Loteprednol Etabonate, Obat Baru untuk Penyakit Mata Kering

Majalah Farmasetika – Penyakit mata kering merupakan penyakit akibat gangguan pewarisan multifaktorial pada air mata dan permukaan mata dengan gejala tidak nyaman pada mata, gangguan penglihatan, ketidakstabilan tear film yang berpotensi merusak permukaan mata dan dapat disertai dengan peningkatan osmolaritas tear film dan inflamasi pada permukaan mata (Tear Film & Ocular Surface Society, 2007).

Mengenal penyakit mata kering

Hasil penelitian Women’s Health Study dan Physician’s Health Study melaporkan bahwa angka kejadian mata kering pada perempuan lebih tinggi (3,2 juta) dibandingkan dengan laki-laki (1,6 juta) usia di atas 50 tahun (Tear Film & Ocular Surface Society, 2007).

Penyakit mata kering terjadi akibat penurunan produksi aqueous atau peningkatan evaporasi air mata akibat disfungsi kelenjar meibomian (Phadatare, et al., 2012).

Gejala utamanya yaitu mata kering dan seperti terasa adanya pasir pada mata. Gejala lainnya yaitu rasa panas dan gatal, produksi air mata berlebihan, nyeri, mata kemerahan, dan fotofobia (Stapleton, et al., 2012).

Penelitian Terbaru

Dalam sebuah penelitian dijelaskan bahwa EYESUVIS dengan sediaan yang memiliki zat aktif berupa suspensi opthalmic loteprednol etabonate 0,25% yang merupakan kortikosteroid mata yang digunakan untuk pengobatan jangka pendek pada penyakit mata kering (Optomettrytimes, 2020).

Dalam sebuah studi dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui efikasi dan keamanan suspensi ophthalmic KPI-121 0,25% yang dibandingkan dengan plasebo pada subjek yang memiliki diagnosis penyakit mata kering. Produk tersebut diberikan selama 14 hari 1-2 tetes pada kedua mata empat kali sehari. Jenis studi ini dilakukan dengan metode intervensional pada fase 3 yang dimulai pada 10 Juli 2018 dan berakhir pada 5 Februari 2020.

Pada studi yang dilakukan terdapat beberapa kriteria inklusi dan ekslusi yang harus dipenuhi yaitu sebagai berikut :

Inklusi :

Memiliki diagnosis klinik penyakit mata kering yang terdokumentasi pada kedua mata

Eksklusi :

  • Hipersensitivitas atau kontraindikasi terhadap produk dan komponen didalamnya
  • Riwayat galukoma, TIO> 21 mmHg
  • Memiliki kondisi mata yang parah/serius yang dianggap dapat mengacaukan penilaian studi atau membatasi kepatuuhan dan terpapar obat yang diteliti dalam 30 hari sebelkum skrining
  • Tidak bersedia dan tidak memenuhi protokol

(Clinical Trial, 2020).

Pada uji klinis tahap 1, 2, dan 3 serta stride 1, 2, dan 3 menunjukan bahwa semua uji coba menunjukan peningkatan signifikan pada tanda dan gejala mata kering dengan penggunaan obat. Setelah 2 minggu pemberian dosis, dicapai hasil dengan statistik yang signifikan dalam uji klinis tahap 3. Hasil tersebut menunjukan EYESUVIS dapat ditoleransi dengan baik pada semua percobaan yang dilakukan dengan efek samping dan peningkatan tekanan intraokular sebanding dengan placebo (Optomettrytimes, 2020).

Baca :  Peneliti Temukan Senyawa Baru Turunkan Mobilitas Sperma Tanpa Pengaruhi Fungsi Hormon

Mekanisme Kerja Obat

Kortikosteroid menghambat respon inflamasi terhadap berbagai agen pemicu dan menunda atau penyembuhan lambat. Kortikosteroid menghambat edema, deposisi fibrin, pelebaran kapiler, leukosit migrasi, proliferasi kapiler, proliferasi fibroblast, deposisi kolagen, dan bekas luka pembentukan yang terkait dengan peradangan. Sedangkan glukokortikoid diketahui mengikat dan mengaktifkan reseptor glukokortikoid, mekanisme molekuler yang terlibat dalam glukokortikoid / glukokortikoid modulasi inflamasi yang bergantung pada reseptor tidak ditetapkan dengan jelas. Namun, kortikosteroid dianggap menghambat produksi prostaglandin (Kala Pharmaceutical, 2020).

Uji Klinik

Studi klinis EYSUVIS sudah dilakukan terhadap 2.900 pasien yang mengalami penyakit mata kering. Setiap pasien akan mendapatkan EYSUVIS atau plasebo 4 kali sehari selama 2 minggu dalam 4 percobaan multi-centre, acak, double-masked, dan kontrol-plasebo. Studi dilakukan dengan melihat efek pada tanda dan gejala mata kering. Efek pada gejala penyakit mata kering diamati dengan mengukur Ocular Discomfort Severity (ODS) pada pasien setiap harinya dan terlihat pada hari ke-1 memberikan penurunan gejala yang cukup besar. Sedangkan untuk melihat efek pada tanda penyakit mata kering dilakukan dengan mengamati konjungtival hiperemia yang diukur menggunakan skala Cornea and Contact Lens Research Unit (CCLRU). Penurunan konjungtival hiperemia diamati setelah 15 hari dan menunjukkan penurunan yang signifikan (Kala Pharmaceuticals, Inc, 2020).

