Mengenal Pimavanserin, Obat Baru Anti Halusinasi pada Parkinson

Farmasetika.com – Nuplazid berisi pimavanserin, yang tersedia dalam bentuk garam yaitu pimavanserin tartrat. Nuplazid merupakan antipsikosis atipikal yang digunakan untuk terapi pada pasien dengan halusinasi dan delusi yang terkait dengan psikosis pada penyakit Parkinson.

Mekanisme kerja pimavanserin

Mekanisme kerja pimavanserin dalam pengobatan halusinasi dan delusi yang terkait dengan psikosis penyakit Parkinson tidak diketahui. Namun, efek pimavanserin dapat dimediasi melalui kombinasi agonis terbalik dan aktivitas antagonis pada reseptor serotonin 5-HT2A dan pada tingkat yang lebih rendah pada reseptor serotonin 5-HT2C. 

Psikosis merupakan kondisi saat penderita tidak dapat membedakan kenyataan dan imajinasi. Gejala yang muncul dapat berupa delusi dan halusinasi. Penyebab psikosis belum diketahui secara pasti. Namun, pemicunya dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut, seperti memiliki pola tidur yang buruk, mengonsumsi alkohol atau menggunakan ganja, mengalami trauma, serta karena adanya gangguan pada otak (penyakit Parkinson, Huntington, Alzheimer, kista/ tumor otak, epilepsi, infeksi yang menyerang otak). Psikosis juga dapat muncul sebagai gejala penyakit tertentu, seperti skizofrenia, depresi berat, dan gangguan bipolar. Psikosis harus ditangani dengan pemberian obat dan psikoterapi. 

Nuplazid (pimavanserin)

Nuplazid hanya digunakan untuk pemberian oral, dan tersedia dalam bentuk tablet ataupun kapsul. Nuplazid saat ini tersedia dalam bentuk tablet 17 mg, kapsul 34 mg, dan tablet 10 mg. Tabletnya memiliki ciri, berbentuk bulat, berwarna putih, diformulasikan sebagai tablet lepas cepat, tablet dilapisi oleh film yang mengandung 20 mg pimavanserin tartrat yang setara dengan 17 mg pimavanserin bentuk bebas, Bahan tidak aktif lain yaitu pati pregelatinisasi, magnesium stearat, dan selulosa mikrokristalin. Bahan lain sebagai komponen lapisan film yaitu, hypromellose, talk, titanium dioksida, polietilen glikol, dan natrium sakarin.  

Dosis nuplazid yang dianjurkan adalah 34 mg, diminum sehari satu kali dua tablet. Nuplazid dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Untuk modifikasi dosis akibat penggunaan bersama dengan penghambat dan penginduksi CYP3A4, dapat dikonsultasikan. Namun, direkomendasikan jika penggunaan bersama dengan penghambat CYP3A4 (itrakonazol, ketokonazol, klaritromisin, indinavir), dosis nuplazid dikurangi menjadi 10 mg diminum sehari satu kali satu tablet secara oral. Hindari penggunaan bersama dengan penginduksi CYP3A4 (rifampin, karbamazepin, fenitoin, St John’s wort).

Nuplazid tidak memiliki kontraindikasi. Penyimpanan nuplazid yaitu disimpan pada temperatur ruangan, jauh dari panas dan cahaya langsung. Jangan membekukan obat kecuali diperlukan oleh kemasan. Jauhkan dari anak-anak dan hewan peliharaan. Jangan membuang obat ke toilet atau tempat pembuangan air lainnya. Harap konsultasikan tentang cara pembuangan nuplazid dengan aman. 

Hasil uji klinik

Berdasarkan studi farmakokinetik, tidak ada penyesuaian dosis carbidopa / levodopa yang diperlukan ketika diberikan bersamaan dengan nuplazid. Levodopa merupakan obat anti parkinson yang digunakan untuk mengobati gejala penyakit Parkinson atau gejala serupa Parkinson (tubuh gemetar, kaku, dan kesulitan bergerak) yang umumnya disebabkan karena kurangnya kadar dopamin di dalam otak. Levodopa diubah menjadi dopamin dalam tubuh sehingga dapat meningkatkan kadar dopamin. 

