Gambar oleh fernando zhiminaicela dari Pixabay

Metilprednisolon Bisa Obati Pasien COVID-19 dengan Pernafasan Akut

Majalah Farmasetika – Kebutuhan mendesak untuk solusi kurangnya tempat tidur ICU bertabah dengan meningkatnya kematian hari demi hari akibat COVID-19 di Italia. Pedoman institusi terkemuka Penyakit Menular Italia untuk penatalaksanaan klinis COVID-19 memasukkan metilprednisolon sebagai pilihan untuk pasien dengan kondisi fungsi pernapasan yang memburuk dengan perkiraan dosis 80 mg. 

Marco confalonie dari University of Trieste, Italia melaporkan studinya mengenai methylprednisolone untuk pasien COVID-19. Tujuan utama dari percobaan observasional multi-pusat metilprednisolon di Italia adalah untuk menganalisis hubungan pemberian metilprednisolon dosis rendah untuk pasien dengan sindrom pernapasan akut berat dengan titik akhir primer komposit . 

Obat ini secara umum digunakan untuk terapi Artritis dan pengobatan jangka pendek peradangan bronkus peradangan atau bronkitis akut akibat penyakit pernapasan.

Berdasarkan hasil studi, methylprednisolone dapat digunakan sebagai obat untuk pasien COVID-19 dengan sindrom pernapasan akut akibat virus SARS-CoV 2.

Apa itu metilprednisolon?

Methylprednisolone adalah obat kortikosteroid atau glukokortikoid sintetis (1). Obat ini termasuk dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia, daftar obat-obatan paling penting yang dibutuhkan dalam sistem kesehatan dasar (2). Seperti kebanyakan adrenokortikal steroid, methylprednisolone biasanya digunakan sebagai obat anti-inflamasi. Namun, glukokortikoid memiliki berbagai efek, termasuk perubahan metabolisme dan respon imun. Obat ini secara umum digunakan untuk terapi Artritis dan pengobatan jangka pendek peradangan bronkus peradangan atau bronkitis akut akibat penyakit pernapasan. Metilprednisolon juga mungkin bermanfaat dalam pengobatan pasien gagal jantung (3).

Uji klinik metilprednisolon untuk COVID-19 di Italia

Marco confalonie dari University of Trieste, Italia melaporkan studinya mengenai methylprednisolone untuk pasien COVID-19. Studi yang dilakukan berupa studi kohort dengan 173 partisipan. Kriteria pasien dalam studi tersebut meliputi: umur 18-80 tahun, positif SARS-CoV 2, bilateral pneumonia, CRP >10mg/dL, dan P/F <250 mmHg. Status studi ini dalam clinicaltrials.gov adalah completed. Pada studi ini digunakan dua kelompok pasien positif SARS-CoV 2 dengan sindrom pernapasan akut yakni dengan dosis rendah methylprednisolone dalam jangka waktu pendek dan tidak terpapar kortikosteroid (standar perawatan saja).

Agen anti-virus, kloroquin, dukungan pernapasan (apa saja), dan antibiotik (apa saja) diizinkan di setiap kelompok studi.  Kelompok yang terpajan diobati dengan methylprednisolone pada awal studi (baseline) sesuai dengan protokol berdasarkan rekomendasi nasional Italia untuk manajemen COVID-19: dosis pemuatan 80 mg/kg IV, diikuti dengan infus 80mg/hari pada 240 mL saline normal pada 10 mL/jam. Infus dilanjutkan selama setidaknya delapan hari dan sampai mencapai PaO2: FiO2> 350 mmHg atau CRP <20 mg/L. Pengobatan kemudian dialihkan ke pemberian methylprednisolone 16 mg atau 20 mg IV oral dua kali sehari sampai CRP kembali ke <20% dari kisaran normal dan/atau PaO2: FiO2> 400 atau SatHbO2 ≥ 95%. Keputusan untuk menerapkan protokol pada Covid-19 tergantung pada kebijaksanaan tim perawatan untuk setiap pasien. Sedangkan untuk pasien yang tidak terpapar akan dipilih dari pasien COVID-19 berturut-turut bersamaan dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang sama dan dibutakan dengan data hasil.

Perawatan standar yang biasa digunakan meliputi: terapi oksigen (reguler atau aliran tinggi) dan pemantauan, terapi antibiotik empiris, ventilasi mekanis (invasif atau non-invasif), ECMO saat dibutuhkan dan tersedia, pronasi bila memungkinkan, pengobatan lain yang dapat digunakan adalah: antivirus, klorokuin, vitamin. Studi observasional Cina yang diterbitkan oleh Wu et al. pada 13/03/2020 menunjukkan bahwa penggunaan metilprednisolone menyebabkan penurunan mortalitas sekitar 15% (mortalitas 30 hari: 46,0% pada 50 pasien yang diobati vs 61,8% pada 34 pasien yang tidak diobati; median kelangsungan hidup: 25 hari vs. 10 hari). Selanjutnya, penelitian yang sama menunjukkan proporsi penerimaan ICU pasien dengan ARDS 63% dan penggunaan intubasi dan VM invasif dalam 79% kasus ARDS.