Mengenai EYSUVIS yang disetujui FDA

Persetujuan FDA atas EYSUVIS sebagai terapi resep lini pertama untuk pengobatan jangka pendek dimana EYESUVIS disetujui untuk pengobatan hingga dua minggu bagi penderita penyakit mata kering adalah pencapaian besar bagi Kala Pharmaceuticals.

Persetujuan yang diberikan oleh FDA pada Oktober 2020 didasarkan oleh hasil dari empat uji klinis, termasuk tiga uji fase 3 dan satu uji fase 2, yang menunjukkan perbaikan signifikan pada tanda dan gejala penyakit mata kering.

Mekanisme kerja EYSUVIS yang luas, onset cepat dari tanda dan gejala serta profil tolerabilitas dan keamanan yang menguntungkan dapat bergabung untuk profil yang kuat dalam mengobati penyakit mata kering.

Edward Holland, Direktur Layanan Kornea di Cincinnati Eye Institute dan Profesor Oftalmologi di Universitas Cincinnati, mengatakan bahwa EYSUVIS yang telah disetujui mengantarkan era baru dalam pengobatan penyakit mata kering untuk pasien mata kering yang mengalami eksaserbasi akut, atau flare yang merupakan penyakit mereka setiap tahun yang disebabkan oleh berbagai pemicu (Business Wire, 2020).

Efek Samping Obat

Efek samping dari penggunaan EYSUVIS (loteprednol etabonate) adalah nyeri secara berangsur-angsur dan peningkatan tekanan intraokular yang berhubungan dengan kerusakan saraf optik, adanya masalah terhadap ketajaman penglihatan, pembentukan katarak, penyembuhan luka yang tertunda, perforasi pada kornea serta infeksi mata sekunder.

Baca :  Lasmiditan, Obat Baru Untuk Terapi Migrain

Penggunaan kortikosteroid secara topikal diketahui dapat memperlambat penyembuhan dan menyebabkan penipisan kornea serta sklera. Apabila kortikosteroid topikal digunakan pada pasien dengan kornea tipis dapat menyebabkan perforasi kornea. Selain itu, penggunaan kortikosteroid yang berkepanjangan dapat menyebabkan glaukoma dengan kerusakan saraf optik serta gangguan ketajaman visual pada penglihatan. Oleh karena itu, penggunaan kortikosteroid secara topikal harus dilakukan sesuai resep dokter berdasarkan pemeriksaan pasien. Apabila muncul gejala efek samping tersebut, segera periksakan diri ke dokter agar dapat ditangani dengan cepat dan tepat.

(FDA, 2020).

Terapi Saat Ini dan Perkembangannya

Asian dry eye society mengembangkan konsep tatalaksana penyakit mata kering sesuai dengan klasifikasi etiopatologi. Tear film terdiri atas mucin, aqueous, dan lipid; gangguan salah satu lapisan dan ketidakstabilan tear film menyebabkan mata kering. Terapi diberikan berdasarkan pendekatan etiopatologi, sehingga akan memperbaiki gejala dan meningkatkan kualitas hidup dan juga perlu memperbaiki faktor risiko.

Pemeriksaan selanjutnya perlu dilakukan untuk menilai respons terapi dan kerusakan struktur permukaan mata. Frekuensi evaluasi tergantung pada derajat keparahan penyakit dan pendekatan terapi. Pasien mata kering disertai ulkus kornea membutuhkan evaluasi setiap hari (Elvira dan Victor, 2018).

Daftar Pustaka

Business Wire. 2020. Kala Pharmaceuticals Announces FDA Approval of EYSUVIS™ for the Short-Term Treatment of the Signs and Symptoms of Dry Eye Disease. Diakses secara online di https://www.businesswire.com/news/home/20201027005351/en/ [Diakses pada 14 November 2020].

Clinical Trial. 2020. Safety and Efficacy of KPI-121 in Subjects With DED (STRIDE 3). Diakses secara online di https://clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT03616899#studydesc. [Diakses pada 15 November 2020].

Elvira dan Victor. 2018. Penyakit Mata Kering. CDK Edisi Suplemen. Hal 192-196

Food and Drug Administration (FDA). 2020. EYSUVIS. Diakses secara online di https://www.accessdata.fda.gov/drugsatfda_docs/label/2020/210933s000lbl.pdf. [Diakses pada 13 November 2020].

Kala Pharmaceuticals, Inc. 2020. Prescribing Information EYSUVIS. Diakses secara online di https://www.EYSUVIS.com/pdf/prescribing-information.pdf [Diakses pada 12 November 2020].

Optometrytimes. 2020. Eyesuvis FDA Approved for Dry Eye Treatment. Diakses secara online di https://www.optometrytimes.com/view/EYSUVIS-fda-approved-for-dry-eye-treatment. [Diakses pada 15 November 2020].

Phadatare SP, Momin M, Nighojkar P, Askarkar S, Singh KK. 2015. A Comprehensive Review on Dry Eye Disease: Diagnosis, Medical Management, Recent Developments, and Future Challenges. Advances in Pharmaceutics. No. 1-13.

Stapleton F, Garrett Q, Chan C, Craig JP. The Epidemiology of Dry Eye Disease. In: Chan C, Editor. Dry Eye: A Practical Approach, Essentials in Ophthalmology. Berlin: Springer-Verlag; 2015.

Tear Film & Ocular Surface Society. 2007. Report of the International Dry Eye Syndrome. Ocular Surface. Vol. 5(2):59-200.

Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About Jihan Restiana Faujia

Jihan Restiana Faujia

Check Also

2 Vaksin COVID-19 telah Berikan Efikasi Lebih dari 90%, Apa Artinya?

Majalah Farmasetika – Sangat menarik untuk mendengar cerita positif lainnya tentang hasil uji coba vaksin …

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.