Mengenal 10 jenis vaksin COVID-19, Apakah aman untuk ibu hamil?

Majalah Farmasetika – Sudah hampir menginjak 2 tahun wabah COVID-19 masih melanda dunia terutama Indonesia. Tercatat bahwa sudah terjadi 4,26 jt kasus dan 144rb yang meninggal dunia. Per tanggal 22 Desember 2021 terdapat 179 kasus baru. Segala upaya telah dilakukan pemerintah guna mengatasi dan menurunkan angka kasus COVID-19. Bentuk upaya yang di lakukan seperti membatasi mobilitas masyarakat guna meminimalisir penyebaran virus tsb, menyediakan fasilitas Kesehatan sebagai tempat karantina, membuka kontak layanan, memberikan himbauan kepada masyarakat untuk menerapkan Gerakan 3M dan juga memberikan arahan vaksin dan layanan vaksinasi.

Perlu diketahui bahwa sampai saat ini terdapat 10 jenis vaksin yang telah masuk ke Indonesia yang telah mendapatkan izin penggunaan darurat atau EUA (Emergency Use Authorization) dari BPOM.

10 jenis vaksin tersebut adalah Sinovac, astra Zeneca, Pfizer, moderna, Sinopharm, novovax, sputnik v, janssen/j&j, cansino atau covidencia, dan zivifax. Perbedaannya mulai dari negara asal, platform yang digunakan, dosis, rentang waktu pemberian, efikasi, dll namun tetap memiliki fungsi dan tujuan yang sama yaitu sebagai peningkat imunitas tubuh dari paparan covid-19.

Lalu apakah perbedaannya? Apakah vaksin ini aman untuk ibu hamil dan menyusui?

Berikut Perbedaan 10 jenis vaksin COVID-19

  1. Vaksin Sinovac atau coronavac

Vaksin yang dikembangkan oleh Sinovac Life Sciences di Beijing, China. Yang dibuat dari sel vero yang telah diinokulasi dengan SARS CoV2, menggunakan delivery platform virus yang dimatikan. Pemberian vaksin ini yaitu 2 dosis dengan sasaran usia 18-59 tahun, dengan rentang waktu penyuntikan 28 hari. Telah dilakukan uji fase III (ongoing) dan dihasilkan efikasi 65,3% di Indonesia dan 91,25% di turki.

  1. AstraZeneca atau vaksin oxford

Vaksin AZD1222 atau yang biasa dikenal dengan AstraZeneca atau vaksin oxford di kembangkan oleh University of Oxford di Inggris. Vaksin ini menggunakan viral vector sebagai platformnya. Astrazeneca terdapat 2 dosis dengan 1 dosis 0,5 mL, jangka waktu vaksinasi dari penyuntikan pertama adalah 12 minggu, ditargetkan untuk usia 18-55 tahun. Telah dilakukan uji fase klinis III (sementara) dan diperoleh suatu nilai efikasi sebesar 76%, yang artinya individu yang telah divaksin akan memiliki resiko 76% lebih rendah terpapar virus dibandingkan dengan individu yang tidak di vaksin, dan 76% vaksin ini dapat menurunkan angka kejadian COVID-19.

  1. Sinopharm

Vaksin BBIBP-CoV atau biasa dikenal dengan Sinopharm, vaksin ini di kembangkan oleh Institut Biologi Beijing, China. Menggunakan platform virus yang dimatikan. Terdapat 2 dosis, dengan rentang waktu penyuntikan 21 hari setelah penyuntikan pertama. memiliki efikasi 86%(Uni Emirate Arab). Sasaran dari vaksin ini adalah usia 18-59 tahun.

  1. Moderna

Vaksin mRNA-1273 adalah vaksin yang dikembangkan oleh Moderna di Amerika Serikat, oleh sebab itu masyarakat menyebut nama vaksin ini Moderna. Vaksin ini menggunakan platform mRNA, terdapat 2 dosis (1x pemberian 0,5 mL) dengan jarak pemberian 28 hari setelah penyuntikan dosis pertama. sasaran vaksin ini adalah usia 18-55 tahun dan telah dilakukan uji klinis fase III yang memiliki efikasi 94,5%.

  1. Pfizer

Vaksin ini di kembangkan oleh German biotech company BioNTech yang berkolaborasi dengan US-based pharmaceutical giant Pfizer dengan nama vaksin BNT162b2 di Amerika Serikat. Vaksin ini merupakan vaksin mRNA, telah dilakukan uji klinis fase III dengan efikasi sebesar 95%. Berbeda dengan vaksin yang lainnya sasaran vaksin ini diperbolehkan dari usia 16-55 tahun. Memiliki 2 dosis dengan rentang waktu 21-28 hari setelah penyuntikan dosis pertama.

  1. Vaksin Sputnik V atau Gamaleya

Vaksin ini di developed oleh The Gamaleya National Center of Epidemiology and Microbiology di Russia. Sputnik artinya satelit, sebagai bentuk penghormatan terhadap satelit pertama di dunia. Vaksin yang menggunakan 2 adenoviral vector yaitu adenoviral 26 dan adeviral 25. Vaksin ini terdiri dari 2 dosis disuntikan secara intramuscular dengan rentang pemberian 3 minggu, memiliki efikasi 91,4%, dengan penerima 18-59 tahun.

