan situasi yang bisa terjadi dalam praktik nyata. Karena itu, contingency plan menjadi penting sebagai alat kesiapsiagaan agar gangguan tidak berkembang menjadi risiko mutu yang lebih besar. (Pamungkas & Musfiroh, 2023)
Alur respons saat terjadi deviasi suhu
Wawancara dengan APJ menunjukkan bahwa ketika alarm suhu terpicu, langkah pertama yang dilakukan adalah memastikan kondisi aktual unit penyimpanan, termasuk memeriksa tampilan suhu, kondisi pintu, dan kemungkinan sumber gangguan. Setelah itu, personel terkait segera melaporkan kejadian kepada APJ untuk menentukan tindak lanjut. Di tahap ini, kecepatan respons menjadi hal yang sangat penting, karena semakin lama suhu berada di luar rentang yang dipersyaratkan, semakin besar pula risiko terhadap mutu produk. (Kartoglu & Ames, 2022)
Literatur mengenai temperature monitoring menegaskan bahwa alarm suhu tidak cukup hanya memberi sinyal bahwa terjadi penyimpangan. Informasi yang dibutuhkan untuk tindak lanjut meliputi waktu alarm, suhu tertinggi atau terendah yang tercapai, serta durasi excursion. Informasi ini menjadi dasar evaluasi apakah kejadian bersifat singkat dan terkendali atau sudah memasuki tingkat yang memerlukan penanganan lebih lanjut terhadap produk. Dengan demikian, contingency plan harus terhubung erat dengan sistem pencatatan suhu yang mampu menyediakan data tersebut. (Kartoglu & Ames, 2022)
Kajian mengenai continuous temperature monitoring juga menunjukkan bahwa data logger memungkinkan identifikasi waktu mulai dan berakhirnya deviasi, suhu minimum dan maksimum, serta lama kejadian. Dari sudut pandang mutu, data tersebut sangat penting karena keputusan terhadap produk tidak dapat didasarkan hanya pada asumsi bahwa suhu sempat naik atau turun. Keputusan yang baik harus ditopang oleh catatan objektif mengenai besaran dan durasi deviasi. (Leidner et al., 2020)
Peran APJ dalam implementasi contingency plan
Hasil wawancara memperlihatkan bahwa APJ memegang peran sentral dalam implementasi contingency plan. APJ tidak hanya menerima laporan ketika terjadi gangguan, tetapi juga berperan dalam mengarahkan respons, mengevaluasi kejadian, dan menentukan langkah lanjutan terhadap produk terdampak. Dalam praktik lapangan, keberadaan contingency plan menjadi efektif karena ada penanggung jawab yang memahami kapan dokumen tersebut harus diaktifkan dan bagaimana prosedurnya dijalankan (BPOM RI, 2025)
Peran tersebut sejalan dengan ketentuan CDOB 2025 yang menempatkan apoteker penanggung jawab sebagai pihak yang memastikan penerapan sistem mutu, mengelola penyimpangan, mengawasi dokumentasi, dan mengambil keputusan terhadap produk yang memerlukan penanganan khusus. Dalam konteks penyimpanan CCP, posisi APJ menjadi sangat penting karena keputusan terhadap kejadian deviasi suhu harus mempertimbangkan aspek teknis, dokumentasi, dan risiko mutu secara bersamaan (BPOM RI, 2025)
Contingency plan sebagai mekanisme mitigasi risiko mutu
Berdasarkan keseluruhan temuan, contingency plan pada penyimpanan CCP dapat dipahami sebagai mekanisme mitigasi risiko mutu. Fungsinya tidak terbatas pada tahap respons awal, tetapi mencakup keseluruhan rangkaian penanganan penyimpangan: deteksi, pelaporan, tindakan awal, evaluasi excursion, pemulihan kondisi simpan, hingga tindak lanjut melalui tindakan korektif dan pencegahan. Ketika sistem berjalan normal, contingency plan mungkin tidak tampak dominan, tetapi saat gangguan terjadi, dokumen inilah yang menentukan apakah respons dapat dilakukan secara cepat, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan (Desai et al., 2020)
