Home / Sediaan & Alkes / Konsep Flokulasi dan Deflokulasi dalam Sediaan Farmasi

Konsep Flokulasi dan Deflokulasi dalam Sediaan Farmasi

Farmasetika.com – Sediaan larutan merupakan salah satu solusi untuk pengobatan pada kondisi pasien tertentu dan penggunaan pada pasien anak dimana kondisi pasien yang tidak bisa menelan obat dalam bentuk padat seperti tablet, kapsul dan pil. Sediaan cair itu bermacam-macam seperti syrup, eliksir, emulsi dan suspensi dan lain sebagainya. Dalam sediaan suspensi mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah flokulasi dan deflokulasi. Apakah sistem flokulasi dan deflokulasi ?

Flokulasi dan deflokulasi adalah peristiwa memisahnya (mengendapnya fase terdisper) antara fase terdisper dan fase pendisper terjadi dalam rentang waktu yang berbeda. Dimana pada flokulasi terpisahnya dua fase tersebut lebih cepat dibandingkan dengan deflokulasi. Namun, endapan dari flokulasi dapat didispersikan kembali sedangkan endapan deflokulasi tidak karena telah terbentuk caking, hal ini disebabkan oleh ukuran partikel pada suspensi yang terdeflokulasi sangat kecil, hingga membentuk ikatan antar partikel yang erat dan padat.

Daftar isi :

Apakah Sistem Flokulasi ?

Apa Sistem Deflokulasi ?

Bagaimana terbentuknya sedimentasi Flokulasi ?

Bagaimana terbentuknya Sedimentasi Deflokulasi ?

Apa saja sediaan flukolasi dan deflokulasi ?

Bagimana membedakan larutan suspensi yang baik atau tidak ?

Apakah Sistem Flokulasi ?

Dalam sistem flokulasi, partikel mengendap secara berkelompok dan mengendap bersama-sama.Partikel tersuspensi saling terikat dengan ikatan yang lemah membentuk jaring; karena beratnya bertambah, maka pengendapan terjadi serta membawa partikel-partikel tersuspensi lainnya yang terjerat dibawahnya (tengah jaring), dalam sistem flokulasi partikel yang mengendap tersebut akan mudah terdispersi kembali dengan pengocokan. Pengendapan jenis ini tidak membentuk endapan yang liat (cake).

Sistem flokulasi yang dimaksudkan untuk penggunaan oral, parenteral, ophtalmik atau topikal biasanya mempunyai kemampuan mengalir yang buruk karena partikelnya berkelompok.Sifat ini diperbaiki dengan penambahan koloid pelindung.Koloid pelindung tidak mengurangi tegangan antar muka sehingga berbeda dengan surfaktan.Larutan koloid mempunyai viskositas yang berbeda dan digunakan dalam konsentrasi yang tinggi dibanding surfaktan. Koloid pelindung juga berbeda dari bahan pemflokulasi dalam hal efeknya sehingga tidak hanya berkemampuan meningkatkan zetha potensial tetapi juga membentuk penghalang mekanik atau melapisi sekeliling partikel, sehingga partikel tidak terikat kuat satu sama lainnya.Suspensi untuk pengobatan harus segera terdispersi dengan pengojokan lunak sehingga diperoleh takaran yang sama.

Kecenderungan partikel untuk terflokulasi tergantung pada kekuatan tarikan dan penolakan diantara partikel. Bila penolakan cukup kuat, partikel-partikel tetap terdipersi dan bila tidak, maka akan terjadi koagulasi. Misalnya : suspensi partikel-partikel tanah liat bila ditambah NaCl dalam jumlah yang semakin besar maka kekuatan penolakan semakin berkurang dan akhirnya kekuatan penolakan tersebut tidak bisa lagi melawan kekuatan tarikan London ( Van Der Waals ) sehingga system terflokulasi.

