Project Milenial featuring news blogs and tutorials Adjustable Beds – Not Just For The Elderly! How A Dermatologist Can Help With Acne Problems Aromatherapy And Kids Amazingly Simple Skin Care Tips For People With Acne

Saphnelo: Terapi Adjuvan Pertama yang Disetujui FDA untuk Penderita SLE

Majalah FarmasetikaSystemic lupus erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun yang sering terjadi pada wanita usia muda, ditandai dengan adanya autoantibodi yang dapat melibatkan hampir semua organ (DiPiro et al., 2020). Prevalensi penyakit SLE di setiap negara mengalami perbedaan, di mana tiap tahunnya dapat mengalami pertambahan sekitar 16 ribu kasus baru. Di Indonesia, prevalensi kasus SLE dapat mencapai 0,5% dari keseluruhan populasi orang Indonesia (Esfandiari et al., 2018; Kemenkes RI, 2017).

Patofisiologi SLE melibatkan kelainan imun yang multipel termasuk adanya abnormalitas sel B yang membentuk antibodi secara terus-menerus dan juga membentuk sel T yang memiliki sifat autoreaktif (Krishnan et al., 2007) melalui fase inisiasi-profagase-puncak (Rahman dan Isenberg, 2008). Adapun tanda dan gejala dari SLE antara lain kelelahan, depresi, kecemasan, fotosensitivitas, nyeri sendi, sakit kepala, kehilangan berat badan, mual/nyeri perut, ruam, alopecia, tukak mulut dan hidung, artritis, disfungsi ginjal, kejang, hipertensi, anemia, leukopenia, trombositopenia (DiPiro et al., 2020).
Pengobatan SLE terdiri dari kombinasi imunosupresan, terapi simptomatik, dan juga terapi suportif. Golongan obat yang umum digunakan sebagai terapi standar maupun alternatif pada kasus SLE di antaranya Obat Antiinflamasi Nonsteroid (OAINS), kortikosteroid, antimalaria, imunosupresan, dan agen biologis. Kortikosteroid bekerja menekan produksi sitokin pro-inflamasi dan mengurangi jumlah sel T, monosit, dan makrofag yang bersirkulasi sehingga dapat mengontrol flare dan progresivitas penyakit (Kasturi dan Sammaritano, 2016). Namun, penurunan limfosit secara cepat (Buttgereit et al., 2002) dapat menimbulkan berbagai efek samping seperti meningkatnya risiko infeksi, ulkus lambung/duodenum, hiperglikemia, dan osteoporosis (Hoes et al., 2007). Pemberian imunosupresan setelah paparan terhadap antigen membuat hampir semua penyakit autoimun relatif sulit diatasi (Ostensen et al., 2006).
Para peneliti terus melakukan research and development untuk mengatasi keterbatasan dalam penanganan penderita SLE dewasa yang menerima terapi standar (FDA, 2021). Saphnelo (anifrolumab-fnia) merupakan antagonis reseptor interferon (IFN) tipe I yang menunjukkan aktivitas terapeutik pada penyakit lupus secara keseluruhan, lupus kulit dan persendian, serta kemampuan penurunan dosis steroid berdasarkan data gabungan dari dua uji klinis fase III skala besar (LFOA, 2021). Terdapat 2 rute pemberian yang dapat diberikan pada subjek manusia, yaitu secara subkutan (SC) dan intravena (IV). Dalam studi fase I, anifrolumab 300 mg SC mencapai 87% dari paparan pemberian IV yang diukur berdasarkan area di bawah kurva konsentrasi-waktu serum (AUC) (Bui dan Sanghavi, 2021). Adapun dosis yang dianjurkan dari Saphnelo adalah 300 mg, diberikan sebagai infus intravena selama 30 menit, setiap 4 minggu (FDA, 2021).
Pada 60-80% penderita SLE dewasa, terjadi peningkatan kadar gen yang diinduksi oleh IFN tipe I. Saphnelo merupakan antibodi monoklonal IgG1κ manusia yang mengikat subunit 1 dari reseptor interferon tipe I (IFNAR) dengan spesifisitas dan afinitas tinggi. Pengikatan ini menghambat pensinyalan IFN tipe I, sehingga menghalangi aktivitas biologis IFN tipe I dalam mencetuskan proses inflamasi dan imunologi, diferensiasi sel plasma, serta abnormalitas subset sel T perifer. Ditinjau dari sisi farmakodinamik, peningkatan kadar gen yang diinduksi oleh IFN tipe I akan menurun sekitar ≥80% dengan pemberian anifrolumab-fnia 300 mg infus IV setiap 4 minggu dalam waktu 52 minggu. Sementara dari sisi farmakokinetik dijelaskan sebagai berikut:

  1. Distribusi: volume distribusi pada kondisi tunak untuk pasien SLE (69,1 kg) sebesar 6,23 L,
  2. Eliminasi: menunjukkan farmakokinetik non-linear karena klirens obat yang dimediasi subunit 1 IFNAR dengan perkiraan klirens sistemik (Cl) sebesar 0,193 L/hari (FDA, 2021).