Dari sudut pandang mutu, contingency plan memberi manfaat ganda. Pertama, membantu memperpendek durasi paparan suhu di luar rentang dengan mendorong respons yang lebih cepat. Kedua, menyediakan dasar yang lebih objektif dalam pengambilan keputusan terhadap produk terdampak karena seluruh kejadian dicatat dan dievaluasi. Dengan demikian, contingency plan tidak lagi seharusnya dipandang sebagai pelengkap administrasi, melainkan sebagai bagian penting dari sistem pengendalian suhu dan penjaminan mutu pada penyimpanan CCP di PBF (Unnikandam Veettil et al., 2024)
Tabel 1. Checklist Evaluasi Penerapan Contingency Plan pada Penyimpanan Cold Chain Product di PBF X
| No. | Aspek | Aspek Detail | Sesuai | Tidak Sesuai | Keterangan |
| 1 | Prosedur tertulis | Tersedia prosedur tertulis contingency plan untuk penanganan deviasi suhu pada penyimpanan CCP | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 2 | Deteksi deviasi suhu | Tersedia mekanisme deteksi dini melalui alarm dan pemantauan suhu kontinu | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 3 | Respons awal | Terdapat tindakan awal yang jelas ketika suhu keluar dari rentang yang dipersyaratkan | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 4 | Pelaporan kejadian | Terdapat alur pelaporan kejadian deviasi suhu kepada APJ atau pihak terkait | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 5 | Dokumentasi kejadian | Setiap kejadian deviasi suhu dicatat dan dapat ditelusuri | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 6 | Evaluasi excursion | Terdapat evaluasi terhadap suhu minimum, suhu maksimum, dan durasi deviasi | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 7 | Pemulihan suhu | Terdapat prosedur untuk mengembalikan suhu ke rentang aman | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 8 | Keputusan terhadap produk | Terdapat evaluasi atau keputusan terhadap produk yang terdampak deviasi suhu | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 9 | CAPA | Tersedia tindakan korektif dan pencegahan setelah kejadian deviasi suhu | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 10 | Peran APJ | APJ terlibat dalam koordinasi dan pengambilan keputusan saat terjadi deviasi suhu | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ |
Berdasarkan hasil checklist pada Tabel 1, seluruh komponen utama contingency plan di PBF X dinyatakan sesuai berdasarkan keterangan yang diperoleh dari wawancara dengan APJ. Temuan ini menunjukkan bahwa contingency plan di fasilitas tersebut tidak berhenti pada keberadaan dokumen, tetapi telah dipahami sebagai alur kerja ketika terjadi deviasi suhu pada penyimpanan CCP. Kesesuaian pada aspek prosedur tertulis, deteksi dini, respons awal, dokumentasi, evaluasi excursion, hingga CAPA memperlihatkan bahwa penanganan gangguan suhu telah diposisikan sebagai bagian dari sistem mutu yang berjalan.
Dari sisi operasional, tabel ini juga memperlihatkan bahwa titik terpenting dari contingency plan adalah kejelasan urutan tindakan. Ketika alarm suhu muncul, personel tidak perlu menunggu interpretasi yang berbeda-beda karena langkah awal, pelaporan, dan evaluasi sudah memiliki rujukan yang jelas. Dalam praktik distribusi, kondisi seperti ini sangat penting karena keterlambatan beberapa menit saja dapat memperpanjang paparan produk terhadap suhu di luar rentang yang dipersyaratkan. Oleh sebab itu, hasil checklist ini menguatkan bahwa contingency plan di PBF X berfungsi sebagai mekanisme mitigasi risiko, bukan sekadar dokumen formalitas untuk memenuhi persyaratan audit.
