Home / Regulasi / WHO Rilis Pedoman Terapi Baru Menangkal Resistensi Antibiotik Penyakit Menular Seksual

pms
pic : freedigitalphotos.net

WHO Rilis Pedoman Terapi Baru Menangkal Resistensi Antibiotik Penyakit Menular Seksual

Majalah Farmasetika (V1N7-September 2016). World Health Organization (WHO) merilis pedoman pengobatan baru (30/8) untuk klamidia, gonore dan sifilis sebagai reaksi tumbuhnya resistensi antibiotik pada penyakit infeksi menular seksual ini.

Resistensi antibiotik pada PMS meningkat pesat

Pedoman baru untuk pengobatan 3 infeksi penyakit menular seksual (PMS) telah diterbitkan oleh WHO dalam menanggapi ancaman resistensi antibiotik.

Klamidia (chlamydia), gonore (gonorrhoea) dan sifilis (syphilis) semua disebabkan oleh bakteri dan umumnya dapat disembuhkan dengan antibiotik. Namun, PMS ini sering tidak terdiagnosis dan menjadi lebih sulit untuk diobati, dengan beberapa antibiotik yang ada sekarang sering gagal sebagai akibat dari penyalahgunaan dan penggunaan antibiotik berlebihan. Diperkirakan, setiap tahun, 131 juta orang terinfeksi klamidia, 78 juta dengan gonore, dan 5,6 juta dengan sifilis.

Perlawanan dari infeksi terhadap efek antibiotik telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir dan telah mengurangi pilihan pengobatan. Dari 3 PMS, gonore telah mengembangkan resistensi kuat terhadap antibiotik. Strain gonore multidrug-resistant yang tidak menanggapi setiap antibiotik yang tersedia telah terdeteksi. Resistensi antibiotik di klamidia dan sifilis, meskipun kurang umum, juga ditemukan yang membuat pencegahan dan pengobatan tepat harus dilakukan.

Infeksi klamidia, gonore dan sifilis tingkatkat resiko HIV hingga 3 kali lipat

Ketika terdiagnosis dan tidak diobati, PMS ini dapat mengakibatkan komplikasi serius dan masalah kesehatan jangka panjang bagi perempuan, seperti penyakit radang panggul, kehamilan ektopik, dan keguguran. Begitupula pada gonore dan klamidia yang tidak diobati dapat menyebabkan kemandulan pada pria dan wanita. Infeksi klamidia, gonore dan sifilis juga dapat meningkatkan risiko seseorang terinfeksi HIV sampai dua sampai tiga kali lipat. PMS yang tidak diobati pada wanita hamil meningkatkan kemungkinan kematian bayi lahir.

Baca :  WHO Sarankan Pemerintah Gunakan Standarisasi Kemasan Rokok Polos

“Chlamydia, gonorrhea dan sifilis adalah masalah kesehatan masyarakat yang utama di seluruh dunia, yang mempengaruhi jutaan kualitas hidup bangsa dan menyebabkan penyakit serius serta kadang-kadang kematian. Pedoman WHO baru memperkuat kebutuhan untuk mengobati PMS ini dengan antibiotik yang tepat, pada dosis yang tepat, dan waktu yang tepat untuk mengurangi penyebaran dan meningkatkan kesehatan seksual dan reproduksi. Untuk melakukan itu, layanan kesehatan nasional perlu memonitor pola resistensi antibiotik pada infeksi ini dalam negara mereka, “kata Ian Askew, Direktur Kesehatan reproduksi dan Riset, WHO .

Rekomendasi baru ini didasarkan pada bukti terbaru yang tersedia pada perawatan yang paling efektif untuk 3 infeksi menular seksual ini.

Klik halaman berikutnya >>

Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About farmasetika.com

Farmasetika.com merupakan situs yang berisi informasi farmasi terkini berbasis ilmiah dan praktis. Sign Up untuk bergabung di komunitas farmasetika.com. Download aplikasi Tapatalk, Caping, atau Baca di smartphone, Ikuti twitter, instagram dan facebook kami. Terimakasih telah ikut bersama memajukan bidang farmasi di Indonesia.

Check Also

bpom

BPOM : Daftar Produk Ranitidin yang Dapat Diedarkan Kembali dari 37 Industri Farmasi

farmasetika.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan rilis berita terkait “Informasi Produk Ranitidin …

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Skip to toolbar