Baca :  Fenomena Caking, Endapan dalam Suspensi Obat yang Berbahaya

Kecepatan sedimentasi dan flokulasi suspensi dipengaruhi oleh : Ukuran partikel, Interaksi partikel, BJ partikel dan medium, Kekentalan fase kontinyu

Pemflokulasi

Setelah serbuk dibasahi dan didispersi dengan baik, maka selanjutnya diarahkan dengan berbagai cara agar menghasilkan flokulasi yang terkontrol, sehingga mencegah pembentukan endapan padat yang sukar didispersi kembali.

Bahan yang dapat digunakan untuk menghasilkan flokulasi dalam suspensi seperti elektrolit,surfaktan dan polimer.Elektrolit

Elektrolit bekerja sebagai zat yang memflokulasi dengan cara mengurangi tahanan elektrik antara partikel tersebut sehingga terjadi suatu pengurangan zeta potensial dan pembentukan suatu jembantan antara partikel-partikel yang berdekatan. Jembatan antar partikel ini menyebabkan ikatan antar partikel tersebut merupakan suatu struktur yang longgar. Elektrolit yang dapat digunakan antara lain adalah, KCl,NaCl.

1. Surfaktan

Surfaktan telah digunakan untuk menghasilkan flokulasi dari partikel yang tersuspensi, baik dari jenis nonionik maupun ionik. Surfaktan ionik menyebabkan flokulasi melalui netralisassi muatan partikel.Struktur yang panjang dari surfaktan nonionik dapat diadropsi oleh lebih dari satu partikel, sehingga terbentuk struktur flokulat yang longgar.

2. Polimer

Polimer merupakan suatu senyawa berantai panjang dengan bobot molekul yang tinggi dan mengandung gugus-gugus aktif di sepanjang rantainya.Zat ini bekerja sebagai zat pemflokulasi karena sebagian rantainya diadsobsi pada permukaan partikel, dengan bagian yang tersisa mengarah ke medium dispersi dan menjadi jembatan perlekatan dengan partikel lainnya, yang pada akhirnya terbentuk flokulasi.

Beberapa polimer merupakan polielektrolit yang dapat terionisasi dalam medium air.Kemampuan ionisasi tergantung pada pH dan kekuatan ion dari medium dipersi. Polimer ini dapat bekerja membentuk medan elektrostatik dan memberi efek sterik sebagai koloid pelindung yang mencegah partikel bergabung dengan kuat. Sifat seperti ini ditunjukkan oleh polimer linear misalnya Na CMC, dan dapat menjadi agen pemflokulasi.

Apa itu Sistem Deflokulasi ?

Dalam system deflokulasi, partikel mengendap sindiri-sendiri secara perlahan tergantung pada jaraknya dari dasar dan perbedaan ukurannya. Partikel akan menyusun dirinya dan mengisi ruang-ruang kosong saat mengendap dan akhirnya membentuk sedimen tertutup dan terjadi aggregasi, selanjutnya membentuk cake yang keras dan sulit terdispersi kembali karena telah terbentuk jembatan kristal yang merupakan lapisan film yang liat pada permukaan sedimen.Suspensi deflokulasi tekanannya lebih besar pada dasar wadah, volume sedimentasi yang terbentuk kecil dan supernatan tampak keruh sehingga terlihat bahwa suspensi lebih stabil. Pengendapan jenis ini tidak disukai karena akan kesulitan dalam meredispersi sediaan walaupun sudah dilakukan pengocokan.

Bagaimana terbentuknya sedimentasi Flokulasi ?

Sediaan Obat yang partikel terdispersinya membentuk agregat (Gumpalan / Kumpulan) sehingga proses sedimentasinya (pengendapannya) terjadi lebih cepat.

Sediaan Obat Suspensi Flokulasi dapat dikendalikan dengan : Kombinasi ukuran partikel, Penggunaan Elektrolit untuk pengontrolan, Penambahan Polimer yang akan mempengaruhi hubungan / Struktur partikel dalam suspensi, berdasarkan Sifat.