Tabel 2. Checklist Evaluasi Pengendalian Suhu pada Penyimpanan Cold Chain Product di PBF X
| No. | Aspek | Aspek Detail | Sesuai | Tidak Sesuai | Keterangan |
| 1 | Fasilitas penyimpanan | Tersedia chiller/cold room yang digunakan untuk penyimpanan CCP | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 2 | Pemetaan suhu | Dilakukan temperature mapping pada area penyimpanan CCP | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 3 | Monitoring suhu | Suhu dipantau secara berkala sesuai ketentuan | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 4 | Data logger | Pemantauan suhu CCP dilakukan secara kontinu secara elektronik | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 5 | Kalibrasi alat | Alat pemantauan suhu dikalibrasi secara berkala | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 6 | Alarm suhu | Terdapat alarm untuk mendeteksi excursion suhu | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 7 | Dokumentasi suhu | Catatan suhu penyimpanan tersimpan dan dapat ditelusuri | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 8 | Pemeliharaan alat | Chiller, genset, dan alat vital lainnya dipelihara secara berkala | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 9 | Investigasi penyimpangan | Terdapat prosedur untuk investigasi bila terjadi kondisi tidak diharapkan | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ | |
| 10 | Contingency plan | Contingency plan menjadi bagian dari sistem pengendalian suhu penyimpanan CCP | √ | Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ |
Hasil pada Tabel 2 menunjukkan bahwa sistem pengendalian suhu penyimpanan CCP di PBF X telah didukung oleh komponen-komponen teknis yang saling berkaitan, mulai dari fasilitas penyimpanan, pemetaan suhu, monitoring berkala, data logger, alarm suhu, kalibrasi alat, hingga prosedur investigasi penyimpangan. Kesesuaian seluruh aspek tersebut penting karena contingency plan tidak akan berjalan efektif jika tidak ditopang oleh sistem pengendalian suhu yang memadai. Dengan kata lain, keberhasilan respons terhadap deviasi suhu sangat bergantung pada apakah gangguan dapat terdeteksi cepat, tercatat akurat, dan ditindaklanjuti dengan alat serta sarana yang mendukung.
Dari pembacaan tabel ini juga terlihat bahwa contingency plan di PBF X berdiri di atas fondasi sistem yang relatif lengkap. APJ tidak hanya bergantung pada pemantauan manual, tetapi juga pada sistem pemantauan elektronik dan dokumentasi suhu yang dapat ditelusuri kembali. Kondisi ini memperkuat kemampuan fasilitas dalam mengambil keputusan yang lebih objektif ketika terjadi excursion suhu. Karena itu, checklist pengendalian suhu ini menjadi bukti bahwa pembahasan contingency plan pada artikel ini memang relevan ditempatkan dalam konteks sistem penyimpanan CCP secara utuh, bukan dibahas terpisah dari sarana, alat, dan pengawasan suhu harian.
Tabel 3. Definisi Operasional Variabel yang Relevan untuk Evaluasi Peran Contingency Plan
| No. | Variabel | Definisi Operasional | Satuan/Format | Kegunaan Analisis |
| 1 | Waktu munculnya alarm/deviasi suhu | Waktu pertama kali alarm berbunyi atau suhu keluar dari rentang 2–8°C | jam:menit | Menentukan awal kejadian excursion |
| 2 | Jenis gangguan | Bentuk gangguan yang memicu deviasi suhu | kategori | Mengidentifikasi pola kejadian |
| 3 | Waktu respons | Selisih waktu dari alarm/deviasi sampai tindakan awal dilakukan | menit | Menilai kecepatan implementasi contingency plan |
| 4 | Durasi suhu di luar rentang | Lama suhu berada di bawah 2°C atau di atas 8°C | menit | Menilai tingkat keparahan excursion |
| 5 | Suhu maksimum saat excursion | Suhu tertinggi yang tercatat selama kejadian | °C | Menilai besarnya penyimpangan |
| 6 | Suhu minimum saat excursion | Suhu terendah yang tercatat selama kejadian | °C | Menilai besarnya penyimpangan |
| 7 | Waktu pemulihan suhu | Lama waktu hingga suhu kembali ke rentang aman | menit | Menilai efektivitas tindakan |
| 8 | Tindakan contingency plan | Respons yang dilakukan saat gangguan terjadi | kategori/deskripsi | Mengevaluasi implementasi rencana darurat |
Tabel 3 memperlihatkan bahwa evaluasi peran contingency plan dapat diarahkan pada variabel-variabel yang konkret dan terukur, sehingga pembahasan tidak berhenti pada pernyataan normatif bahwa rencana kontingensi itu penting. Variabel seperti waktu munculnya alarm, waktu respons, durasi suhu di luar rentang, suhu maksimum atau minimum saat excursion, serta waktu pemulihan suhu memberikan gambaran yang lebih nyata tentang bagaimana suatu gangguan terjadi dan bagaimana respons dilakukan. Jika data-data ini tersedia dan dicatat dengan baik, maka efektivitas contingency plan dapat dianalisis secara lebih meyakinkan.
