Peran Vitamin D dalam Mengurangi Resiko Infeksi COVID-19

Majalah Farmasetika – Kasus virus COVID-19 semakin mengalami peningkatan tiap hari nya, terlebih di negara Indonesia. Salah satu hal yang dapat mengurangi resiko terkena virus COVID-19 adalah dengan memiliki respon imun yang baik.

Respon imun berperan penting dalam pathogenesis dan manifestasi penyakit ini. Saat ini, belum ditemukan terapi yang sangat efektif untuk pasien konfirmasi COVID-19, tetapi beberapa terapi suportif telah dikembangkan.

Dalam artikel ini, dibahas lebih dalam mengenai pentingnya suplemen vitamin D dalam mengurangi resiko infeksi COVID-19. Usaha memenuhi asupan vitamin D dalam tubuh merupakah salah satu usaha preventif untuk mengurangi resiko terpaparnya virus COVID-19.

Vitamin D berperan penting dalam proses peningkatan daya tahan tubuh. Sumber vitamin D sendiri yaitu dapat diperoleh secara alami dari sinar matahari, makanan sehat, dan juga asupan supleman vitamin D.

Dosis vitamin D yang dianjurkan yaitu sekitar 400-2000 IU/hari sesuai dengan kondisi klinis masing-masing individu. Mekanisme terjadinya pengurangan resiko terpapar virus COVID-19 oleh vitamin D3 yaitu dengan cara meningkatkan sitokin anti-inflamasi, meningkatkan imunoregulasi interleukin10 (IL-10), dan mengurangi frekuensi dalam sel Th17.

Pendahuluan

Pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh sindrom pernapasan akut coronavirus 2 (SARS-CoV-2) ini mengalami peningkatan yang sangat pesat pada pasien hampir di seluruh dunia baru-baru ini. Respon imun tubuh inang atau respon imun pasien memainkan peran yang sangat penting dalam patogenesis penyakit dan manifestasi klinis. SARS-CoV-2 tidak hanya menyebabkan aktifnya respon imun antivirus, namun dapat juga menyebabkan respon inflamasi yang tidak terkontrol yang ditandai dengan adanya pelepasan sitokin proinflamasi yang nyata pada pasien yang mengidap COVID-19 yang parah. Hal ini dapat menyebabkan limfopenia, disfungsi limfosit dan kelainan pada granulosit dan monosit.

Manajemen rasional dari respon kekebalan terhadap SARS-CoV-2 mencakup peningkatan kekebalan antivirus sambil menghambat peradangan sistemik yang mungkin menjadi kunci keberhasilan pengobatan (Yang, et.al., 2020).

Kondisi pandemi COVID-19 menuntut masyarakat untuk mampu menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh serta disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan. Strategi terbaik untuk meminimalkan bahaya yang disebabkan oleh COVID-19 adalah melakukan social distancing, contact tracing dan penggunaan masker sebagai pencegahan penularan virus corona.

Sampai saat ini, belum ditemukan terapi yang efektif untuk pasien yang bergejala, namun beberapa jenis terapi suportif sedang dipelajari. Oleh karena itu, pencegahan adalah upaya terbaik yang dapat dilakukan. Salah satu usaha masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh adalah dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang ditambah dengan asupan suplemen.

Peran suplemen

Zat gizi yang berperan aktif dalam meningkatkan daya tahan tubuh diantaranya vitamin A,C,E dan Zink. Zat gizi ini dapat diperoleh dari konsumsi sayuran, buah-buahan ataupun melalui produk suplemen yang beredar di pasaran. Selain itu vitamin D diyakini dapat membantu dalam meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga kegiatan berjemur dan mengonsumsi vitamin D tambahan menjadi hal yang diburu saat pandemi COVID-19 ini.

Vitamin D merupakan sekosteroid yang memiliki aktivitas imunomodulator, antiinflamasi, serta antioksidan yang tinggi. Metabolit vitamin D telah lama diketahui mendukung mekanisme efektor antivirus bawaan, termasuk induksi peptida antimikroba dan autophagy. Vitamin D dan reseptornya (VDR) memberikan peran penting dalam infeksi karena memiliki dampak yang luar biasa pada respon imun bawaan dan adaptif serta pada penekanan proses inflamasi. Sifat protektif dari vitamin D telah didukung oleh banyak penelitian observasional dan meta-analisis uji klinis untuk pencegahan infeksi virus pernafasan akut, termasuk COVID-19.