Pada studi Marco ukuran sampel 98 pasien (49 untuk setiap kelompok) dihitung menggunakan uji-Z proporsional 2-tailed (dikumpulkan) dengan kekuatan penelitian (1-beta) 80% dan probabilitas kesalahan tipe 1 (alpha) 0,05. Mempertimbangkan hasil primer, diharapkan dari literatur bahwa proporsi yang setara dengan sekitar 70% pasien dengan ARDS diintubasi dan /atau dirawat di ICU dan/atau meninggal. Hipotesisnya adalah bahwa proporsi ini dapat dikurangi setidaknya 40% dengan intervensi berbasis methylprednisolone dalam pengaturan unit ketergantungan tinggi pernapasan. Mengingat tingkat dropout 5%, total 104 pasien minimum harus terdaftar (52 per kelompok).

Rencana analisis statistik dari studi ini yakni data akan dideskripsikan menggunakan frekuensi absolut dan relatif (dinyatakan sebagai persentase) atau indeks posisi (rata-rata atau median) dan indeks dispersi relatif (standar deviasi atau rentang interkuartil) yang sesuai untuk jenis variabel yang dianalisis. Adapun hasil utama, perbedaan antara kelompok-kelompok studi (diperlakukan vs kontrol) akan dinilai menggunakan tes untuk proporsi (mis. Z-test), mengingat signifikan secara statistik nilai-p <0,05. 

Berkenaan dengan hasil sekunder, perbedaan antara kelompok studi dalam variabel kontinu akan dievaluasi dengan uji-t atau dengan uji Mann-Whitney, tergantung pada distribusi variabel. Perbedaan antara kelompok studi mengenai variabel kategori atau dikotomik (proporsi) akan dianalisis dengan uji Chi-square atau dengan uji Fisher, karena lebih tepat. Untuk variabel dependen waktu (mis. Kelangsungan hidup) analisis akan dilakukan dengan metode KaplanMeier dan perbedaan antara kelompok akan dinilai dengan uji log-rank. Jika nomor tersebut memungkinkan, dengan tunduk pada verifikasi validitas asumsi proporsionalitas, analisis multivariat Cox akan dilakukan untuk memperhitungkan faktor pembaur potensial. Nilai uji dua sisi kurang dari 0,05 akan dianggap signifikan secara statistik

Kesimpulan

Methylprednisolone dapat digunakan sebagai obat untuk pasien COVID-19 dengan sindrom pernapasan akut akibat virus SARS-CoV 2.

Sumber

  1. Methylprednisolone – Compound Summary
  2. 19th WHO Model List of Essential Medicines (April 2015)
  3. http://archinte.jamanetwork.com/article.aspx?articleid=414696
  4. Wang, Y., Jiang, W., He, Q. et al. A retrospective cohort study of methylprednisolone therapy in severe patients with COVID-19 pneumonia. Sig Transduct Target Ther 5, 57 (2020). https://doi.org/10.1038/s41392-020-0158-2
  5. Wu, C. et al. Risk factors associated with acute respiratory distress syndrome and death in patients with coronavirus disease 2019 pneumonia in Wuhan, China. JAMA Intern. Med. e200994 (2020). [published online ahead of print, 2020 Mar 13]. 10.1001/jamainternmed.2020.0994.
  6. Confalonieri, Marco. Methylprednisolone for Patients With COVID-19 Severe Acute Respiratory Syndrome (MP-C19). University of Trieste. 2020. Study NCT04323592. https://clinicaltrials.gov/ct2/show/study/NCT04323592

Penulis : Intan Fua’dah, Magister Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadaran

Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About farmasetika.com

farmasetika.com
Farmasetika.com merupakan situs yang berisi informasi farmasi terkini berbasis ilmiah dan praktis. Sign Up untuk bergabung di komunitas farmasetika.com. Download aplikasi Tapatalk, Caping, atau Baca di smartphone, Ikuti twitter, instagram dan facebook kami. Terimakasih telah ikut bersama memajukan bidang farmasi di Indonesia.

Check Also

2 Publikasi Studi COVID-19 Hidroksiklorokuin dan Klorokuin Ditarik Penulis

Majalah Farmasetika – Dua jurnal medis terkemuka menarik studi Hidroksiklorokui dan Klorokuin untuk coronavirus disease …

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.