Baca :  Emulsi dan Tipe-Tipe Emulsi dalam Sediaan Farmasi

Partikel sistem flokulasi berbentuk agregat yang dapat mempercepat terjadinya sedimentasi. Hal ini disebabkan karena setiap unit partikel dibentuk oleh kelompok partikel sehingga ukurang agregat relatif besar. Cairan supernatan pada sistem deflokulasi cepat sekali bening yang disebabkan flokul-flokul yang terbentuk cepat sekali mengendap dengan ukuran yang bermacam-macam.

Bagaimana terbentuknya Sedimentasi Deflokulasi ?

Merupakan salah satu jenis obat suspensi berdasarkan sifatnya. Sedimentasi terjadi pada partikel dalam ukuran yang berbeda – beda tergantung pada agregat yang terbentuk. Sedimentasi pada deflokulasi tidak dapat didispersikan kembali karena endapan deflokulasi telah terbentuk caking, hal ini disebabkan oleh ukuran partikel pada suspensi yang terdeflokulasi sangat kecil, hingga membentuk ikatan antar partikel yang erat dan padat.

Apa saja sediaan flukolasi dan deflokulasi ?

Sediaan suspensi flokulasi yang beredar dipasaran seperti Jamu dan Antibiotik (serbuk yang dilarutkan dengan penambahan air). Sedangkan sediaan suspensi deflokulasi yang beredar contohnya adalah suspensi obat batuk, obat maag dan lain sebagainya.

Bagaimana membedakan larutan suspensi yang baik atau tidak ?

Apoteker berperan dalam pengobatan pasien serta memilihkan obat untuk pasiennya termasuk memberikan informasi terkait dengan sediaan yang baik dan tidak baik untuk dikonsumsi oleh masyarakat dan aturan pakai obat kepada pasien khususnya sediaan larutan. Suspensi yang baik salah satu cirinya adalah sediaan ini akan mudah terdispersi kembali setelah dilakukan pengocokan ( Flokulasi). Apabila dalam sediaan suspensi terdapat endapan yang sukar terdispersi kembali bisa jadi karena sediaan sudah kadaluarsa sehingga suspensi ini sudah tidak layak untuk digunakan. Sediaan suspensi dapat rusak pula karena penyimpanan yang tidak tepat. Sedangkan sediaan suspensi yang kurang baik adalah apabila endapan yang terjadi pada suspensi tersebut tidak mudah terdispersi kembali dengan pengocokan dan membentuk cake yang liat ( Deflokulasi )

Demi menjaga kestabilan sediaan suspensi, sebaiknya sediaan suspensi disimpan pada suhu ruangan atau tempat yang kering dan tidak terkena sinar matahari. Dan hal penting dalam penggunaan sediaan suspensi adalah mengocoknya terlebih dahulu sebelum digunakan.

Ringkasnya:

Dalam Sistem FLOKULASI :“Partikel TERFLOKULASI adalah terikat lemah,cepat mengendap,mudah tersuspensi kembali dan tidak membentuk cake”

Dalam Sistem DEFLOKULASI : “Partikel TERDEFLOKULASI mengendap perlahan dan akhirnya membentuk sedimen dan terjadi agregasi dan selanjutnya cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali”

DAFTAR PUSTAKA

Hauner,Ines.M, et al.”The Dynamic Surface Tension of Water”. The Journal of Physical Chemistry Letters (2017)

XueMei Sun.” Research of Simulation on the Rffect of Suspension Damping on Vehicle Ride” (2012)

Korenko,Michal. “Measurement of Interfacial Tension in Liquid Hight Temperture System”. (2010), pp 4561-4573

Share this:
  • 84
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    84
    Shares

About Lina Ratnasari

Check Also

Lefamulin, Antibiotik Baru untuk Atasi Pneumonia disetujui FDA

Farmasetika.com –  Food and Drug Administration (FDA) menyetujui Antibiotik Baru lefamulin (Xenleta, Nabriva Therapeutics) …

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Skip to toolbar