Orang dengan defisiensi vitamin D ringan hingga berat termasuk salah satu kelompok resiko tinggi untuk mendapatkan penyakit parah akibat COVID-19. Michael Holik, salah satu profesor kedokteran di Boston University Medical Campus menyebutkan bahwa pasien yang kekurangan vitamin D (kadar 25(OH)D dalam darah kurang dari 20 ng/mL) memiliki tingkat positif COVID-19 54% lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang cukup vitamin D.

Vitamin D dan COVID-19

Penelusuran genomics-guided terbaru dari target SARS-CoV-2 dalam sel manusia mengungkapkan vitamin D sebagai satu dari tiga zat kimia teratas yang menunjukkan kemungkinan pola mitigasi infeksi melalui dampaknya pada ekspresi gen. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa penyakit pernapasan berhubungan dengan adanya disregulasi metabolisme vitamin D.

Baca :  Virus Corona Serang Kebun Binatang, 8 Gorila Positif COVID-19

Defisiensi vitamin D meningkatkan kemungkinan seseorang terkena inflamasi pulmonari. Dengan mengaktifkan atau menekan beberapa gen di wilayah promotor yang terikat pada elemen respon vitamin D, vitamin D dapat mencegah atau memperbaiki perburukan COVID-19 dengan mengatur sistem renin-angiotensin (RAS), imunitas seluler bawaan dan adaptif, serta barrier fisik. SARS-CoV-2 dilaporkan menggunakan angiotensin-2 converting enzyme (ACE2) sebagai reseptor yang digunakan untuk menginfeksi sel inang.

Disregulasi selanjutnya dari RAS akan menyebabkan produksi sitokin yang berlebihan, mengakibatkan acute respiratory disease syndrome (ARDS) yang fatal. Penurunan regulasi ACE2 di jaringan paru dapat menyebabkan peningkatan permeabilitas alveolar, dan menyebabkan kerusakan dan kegagalan paru yang parah. Vitamin D dapat meningkatkan regulasi reseptor ACE2 di sel endotel mikrovaskular paru, yang dapat mengikat virus untuk menonaktifkannya. Selain itu, vitamin D memainkan peran penting dalam respon imunitas seluler bawaan dan adaptif dengan menghambat badai sitokin dengan menurunkan regulasi sitokin pro-inflamasi serta mengerahkan aktivitas antivirus dan memodulasi respon inflamasi terhadap infeksi virus dengan merangsang pelepasan cathelicidin, modulasi ekspresi toll-like receptor dan fungsi natural killer (NK) sel (Annweiler et al., 2020; Wang et al., 2021).

Defisiensi vitamin D ditentukan oleh perhitungan dari 25-hidroksikolekalsiferol yang berada di bawah 20 ng/mL atau 1,25-dihidroksikolekalsiferol yang berada di bawah 18 pg/mL sebelum dilaksanakannya tes COVID-19. Perubahan pengobatan pada pasien ditentukan oleh adanya perubahan pada tipe dan kadar vitamin D antara tanggal saat terakhir pengecekan vitamin D dan tanggal saat dilaksanakannya tes COVID-19.

Defisiensi vitamin D dan perubahan pengobatan dikombinasikan untuk mengkategori status dari vitamin D sebelum dilakukan tes COVID yang biasanya memang terjadi penurunan (tingkat kadar vitamin D dan pengobatan terakhir tidak ada kenaikan), hampir mencukupi (tingkat vitamin D terakhir tidak terjadi defisiensi dan pengobatan tidak menurun), serta dua kelompok dengan defisiensi yang tidak meyakinkan (tingkat defisiensi dan pengobatan terakhir meningkat, dan tingkat vitamin D tidak defisiensi namun pengobatan menurun) (Meltzer, et.al., 2020).

