Guru Besar UGM Pertanyakan Urgensi Obat Dikombinasi Dosis Tetap untuk COVID-19

Majalah Farmasetika – Baru-baru ini Universitas Airlangga (Unair) bersama TNI AD, dan BIN RI telah memberikan laporan uji klinis fase 3 untuk 3 obat kombinasi untuk pasien COVID-19 kepada pemerintah (15/8/2020) dan mengklaim bisa menjadi obat COVID-19 pertama di dunia.

Hasil uji klinis fase 3

Uji klinis fase 3 yang telah dilaksanakan merupakan Multisenter, Acak Terkontrol, Tersamar Ganda Membandingkan Efikasi dan Keamanan Kombinasi Baru Lopinavir/Ritonavir-azithromycin, Lopinavir/Ritonavir doxycycline, Serta Hydroxychloroquine-azithromycin dengan Obat Standar Pada Pasien COVID-19 Yang Dirawat Di Rumah Sakit Dengan Derajat Ringan, Sedang, dan Berat Yang Tidak Menggunakan Ventilator.

Hasilnya menunjukkan kombinasi obat ini dapat mempercepat clearance virus dengan hasil PCR negatif lebih dari 90% dibandingkan dengan terapi standar.

Guru besar ahli farmakologi dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Zullies Ikawati, Ph.D., Apt., memberikan opini lengkap terkait hasil uji klinis ini di chanel youtube pribadinya yang diunggah pada tanggal 17 Agustus 2020.

“Apresiasi dan ucapan selamat diberikannya kepada tim Unair yang telah menyelesaikan uji klinik dalam waktu singkat bisa merekrut 754 relawan, yang menurutnya sangat rigid dengan mengikuti Good Clinical Practice, hanya ada beberapa catatan yang perlu diklarifikasi lebih detil.” ujar Zullies Ikawati.

Apa itu Lopinavir/Ritonavir

Lopinavir/Ritonavir (LPV/RTV) merupakan obat yang sudah dipakai dan dipasarkan untuk penderita HIV (HIV protease inhibitor).

Obat ini memiliki efek retroviral dan terapi MERS (virus MERS-CoV) dan SARS (Virus SARS-CoV) dengan dikombinasikan dengan ribavirin dan atau interferon.

Penelitian terbaru menunjukkan tidak adanya aktivitas secara in vitro untuk virus SARS-CoV-2.

Baca :  Mulai Uji Klinik, Vaksin COVID-19 dari Kalbe Farma berteknologi DNA

Sebuah uji klinik open label dilakukan untuk membandingkan LPV/RTV dengan jumlah 99 relawan, dengan terapi standar pada 100 relawan, dengan hasil tidak ada perbedaan dalam pengurangan viral load, durasi viral RNA detachtability, lama pengobatan, dan waktu kematian. Uji klinik LPV/RTV dihentikan lebih awal dikarenakan 13 pasien mengalami efek samping.

Efek samping dari LPV/RTV berupa gangguan saluran cerna dan hepatotoksik.

Belum ditemukan publikasi LPV/RTV dikombinasikan dengan azitomisin,termasuk dengan klaritomisin maupun doksisiklin.

“Walaupun sudah digunakan oleh para klinisi secara terpisah, pada uji klinik ini merupakan kombinasi baru untuk terapi COVID-19” ujar Zullies Ikawati.

Apa itu azitromisin?

Azitromisin merupakan antibiotik yang memiliki efek antivirus dan imunomodulator terutama pada saluran infeksi pernafasan.

Penggunaan kombinasi azitromisin dengan hidroksiklorokuin bukan hal baru, tepati mengundang kontroversi pada hasil uji klinis di Perancis sebelumnya. Selain itu, saat ini telah masuk di panduan terapi COVID-19 di beberapa negara termasuk di Indonesia.

Efek samping bisa menyebabkan aritmia vetricular.

WHO menghentikan solidarity trial untuk LPV/RTV

Hasil solidarity trial untuk LPV/RTV masih dalam posisi netral, tidak baik ataupun buruk, hanya World Health Organization (WHO) telah menghentikan penggunaan hidroksiklorokuin dan LPV/RTV pada 6 Juli 2020.

Pada hasil interim uji klinik, obat ini tidak memiliki perbedaan signifikan dengan terapi standar. Sehingga WHO menghentikannya. Akan tetapi, untuk penggunaannya masih bisa dilakukan.

“Ini menjadi pertanyaan mengapa di kita melanjutkan uji klinik untuk obat ini, padahal WHO sudah menghentikannya” catat Zullies Ikawati.

Farmakolog UGM Pertanyakan Urgensi Kombinasi Obat

Obat Lopinavir/Ritonavir-azithromycin, Lopinavir/Ritonavir doxycycline, Serta Hydroxychloroquine-azithromycin memang sudah diberikan di layanan kesehatan untuk terapi COVID-19 tetapi dalam bentuk tersendiri bukan kombinasinya.

Baca :  Protokol Kesehatan Bagi Apoteker di Industri Farmasi Selama Darurat COVID-19

“Ini menjadi pertanyaan saya, kenapa perlu dibuat kombinasi dengan dosis tetap, yang dapat mengurangi flexibilitas penggunaannya” ujar Zullies Ikawati.

LPV/RTV digunakan salah satu efek samping yang sering dijumpai adalah gangguan saluran cerna dan efek hepatotoksik dimana bisa menyebabkan gangguan fungsi hati dengan peningkatan ALT dan AST. Sementara azitromisin, adalah obat yang bisa meningkatkan QT yang berefek ke jantung.

“Bila pada satu pasien terjadi peningkatan ALT dan AST, artinya ada gangguan hati, maka bisa dihentikan LPV/RTV dan azitromisin tetap diberikan. Bila dosis tetap, maka tidak bisa dihentikan LPV/RTV. Jadi muncul pertanyaan apa urgensi kombinasi tetap ini?” lanjut Zullies.

“Terapi COVID-19 termasuk terapi yang singkat, Berbeda dengan obat TBC, dimana terapinya berbulan-bulan, dengan bermacam-macam obat maka dibutuhkan dosis tetap agar kepatuhan pasien meningkat. Dalam kasus COVID-19 menurut saya tidak terlalu penting” lanjutnya.

Selengkapnya dapat dilihat di video berikut ini

Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About farmasetika.com

farmasetika.com
Farmasetika.com merupakan situs yang berisi informasi farmasi terkini berbasis ilmiah dan praktis. Sign Up untuk bergabung di komunitas farmasetika.com. Download aplikasi Tapatalk, Caping, atau Baca di smartphone, Ikuti twitter, instagram dan facebook kami. Terimakasih telah ikut bersama memajukan bidang farmasi di Indonesia.

Check Also

Diduga Ada Maladministrasi, Proses Seleksi Konsil Kefarmasian Dilaporkan ke Ombudsman

Majalah Farmasetika – Proses seleksi calon Anggota Konsil Kefarmasian di Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia (KTKI) …

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.