Stabilitas Sediaan Suspensi Dipengaruhi oleh Tegangan Antarmuka

Majalah Farmasetika – Secara singkat tegangan permukaan adalah tegangan yang terjadi antarmuka dari fase gas dengan fase padat serta antara fase gas dengan fase cair, sedangkan tegangan antarmuka adalah tegangan yang terjadi pada permukaan antar dua fase. Misalnya, antara fase cair-fase padat, antara fase padat-fase padat dan antara fase cair-fase cair. Sedangkan (Sinala, 2016).

Bagaimana dengan suspensi apakah memiliki tegangan permukaan atau tegangan antarmuka?

Suspensi merupakan sediaan yang terdiri dari dua fase yang tidak saling bercampur yaitu bahan padatan sebagai fase terdispersi dan pelarut sebagai fase pendispersi. Nah, karena ketidakcampuran ini, maka terdapat tegangan antarmuka antara solut (fase padat) dengan pelarut (fase cair). Setiap sediaan yang tidak stabil akan cenderung berusaha untuk menstabilkan keadaannya.

Begitu halnya dengan suspensi, agar mendekati keadaan stabil, partikel-partikel dalam suspensi cair cenderung untuk berflokulasi yaitu membentuk suatu gumpalan (agglomerate). Sedangkan untuk mengurangi tegangan antarmuka, dapat dilakukan dengan penambahan suatu surfaktan (Sinala, 2016)

Menurut Anjani dkk (2011) suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa.

Zat yang terdispersi harus halus dan tidak boleh cepat mengendap. Jika dikocok perlahan-lahan endapan harus segera terdispersi kembali, dapat mengandung zat tambahan seperti suspending agent untuk menjamin stabilitas suspensi.

Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang Penggunaan suspending agent bertujuan untuk meningkatkan viskositas dan memperlambat proses pengendapan sehingga menghasilkan suspensi yang stabil.

Suspensi stabil apabila zat yang tersuspensi tidak cepat mengendap, harus terdispersi kembali menjadi campuran yang homogen dan tidak terlalu kental agar mudah dituang dari wadahnya. Salah satu suspending agent yang biasa digunakan dalam pembuatan sediaan suspensi adalah Pulvis Gummi Arabici.

Adakah faktor yang harus diperhatikan pada sediaan suspensi? Bagaimana akibatnya?

Faktor yang harus diperhatikan dalam sistem suspensi adalah pengendapan. Kecepatan pengendapan tergantung dari ukuran partikel dan viskositas, ketika ukuran partikel kecil maka partikel lambat untuk mengendap dan cenderung untuk membentuk agregat dan flokulasi dan jika mengendap dapat menyebabkan caking dan bila viskositas besar sulit keluar mengalir dari dalam mulut botol (Sinala, 2016).

Apakah sediaan suspensi saya masih dapat digunakan?

Ketidakstabilan fisik dari suspensi ditandai dengan adanya pemucatan warna atau timbulnya warna, timbul bau, perubahan atau pemisahan fase, pengendapan suspensi atau caking, perubahan konsistensi, terbentuknya gas dan perubahan fisik lainnya. Ketidakstabilan tersebut menandakan kerusakan pada sediaan suspensi dan tidak dapat digunakan kembali.

Lalu, bagaimana suspensi yang baik itu?

Kriteria suspensi yang baik, yaitu zat yang tersuspensi tidak boleh cepat mengendap, jika mengendap dapat bercampur kembali setelah dilakukan pengocokan ringan, mudah dituang dari botol (suspensi oral), mudah mengalir melewati jarum suntik (suspensi parenteral), dapat tersebar dengan baik di permukaan kulit (suspensi topikal) (Sinala, 2016).

Bagaimana ahli farmasi menjaga kestabillan sediaan suspensi

Menurut Fitriani dkk, (2015) stabilitas sediaan suspensi dipengaruhi oleh komponen-komponen yang terdapat dalam formulasi tersebut, salah satunya adalah zat pensuspensi atau suspending agent.

Oleh karena itu untuk mendapatkan suspensi yang stabil dan baik diperlukan penanganan dalam proses pembuatan, penyimpanan maupun pemilihan bahan pensuspensi.

Contoh suspending agent yang dapat digunakan adalah CMC Na (Carboxymethylcellulose Natrium) dan PGS (pulvis gummosus).

kestabilan sediaan farmasi perlu diperhatikan karena penting dalam penentuan ketahanan sediaan selama proses penyimpanan. Salah satu aspek dari kestabilan fisika dalam suspensi di bidang Farmasi adalah menjaga partikel agar tetap terdistribusi secara merata ke seluruh dispersi. Dalam hal tersebut, ahli farmasi harus mampu memformulasi sediaan suspensi yang stabil demi kenyamanan dan keamanan penggunaan, seperti yang dijelaskan pada beberapa penelitian di bawah ini.