Sumber Vitamin D

Vitamin D dapat diperoleh dari paparan sinar matahari, suplementasi, dan makanan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan vitamin D secara in vitro oleh sinar matahari diantaranya faktor lingkungan, seperti variasi musim dalam paparan sinar matahari, garis lintang geografis, polusi udara, dan warna kulit (Di Rosa et al., 2011).

Namun, vitamin D yang didapatkan dari paparan sinar matahari saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D dalam darah, oleh karena itu sangat diperlukan tambahan asupan suplementasi vitamin D. Pedoman internasional yang berfokus pada efek pleiotropik vitamin merekomendasikan target konsentrasi 25(OH)D yaitu 30 ng/mL.

Dosis vitamin D, dengan kisaran 400-2000 IU/hari, direkomendasikan berdasarkan usia, paparan sinar matahari, etnis, pigmentasi kulit, gangguan penyerapan gastrointestinal, obesitas, diabetes mellitus, penyakit hati dan ginjal, serta asupan alkohol.

Toksisitas akut dapat terjadi dengan penggunaan vitamin D dosis berlebih yaitu 10.000 IU/hari, yang dapat menghasilkan konsentrasi serum 25(OH)D >150 ng/mL (>375 nmol/L) (IOM, 2011). Suplementasi vitamin D3 mengurangi resiko infeksi COVID-19 dengan peningkatan sitokin anti-inflamasi dan imunoregulasi interleukin10 (IL-10) dan mengurangi frekuensi dalam sel Th17 yang dapat menyebabkan penurunan IL-17 dan proinflamasi serta memproduksi sitokin TNFα yang mengurangi efek inflamasi pada inang (Allen et al., 2012 ; Ferreira et al., 2020).

Konsumsi suplementasi magnesium dianjurkan saat mengkonsumsi suplemen vitamin D. Magnesium mampu membantu mengaktifkan vitamin D, yang mana dapat membantu mengatur homeostasis kalsium dan fosfat untuk mempengaruhi pertumbuhan dan pemeliharaan tulang. Selain itu, seluruh enzim yang memetabolisme vitamin D juga membutuhkan magnesium yang bertindak sebagai kofaktor dalam reaksi enzimatik di hati dan ginjal. Dosis magnesium yang direkomendasikan adalah pada kisaran 250-500 mg/hari, bersamaan dengan konsumsi kalsium dengan dosis dua kali lipat dari dosis tersebut (Grant et al., 2020).

Terdapat argumen yang menyatakan bahwa mengkonsumsi vitamin D dengan dosis terlalu tinggi dapat menyebabkan toksisitas vitamin D yang dapat menyebabkan hiperkalsemia, yaitu penumpukan kalsium dalam darah yang menyebabkan pengapuran pembuluh darah, osteoporosis, dan batu ginjal.

Baca :  Vaksin COVID-19 Pfizer Kini Bisa Digunakan untuk Anak

Namun, penelitian melaporkan bahwa alasan hiperkalsemia lebih terletak pada defisiensi vitamin K2, karena K2 mengaktifkan protein yang mengandung osteokalsin melalui karboksilasi. Osteokalsin yang teraktivasi menyimpan kalsium di dalam tulang, sedangkan osteokalsin yang tidak teraktivasi menghambat penyerapan kalsium oleh tulang. Karena laju sintesis osteokalsin meningkat dengan kadar serum 25(OH)D yang lebih tinggi, maka vitamin K2 diperlukan sebagai antagonis alami (Flore et al., 2013 ; Vermeer dan Theuwissen, 2011).

Konsumsi vitamin D sesuai dosis yang diperlukan adalah cara paling tepat. Hal ini diperlukan tenaga medis seperti dokter untuk berkonsultas kerena tiap individu mempunyai kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, jika terinveksi virus COVID-19 penuhi asupan nutrisi yang baik, benar, sehat, dan kaya akan mineral dan vitamin. Konsultasikan ke dokter jika memang dibutuhkan. Tidak lupa juga tetap menjalani protocol Kesehatan untuk menghindari terpaparnya virus COVID-19

Kesimpulan

Terdapat beberapa cara untuk mengurangi terpapar dari virus corona, salah satu caranya adalah dengan mengonsumsi vitamin D. Beberapa penelitian telah membuktikan peranan vitamin D dalam mengurangi resiko terpapar virus COVID-19. Mekanisme terjadinya pengurangan resiko terpapar virus COVID-19 oleh vitamin D3 yaitu dengan cara meningkatkan sitokin anti-inflamasi, mengerahkan aktivitas antivirus, memodulasi respon inflamasi terhadap infeksi virus dengan pelepasan cathelicidin, meningkatkan imunoregulasi interleukin10 (IL-10), dan mengurangi frekuensi dalam sel Th17.