Keberadaan variabel operasional tersebut juga menunjukkan bahwa contingency plan dapat dilihat sebagai bagian dari proses evaluasi mutu yang sistematis. Jenis gangguan dan tindakan contingency plan yang diambil akan membantu menjelaskan apakah suatu kejadian berasal dari faktor alat, faktor lingkungan, atau faktor operasional. Selanjutnya, waktu respons dan waktu pemulihan dapat digunakan untuk menilai apakah tindakan yang diterapkan benar-benar mampu menurunkan risiko deviasi suhu berkepanjangan. Dengan demikian, tabel ini memberi dasar yang lebih kuat bila pada tahap berikutnya dilakukan pengembangan penelitian lapangan yang lebih mendalam.
Kesimpulan
Cold Chain Product merupakan kelompok sediaan farmasi yang sangat sensitif terhadap suhu, sehingga pengendalian suhu pada penyimpanannya di Pedagang Besar Farmasi harus dilakukan secara ketat dan konsisten. Berdasarkan hasil wawancara dengan APJ dan telaah literatur, contingency plan di PBF X telah diterapkan sebagai bagian dari sistem mutu, bukan sekadar dokumen administratif. Penerapannya terlihat pada kesiapan prosedur tertulis, mekanisme deteksi deviasi suhu, respons awal, dokumentasi kejadian, evaluasi excursion, pemulihan suhu, dan tindak lanjut melalui CAPA. Dengan demikian, contingency plan berperan penting dalam mitigasi risiko deviasi suhu dan mendukung penjaminan mutu CCP di PBF. (BPOM RI, 2025)
Daftar Pustaka
- Astiani, T., & Musfiroh, I. (2022). Review artikel: Pengelolaan Cold Chain Product (CCP) di Pedagang Besar Farmasi berdasarkan pedoman Cara Distribusi Obat yang Baik tahun 2020. Farmaka, 20(2), 136–143.
- Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2025). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 20 Tahun 2025 tentang Standar Cara Distribusi Obat yang Baik, Jakarta, Indonesia
- Desai, K. G., Colandene, J. D., & Adams, M. (2020). Comprehensive Temperature Excursion Management Program for the Commercial Distribution of Biopharmaceutical Drug Products. Journal of Pharmaceutical Sciences, 109(7), 2131–2144.
- Kartoglu, U., & Ames, H. (2022). Ensuring quality and integrity of vaccines throughout the cold chain: the role of temperature monitoring. Expert Review of Vaccines, 21(6), 799–810.
- Kumar, N., & Jha, A. (2017). Temperature excursion management: A novel approach of quality system in pharmaceutical industry. Saudi Pharmaceutical Journal, 25(2), 176–183.
- Leidner, A. J., Fisun, H., Trimble, S., Lucas, P., Noblit, C., & Stevenson, J. M. (2020). Evaluation of temperature stability among different types and grades of vaccine storage units: Data from continuous temperature monitoring devices. Vaccine, 38, 3008–3014.
- Pamungkas, P., & Musfiroh, I. (2023). Pemetaan suhu chiller penyimpanan produk rantai dingin pada salah satu PBF di Jakarta. Majalah Farmasetika, 8(4), 373–385.
- Unnikandam Veettil, S. R., Respicio, G., Zhang, D., Garcia, D., Malta, S., & Long, H. (2024). Temperature Excursion Management: A Tier-Based Approach for Commercial Oral Solid Dosage Forms. The AAPS Journal, 26, 108.
Ditulis oleh Mahasiswa Apoteker Farmasi UNPAD, Jea Yaumul Assyuroh.
Info Farmasi Terkini Berbasis Ilmiah dan Praktis Majalah Farmasi Online Pertama di Indonesia