babi

Jelang KTT G7, Kelompok Kesehatan Hewan Mendesak Pembatasan Antibiotik

Jelang KTT G7, Kelompok Kesehatan Hewan Mendesak Pembatasan Antibiotik. KTT(Konferensi Tingkat Tinggi) G7 di Jepang akan dimulai hari ini (26/5), salah satu agendanya termasuk diskusi resistensi antibiotik. Direncanakan akan menjadi bagian dari dialog yang utama di tengah krisis Ebola dan untuk memperkuat respon terhadap krisis kesehatan masyarakat.

Grup 7 (G7) adalah sebuah grup yang terdiri dari Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Britania Raya, dan Amerika Serikat. Uni Eropa juga diwakili di G7. Negara-negara G7 mewakili lebih dari 64% kekayaan bersih global (USD 263 triliun).

Kelompok perdagangan global Kesehatan untuk Hewan memperkirakan bahwa 75% dari penyakit menular yang muncul berasal dari hewan. Itu sebabnya kelompok ini memiliki gagasan bahwa antibiotik harus dilarang pada hewan ternak.

“Antibiotik yang digunakan harus sesedikit mungkin, ini akan terus memberikan manfaat nyata kepada orang-orang dan hewan di seluruh dunia,” kata Carel du Marchie Sarvaas, direktur eksekutif dari HealthforAnimals kelompok perdagangan global dalam sebuah pernyataan yang dirilis sebelum KTT G7. Ia memperingatkan, bahwa suatu larangan langsung pada antibiotik dapat mengakibatkan “isu-isu kesehatan dan kesejahteraan secara serius.”

KTT  ini diselenggarakan satu minggu setelah penerbitan Laporan Penelitian O’Neill tentang Resistensi antimikroba. O’Neill telah ditugaskan oleh Perdana Menteri Inggris David Cameron pada tahun 2014. Laporan tersebut memperkirakan bahwa untuk mengatasi masalah resistensi antibiotik akan menghasilkan kerugian kumulatif sebesar USD 100 triliun, menurut FG Insight. Secara khusus menunjuk pada industri pertanian AS sebagai penyebab utama, mengutip perkiraan bahwa 70% dari antibiotik yang dibuat untuk digunakan manusia dijual untuk mengobati hewan.

Sebelumnya, kantor berita BBC memicu banyak kritik dari industri pertanian dengan menayangkan sebuah program yang disebut “Krisis Antibiotik” dimana menampilkan pasien yang menderita penyakit yang tidak dapat diobati, dan memperkirakan bahwa antibiotik resistensi akan menyebabkan kematian 80.000 orang di Inggris selama 20 tahun ke depan.

Baca :  Peneliti : Hampir Setengahnya Resep Antibiotik Tanpa Dilakukan Diagnosis Infeksi Bakteri

Sebuah kelompok yang bernama Responsible Use of Medicines in Agriculture Alliance (RUMA) menanggapi program dengan mendesak para pemimpin dunia untuk mengadopsi pendekatan “One Health“, sebuah pendekatan untuk memerangi resistensi antibiotik. Dokter hewan dan profesional kesehatan manusia harus bekerja sama, kelompok itu mengatakan, untuk mencari alternatif antibiotik dan memperbaiki praktek dalam menggunakan obatnya.

HealthforAnimals juga mendorong pendekatan One Health. “Ada kebutuhan untuk menyepakati strategi sukses untuk menjaga antibiotik yang ada bekerja untuk generasi mendatang,” kata du Marchie Sarvaas. “Kolaborasi yang lebih besar antara sektor manusia dan hewan akan membantu untuk mengamankan ini.”

Sumber : http://www.fiercepharma.com/

Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About farmasetika.com

Farmasetika.com (ISSN : 2528-0031) merupakan situs yang berisi informasi farmasi terkini berbasis ilmiah dan praktis dalam bentuk Majalah Farmasetika. Di situs ini merupakan edisi reguler. Sign Up untuk bergabung di komunitas farmasetika.com. Download aplikasi Android Majalah Farmasetika, Caping, atau Baca di smartphone, Ikuti twitter, instagram dan facebook kami. Terimakasih telah ikut bersama memajukan bidang farmasi di Indonesia.

Check Also

BPOM : Industri Farmasi Harus Lakukan Studi Keamanan Pasca Pemasaran Darurat Obat/Vaksin COVID-19

Majalah Farmasetika – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai regulator obat dan vaksin di …

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.