Efek samping yang umum terjadi (>5%) yaitu nasofaringitis, infeksi saluran pernapasan atas, bronkitis, reaksi terkait infus, herpes zoster dan batuk. Penggunaan Saphnelo pada kondisi khusus seperti:

  1. Wanita hamil tidak diperbolehkan karena dapat teradministrasikan melalui plasenta,
  2. Wanita menyusui tidak diperbolehkan karena pada uji praklinik, Saphnelo terdeteksi pada ASI dan bila teradministrasikan pada bayi akan mengakibatkan efek gastrointestinal baik lokal maupun sistemik,
  3. Pediatri (anak usia < 18 tahun) karena keamanan dan efikasinya belum established,
  4. Geriatri karena tidak ada data klinik yang cukup untuk menentukan respon pada geriatri sehingga tidak disarankan menggunakan obat ini (FDA, 2021).

Daftar Pustaka
Bui, A. dan D. Sanghavi. 2021. Anifrolumab. Tersedia daring di https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK555979/#_NBK555979_pubdet_ [Diakses pada tanggal 02 Oktober 2021].
Buttgereit F, Da Silva JAP, Boers M, Burmester G-R, Cutolo M, Jacobs J, et al. 2002. Standardised Nomenclature for Glucocorticoid Dosages and Glucocorticoid Treatment Regimens: Current Questions and Tentative answers in Rheumatology. 718–722.
DiPiro, J. T., B. G. Wells, T. L. Schwinghammer, dan C. V. DiPiro. 2020. Pharmacotherapy Eleventh Ed: A Pathophysiologic Approach. Inggris: McGraw-Hill Education Companies.
Esfandiari, F., Rusmini, H dan Santoso, N. R. 2018. Hubungan Penerimaan Diri dengan Kualitas Hidup pada Pasien Lupus Eritematosus Sistemik (LES) di Komunitas Odapus Provinsi Lampung (KOL) Tahun 2018. Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan. 5(3): 180-187.
FDA. 2021. Novel Drug Approvals for 2021: Saphnelo. Tersedia daring di https://www.accessdata.fda.gov/drugsatfda_docs/label/2021/761123s000lbl.pdf [Diakses 28 September 2021].
Hoes JN, Jacobs JWG, Boers M, Boumpas D, Buttgereit F, Caeyers N, et al. 2007. EULAR Evidence Based Recommendations on The Management of Systemic Glucocorticoid Therapy in Rheumatic Diseases. Ann Rheum Dis. 66: 1560-1567.
Kasturi, S., dan Sammaritano, L. R. 2016. Corticosteroids in Lupus. Rheum. Dis. Clin. North Am. 42(1): 47–62.
Kemenkes RI. 2017. Situasi Lupus di Indonesia. Pusat data dan Informasi. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Krishnan S, Chowdhury B, Juang Y-T, dan Tsokos GC. 2007. Overview of the Pathogenesis of Systemic Lupus Erythematosus. Philadelphia: Mosby Inc.
Lupus Foundation of America. 2021. Lupus Foundation of America Celebrates FDA Approval of Saphnelo™ (Anifrolumab-fnia) as a New Treatment for Lupus. Tersedia dari di https://www.lupus.org/news/fda-approval-of-saphnelo-anifrolumabfnia-new-treatment-lupus [Diakses pada 02 Oktober 2021].
Ostensen, M, Khamashta, M, dan Lockshin, M. 2006. Anti-inflammatory and Immunosuppressive Drugs and Reproduction. Arthritis Res Ther. 209–227.
Rahman A dan Isenberg D.A. 2008. Mechanisms of Disease Systemic Lupus Erythematosus. N Engl J Med. 358: 929-39.

Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Baca :  Penyakit Lupus Tidak Menular Tetapi Bisa Menyerang Organ Tubuh Tanpa Batas

About Putri Giri RP, Rismauli Ruth NH, Efi Triana, Adira Rahmawaty, Syifa Amanda, M. Iqbal, Ganis Fitria F., Syifa Farhanah

Putri Giri RP, Rismauli Ruth NH, Efi Triana, Adira Rahmawaty, Syifa Amanda, M. Iqbal, Ganis Fitria F., Syifa Farhanah

Check Also

Moderna Umumkan Hasil Studi Obat mRNA yang Menjanjikan untuk Gagal Jantung

Majalah Farmasetika – Perusahaan bioteknologi Moderna telah mengumumkan data positif dari uji coba EPICCURE Fase …

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.