Nadaf dkk (2014) membuat formulasi suspensi ciprofloxacin dengan zat pensuspensi alami Trigonella foenum graecum mucilage. Total 9 batch (C1-C9) disiapkan dengan memvariasikan konsentrasi zat pensuspensi dari 0,5-2% dan propilen glikol. Suspensi dievaluasi dengan mempelajari parameter yang berbeda seperti pH, volume sedimentasi, redispersibilitas, laju aliran (F), viskositas, tingkat flokulasi, efek suhu, dll. Trigonella foenum graecum mucilage menunjukkan stabilitas superior selama periode waktu. Peningkatan konsentrasi Trigonella foenum graecum mucilage dapat meningkatkan viskositas suspensi yang pada akhirnya mengurangi sedimentasi dan memberikan kontribusi terhadap stabilitas suspensi. Peningkatan viskositas juga mampu menghindari agregasi partikel sehingga partikel tetap dalam keadaan flokulasi.

Amudha & Komala (2014) membuat formulasi nanosuspensi yang mengandung Coriander sativum disiapkan dengan metode penguapan pelarut diikuti oleh homogenisasi dan dievaluasi dengan parameter seperti ukuran partikel, zeta potensial, PDI (Poly dispersibility index), kandungan obat dan pelepasan obat in-vitro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode penguapan pelarut diikuti oleh homogenisasi merupakan teknik yang dioptimalkan untuk persiapan nanosuspensi, yang mengarah pada hasil yang lebih baik seperti efisiensi tinggi, kandungan obat yang tinggi dan pemilihan sodium lauryl sulphate sebagai surfaktan adalah pilihan yang tepat untuk mengurangi ukuran partikel dan berperan penting untuk keseragaman distribusi partikel pada nanosuspensi.

Seelam & Abafita (2015) membuat formulasi suspensi sulfamethoxazole disiapkan dengan menggunakan prinsip perubahan pH. Persiapan fase terdispersi merupakan langkah penting dalam formulasi suspensi. Salah satu kriteria yang baik untuk suspensi adalah partikel fase terdispersi tersebar halus (mikron). Ukuran partikel yang halus dalam suspensi diperlukan untuk stabilitas fisik yang baik dan laju disolusi yang cepat.

Ukuran partikel dalam suspensi dapat dikurangi dengan teknik seperti mikronisasi menggunakan berbagai mesin reduksi ukuran dan juga dengan teknik farmasi seperti co-presipitasi dan metode perubahan pH. Suspensi sulfamethoxazole yang disiapkan dengan menggunakan prinsip perubahan pH ditemukan lebih baik daripada formulasi kontrol dilihat dari pengurangan ukuran partikel dan karakteristik sedimentasi sehingga lebih stabil secara fisik. Partikel tetap tersuspensi selama periode waktu yang lebih lama jika dibandingkan dengan formulasi kontrol. Dengan demikian, metode perubahan pH dapat menjadi metode yang lebih baik untuk menyiapkan suspensi.

Contoh produk suspensi komersil

Contoh sediaan suspensi yaitu diantaranya:

  1. Oral, contoh: suspensi kloramfenikol, rifampicin, dan lain-lain
  2. Ocular, contoh: suspensi hidrokortison asetat
  3. Otic, contoh: suspensi hidrokortison
  4. Parenteral, contoh: suspensi penicilin G (i.m)
  5. Rectal, contoh: suspensi paranitro sulfathiazol
  6. Topical, contoh: caladin losio (Sinala, 2016).

Saran penggunaan suspensi

Disarankan bertanya kepada ahli farmasi dalam penentuan dan penggunaan sediaan farmasi, untuk meminimalisir kekeliruan penggunaan sediaan farmasi. Karena suspensi adalah sediaan yang mudah mengendap jadi konsumen harus melakukan pengocokan terlebih dahulu sebelum penggunaan, pastikan expired date masih berlaku. jika endapan tidak mampu terlarut kemungkinan sediaan tersebut mengalami kerusakan dan sebaiknya tidak digunakan lagi.

Referensi:

Amudha P & Komala M. 2014. Formulation Of Nano Suspension Drug Delivery System Containing Coriander Sativum Extracts. International Journal of Biopharmaceutics, 5(3). pp.241-244.

Anjani M.R, Kusumowati I.T.D, Indrayudha P, & Sukmawati A. 2011. Formulasi Suspensi Siprofloksasin Dengan Suspending Agent Pulvis Gummi Arabici Dan Daya Antibakterinya. Pharmacon, 12(1). pp.26-32.

Fitriani Y.N, Cikra INHS, Yuliati N, & Aryantini D. 2015. Formulasi and Evaluasi Stabilitas Fisik Suspensi Ubi Cilembu (Ipomea batatas L.) dengan Suspending Agent CMC Na dan PGS Sebagai Antihiperkolesterol. Jurnal Farmasi Sains Dan Terapan, 2(1). pp.22-16.

Nadaf S.J, Mali S.S, Salunkhe S.S, & Kamble P.M. 2014. Formulation and evaluation of ciprofloxacin suspension using natural suspending agent. International Journal of Pharma Sciences and Research (IJPSR), 5(3). pp.63-70.

Seelam R.K & Abafita E. 2015. Formulation And Evaluation Of Sulphamethoxazole Suspension By Ph Change Methods. International Journal of Pharmaceutical Research And Analysis, 5(2). pp.83-86.

Sinala S. 2016. Farmasi Fisik. Kementrian kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.

Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About Hayatus Sa'adah

Hayatus Sa'adah

Check Also

Peran Alkohol dalam Formulasi Obat di Tengah Pro Kontra Kehalalannya

Majalah Farmasetika – Obat adalah sedian yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit agar kulitas hidup seseorang …

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.