Efek samping

Efek samping umum dari nuplazid yaitu edema perifer, keadaan bingung, mual, dan sembelit. Efek samping serius nuplazid dalam pelabelan yaitu peningkatan angka kematian pada pasien usia lanjut dengan psikosis terkait demensia, dan perpanjangan interval QT. Nuplazid dapat memperpanjang interval QT. Penggunaan nuplazid harus dihindari pada pasien dengan perpanjangan interval QT atau kombinasi dengan obat lain yang diketahui memperpanjang interval QT termasuk antiaritmia kelas 1A (quinidin, prokainamid, disopiramid) atau antiaritmia kelas 3 (amiodaron, satolol), antipsikotik tertentu (ziprasidon, klorpromazin, thioridazin), dan antibiotik tertentu (gatifloxacin, moxifloxacin). Penggunaan nuplazid juga harus dihindari pada pasien dengan riwayat aritmia jantung, serta kondisi lain (bradikardia simptomatik, hipokalemia, hipomagnesia, perpanjangan bawaan dari interval QT) yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kematian mendadak. 

Perpanjangan interval QT merupakan penyakit jantung yang terjadi ketika sistem elektrik jantung tidak berfungsi secara normal. Penyakit ini mengganggu arus listrik di dalam jantung dan terlihat dari hasil elektrokardiogram (EKG) melalui interval berkepanjangan diantara gelombang Q dan T. Gejala dari penyakit ini seringkali tidak terlihat, namun gejala yang dapat terlihat yaitu pingsan mendadak, serangan jantung mendadak, detak jantung tidak teratur (aritmia), napas pendek saat tidur, serta kejang-kejang. Penyebab penyakit ini adalah mutasi genetik pada pada sistem arus listrik jantung, dan obat-obatan tertentu.

Penggunaan nuplazid pada kondisi tertentu:

  1. Penggunaan nuplazid pada kondisi kehamilan tidak diketahui. Perkiraan risiko latar belakang cacat lahir utama dan keguguran untuk populasi yang ditunjukkan tidak diketahui. Pada populasi umum di Amerika Serikat, perkiraan risiko latar belakang cacat lahir utama dan keguguran di kehamilan yang diakui secara klinis masing-masing adalah 2-4% dan 15-20%. 
  2. Penggunaan nuplazid pada kondisi menyusui tidak diketahui. Tidak ada informasi mengenai keberadaan pimavanserin dalam asi, efek pada bayi yang diberi asi, atau efeknya terhadap produksi susu. 
  3. Penggunaan nuplazid pada pasien anak-anak (pediatrik), keamanan dan efektivitas nuplazid belum ditetapkan pada pasien anak. 
  4. Penggunaan nuplazid pada pasien lanjut usia (geriatri), tidak diperlukan penyesuaian dosis untuk pasien usia lanjut. 
  5. Penggunaan nuplazid pada pasien dengan kerusakan ginjal, tidak diperlukan penyesuaian dosis untuk nuplazid pada pasien kerusakan ginjal tingkat ringan sampai sedang (Cockcroft-Gault, CrCL ≥30 mL / menit). Penggunaan nuplazid tidak dianjurkan pada pasien dengan gangguan ginjal berat (Cockcroft-Gault, CrCL <30 mL / menit). 
  6. Penggunaan nuplazid pada pasien dengan gangguan hati, tidak dianjurkan pada pasien dengan gangguan hati. Nuplazid belum dievaluasi pada kondisi pasien ini.

SUMBER:

Food and Drug Administration. 2016. Nuplazid. Tersedia online pada https://www.accessdata.fda.gov/drugsatfda_docs/label/2016/207318lbl.pdf [diakses pada tanggal 27 Oktober 2019].

RxList. 2019. Nuplazid. Tersedia online pada https://www.rxlist.com/nuplazid-drug.htm#description [diakses pada tanggal 27 Oktober 2019].

Penulis : Amaliah Ihsani, Mahasiswa Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Share this:
  • 41
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    41
    Shares

About farmasetika.com

farmasetika.com
Farmasetika.com merupakan situs yang berisi informasi farmasi terkini berbasis ilmiah dan praktis. Sign Up untuk bergabung di komunitas farmasetika.com. Download aplikasi Tapatalk, Caping, atau Baca di smartphone, Ikuti twitter, instagram dan facebook kami. Terimakasih telah ikut bersama memajukan bidang farmasi di Indonesia.

Check Also

Dolutegravir, Obat HIV Untuk Balita Disetujui FDA

Majalah Farmasetika – Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) telah menyetujui formulasi tablet dolutegravir …

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.