Video Ilmiah Jelaskan Kemungkinan Penularan COVID-19 Ketika Bicara, Bersin, dan Batuk

farmasetika.com – Sekelompok peneliti dari Toho University dan Kyoto Institute of Technology melakukan penelitian berupa simulasi ketika orang berbicara, bersin, dan batuk yang direkam oleh kamera tercanggih di dunia yang bisa merekam pergerakan partikel berukuran 0.1 micrometer higga 1/10000 mm.

Menurut literatur, novel coronavirus penyebab COVID-19 termasuk virus yang berukuran besar berdiameter rata-rata 120 nm atau 0.12 micrometer.

Penelitian sebelumnya

Penelitian sebelumnya yang diterbitkan di The New England Journal of Medicine pada Maret 2020, menjelaskan bahwa penularan COVID-19 melalui udara adalah “masuk akal,” menurut para ilmuwan di Universitas Princeton, UCLA dan National Institutes of Health.

Para peneliti menyimpulkan bahwa virus itu dapat tetap di udara selama “hingga 3 jam pasca aerosolisasi.”

Para ilmuwan menemukan bahwa SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan penyakit baru COVID-19, dapat terdeteksi di udara hingga tiga jam, hingga empat jam pada tembaga, hingga 24 jam pada karton, dan hingga dua hingga tiga hari di plastik dan stainless steel.

Ilustrasi seseorang bersin

Dalam video yang tersebar di media sosial ini awalnya melakukan percobaan seseorang bersin. Cipratan partikel yang terbang terlihat kasat mata adalah droplet sebesar 1 mm, langsung jatuh ke lantai.

Saat lihat bersin tadi dengan kamera berkecepatan tinggi, titik-titik cipratan partikel yang terlihat sebesar 1/100 mm. Dilihat dari sudut yang berbeda, karena sangat kecil dan ringan, terlihat partikel mengambang di udara. Ini adalah wujud cipratan mikroskopik (microsplash).

Ilustrasi percakapan dua orang

Adegan berikutnya adalah ketika dua orang berbicara dua arah. Saat kedua orang berbincang normal, bisa terlihat bahwa banyak cipratan mikroskopik yang beterbangan. Dapat terlihat di antara dua orang yang terus berbicara, cipratan mikroskopik tersebut tidak menghilang begitu saja.

Baca :  Remdesivir, Obat Anti Ebola Masuk Uji Klinis Akhir untuk Virus Corona COVID-19

“Masih belum ada yang mengetahui seberapa besar peran cipratan mikroskopik ini dalam penyebaran penyakit. Untuk menyatakan pengaruh cipratan mikroskopik ini tidak dapat diabaikan.” ujar Profesor Kazuhiro Tateda seorang guru besar dari Toho University.

“Di dalam cipratan mikroskopik terdapat virus-virus yang hidup. Jadi saat kita melakukan percakapan jarak dekat dengan suara keras seperti di video percakapan, cipratan mikroskopik berpindah dari seseorang dan bisa terhirup oleh lawan bicaranya dan memperluas penularan“ lanjutnya.

Ilustrasi dalam kumpulan orang

Dalam ruangan tertutup dengan berventilasi buruk, resiko penularan lewat cipratan mikroskopik bertambah tinggi. Ruang penelitian ini mencoba membuat simulasi pergerakan cipratan mikroskopik di ruangan dengan ventilasi yang buruk.

Simulasi dilakukan dengan situasi ruangan tertutup layaknya kelas dan di dalamnya ada 12 orang. Dibuat simulasi dengan kondisi satu orang batuk sekali. Terlihat kurang lebih 10.000 partikel terbang bebas dengan ukuran yang berbeda-beda. Untuk cipratan yang berukuran lebih besar (gambar hijau), bisa terlihat dalam satu menit jatuh. Namun seperti yang terlihat di layar, cipratan mikroskopik yang berukuran jauh lebih kecil berwarna merah tetap melayang-layang di udara.

Simulasi berikutnya hanya melihat pergerakan mikropartikel berukuran kecil saja. Dalam 5 menit, 10 menit, setidaknya dalam 20 menit partikel mikroskopik masih bertahan di dalam ruangan.

”Dalam ruangan tertutup, pergerakan udara bisa dikatakan minim, sehingga dalam waktu yang lama mikropartikel tidak bisa bergerak kemana-kemana, jadi tetap berada di dalam ruangan.” ujar Associate Prof. Masashi Yamakawa dari Kyoto Institute of Technology.

Ada langkah-langkah yang dapat diantisipasi untuk menekan pergerakan cipratan mikroskopik. Untuk hasil yang efektif, buka jendela lebar-lebar untuk mengganti udara. Saat membuka jendela lebar, cipratan mikroskopik yang ringan dan berukuran kecil akan mengalir keluar.

Baca :  Ahli Farmakologi UGM : Klorokuin Obat Keras, Jangan Asal Pakai!

“Sangatlah penting untuk sedapat mungkin membuka dua bukaan jendela agar udara dapat mengalir di antaranya. Setidaknya lakukan sejam sekali agar dapat mengalirkan udara dan meringankan kemungkinan terjadinya resiko penularan ruangan tertutup.” tutup Prof Tateda.

Sumber :

[Terjemahan : Tokyo, 26 Maret 2020, Rizqi Fitrasha N.]

New Coronavirus (SARS-CoV-2) and the Safety Margins of Plasma Protein Therapies. https://www.pptaglobal.org/media-and-information/ppta-statements/1055-2019-novel-coronavirus-2019-ncov-and-plasma-protein-therapies

Will coronavirus survive airborne? How long does it last on surfaces? Are men more likely to die? Burning questions on COVID-19. https://www.marketwatch.com/story/is-coronavirus-airborne-will-it-live-in-my-bathroom-is-it-ok-to-fly-or-eat-out-are-men-more-susceptible-busting-myths-and-confirming-facts-of-covid-19-2020-03-12

Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About farmasetika.com

Farmasetika.com merupakan situs yang berisi informasi farmasi terkini berbasis ilmiah dan praktis. Sign Up untuk bergabung di komunitas farmasetika.com. Download aplikasi Tapatalk, Caping, atau Baca di smartphone, Ikuti twitter, instagram dan facebook kami. Terimakasih telah ikut bersama memajukan bidang farmasi di Indonesia.

Check Also

Pakar UGM : Disinfektan Beresiko Kanker, Basmi Virus COVID-19 di Permukaan Benda

farmasetika.com – Akhir-akhir ini masyarakat banyak menggunakan disinfektan untuk langsung digunakan ketubuh manusia melalui disinfectant …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.