Vitamin D sendiri mudah didapatkan salah satunya yaitu dengan berjemur dan mendapatkan sinar matahai, selain itu asupan vitamin D dan makanan juga merupakan sumber lain untuk memperoleh vitamin D. Setiap individu memiliki kondisi klinis yang berbeda oleh karena itu kebutuhan vitamin D nya pun berbeda. Dalam hal ini berkonsultasi lah ke dokter jika memang dibutuhkan.

Daftar Pustaka

Allen et al. 2012. A Pilot Study of the immunological effects of high dose vitamin D in healthy volunteers. Mult Scler. 18 : 1797-800.

Annweiler, C., Hanotte, B., Grandin de l’Eprevier, C., Sabatier, J. M., Lafaie, L., & Célarier, T. 2020. Vitamin D and survival in COVID-19 patients: A quasi-experimental study. The Journal of steroid biochemistry and molecular biology, 204, 105771.

Di Rosa, M.; Malaguarnera, M.; Nicoletti, F.; Malaguarnera, L. 2011. Vitamin D3: A helpful immuno-modulator. Immunology, 134, 123–139.

Ferreira AO, Polonini HC, Dijkers ECF. 2020. Postulated adjuvant therapeutic strategies for COVID-19. J. Personal Med. 10:80.

Flore et al. 2013. Something more to say about calcium homeostatis: the role of vitamin K2 in vascular calcification and osteoporosis. Eur Rev Med Pharmacol Sci. 17:2433-40.

Grant, W. B., Lahore, H., McDonell, S. L., Baggerly, C. A., French, C. B., Aliano, J. L., & Bhattoa, H. P. Evidence that Vitamin D Supplementation Could Reduce Risk of Influenza and COVID-19 Infections and Deaths. Nutrients, 12 (4), 988.

IOM (Institute of Medicine). Dietary Reference Intakes for Calcium and Vitamin D. 2011. National Academies Press: Washington DC : USA. pp. 1–1115.

Martineau, A. R. dan Forouhi, N. G. 2020. Vitamin D for COVID-19: A Case to Answer. The Lancet Diabetes & Endocrinology. Vol. 8 (9): 735-736.

Meltzer, D. O., Best, T. J., Zhang, H., Vokes, T., Arora, V. dan Solway, J. 2020. Association of Vitamin D Status and Other Clinical Characteristics With COVID-19 Test Results. JAMA Network Open. Vol. 3 (9): 1-12.

Vermeer, C dan Theuwissen. 2011. Vitamin K, osteoporosis and gedenerative diseases of ageing. Menopause Int. 17:19-23.

Wang, X., Zhang, Y., & Fang, F. 2021. Role of vitamin D in COVID-19 infections and deaths. J Evid Based Med, 14, 5-6.

Yang, L., Liu, S., Liu, J., Zhang, Z., Wan, X., Huang, B., Chen, Y., dan Zhang, Y. 2020. Review Article COVID-19: Immunopathogenesis and Immunotherapeutics. Signal Transduction and Targeted Therapy. Vol. 5, 128: 1-8.

Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About Nyai Ayu Sylfia Stannia Puspitasari Helmi

Nyai Ayu Sylfia Stannia Puspitasari Helmi

Check Also

Mavrilimumab Bantu Pemulihan COVID-19 yang Parah, Kurangi Resiko Kematian

Majalah Farmasetika – Inhibitor faktor perangsang granulosit/makrofag-koloni (granulocyte/macrophage–colony stimulating factor/GM-CSF) dengan mavrilimumab mencegah beberapa pasien …

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.