  1. Vaksin janssen

Vaksin yang baru tiba di Indonesia pada tanggal 11 september 2021 memiliki nama Ad26.COV2.S dikembangkan oleh perusahaan janssen atau johnson&johnson (j&j) di amerika serikat. Menggunakan platform adenoviral 26. Berbeda dengan vaksin yang lain, janssen hanya memiliki dosis tunggal (0,5 mL), walaupun dosis tunggal vaksin ini mampu membentuk proteksi tubuh 2 minggu setelah vaksin dibandingkan dengan vaksin Pfizer dan moderna yang memerlukan 2 minggu setelah penyuntikan kedua. Vaksin janssen memiliki efikasi 67,2% dan penerima vaksin ini usia 18-55 tahun.

  1. Vaksin Covindencia atau CanSino

Vaksin yang Bernama Ad25-nCoV yang dikembangkan oleh institute bioteknologi Beijing dan CanSino biologi di China. Menggunakan vector adenovirus 25. Sama halnya dengan vaksin janssen, vaksin cansino ini memiliki dosis tunggal dengan efikasi 68,8%. Penerima vaksin ini dimulai dari usia 18 tahun ke atas.

  1. Vaksin zifivax

Vaksin zifivax di kembangkan oleh Anhui Zhifei Longcom di China, menggunakan delivery platform rekombinan protein sub-unit dengan efikasi sebesar 81,5%-87,58%. Vaksin zifivax berbeda dari yang lain, ia memiliki 3 dosis (1 dosis 0,5 mL) dengan rentang waktu 1 bulan setelah penyuntikan pertama. Penerima vaksin ini dimulai dari usia 18 tahun keatas.

  1. Vaksin Novavax

Vaksin yang memiliki nama asli NVX-CoV2373 ini diproduksi oleh US-based vaccine company di Amerika Serikat, dengan platform protein sub-unit. Vaksin ini terdiri dari 2 dosis (1 dosis 0,5 mL), pemberian 21 hari setelah penyuntikan dosis pertama. Memiliki efikasi 89,3% dengan rentang usia 18-59 tahun.

Baca :  Menkes : Vaksin COVID-19 Sinovac yang Baru Tiba untuk Tenaga Kesehatan

Vaksin COVID-19 untuk ibu hamil dan menyusui WHO telah menyatakan bahwa vaksin untuk Wanita hamil diperbolehkan selama manfaat lebih besar dibandingkan resikonya. Pemberian vaksin yang dianjurkan adalah Sinovac, Astra Zeneca, Moderna, dan Pfizer. Namun, vaksinasi untuk ibu hamil dan menyusui harus dikonsultasikan terlebih dahulu kepada dokter.

10 jenis vaksin COVID-19 memiliki efek samping yang berbeda-beda. Pada dasarnya, Efek samping yang diperoleh setelah disuntikannya vaksin berbeda pada setiap individu, namun efek samping yang umumnya muncul seperti mual, muntah, sakit kepala, lemas, demam, dan nyeri pada area suntikan.

Sumber :

Ophinni, Y. et al. COVID-19 vaccines: Current Status and Implication for Use in Indonesia. Acta Med Indones – indones J intern Med. 2020;52(4):388-412.

Z, Beska. et al. REVIEW ARTIKEL: Perbandingan Efikasi, Efisiensi dan Keamanan Vaksin COVID-19 Yang Akan Digunakan di Indonesia. Farmaka. 2021;19(2):48-59.

Nugroho, SA., Hidayat, IN. Efektifitas dan Keamanan vaksin COVID-19 : studi referensi. Jurnal keperawatan Indonesia. 2021;9(2).

Angela. What we know about the effectivesnes of the johnson & johnson COVID-19 vaccine. [tanggal sitasi 21 desember 2021]. Diakses dari https://www.healthline.com/health/adult-vaccines/johnson-and-johnson-vaccine-efficacy

international medical aid. (23 maret 2021). Johnson & johnson COVID-19 vaccine : what you need to know. [tanggal sitasi 21 desember 2021] diakses dari : https://medicalaid.org/johnson-johnson-covid-19-vaccine-what-you-need-to-know/?gclid=Cj0KCQiAk4aOBhCTARIsAFWFP9FxOeze6rxWL6yPpu0suQh0wAPKv95fDfAidekzuP3xchyDFpvcGwYaAhkvEALw_wcB

Alomedika. Vaksinasi COVID-19 Pada Wanita hamil dan menyusui. [tanggal sitasi 24 desember 2021]. Diakses dari https://www.alomedika.com/vaksinasi-covid-19-pada-wanita-hamil-dan-menyusui

Share this:

About shipa paujiah

shipa paujiah mahasiswi farmasi di universitas singaperbangsa karawang

Check Also

BPOM Keluarkan Izin Darurat Vaksin Covovax untuk Booster COVID-19

Majalah Farmasetika – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberi persetujuan perluasan EUA Vaksin …

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.