Terapi Masa Depan Mesenchymal Stem Cell Untuk Berbagai Penyakit Perlu Dikembangkan di Indonesia

Majalah Farmasetika – Saat ini pengetahuan tentang sel punca atau stem cell menjadi sangat penting karena stem cell merupakan salah satu dari the future of medicine, selain terapi genetik, dan nanorobotik.

Hal ini disampaikan oleh salah satu narasumber, dr. Cosmos Mangunsong Sp.M(K), dalam webinar yang diadakan oleh Pusat Studi Pengembangan Sediaan Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran bekerjasama dengan Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI), serta Majalah Farmasetika sebagai media partner dengan tema “Prospek dan Tantangan dalam Terapi Regeneratif” (19/09/2020).

“Stem cell itu bukan obat tetapi materi biologis yang memiliki sifat dan mekanisme kerja yang spesifik serta efikasinya sangat besar dalam terapi.” Terang Cosmos yang merupakan seorang dokter praktisi di Jakarta Eye Center Hospital.

Mengambil sub topik “Menuju era Regenerative Medicine bersama Mesenchymal Stem Cell/MSC”, Cosmos menjelaskan bahwa Stem cell di Indonesia biasanya dikenal sebagai sel punca atau sel induk, makna dari keduanya sama, untuk mengacu kepada suatu sel yang belum berdiferensiasi dan memiliki potensi yang sangat tingginuntuk berkembang menjadi byk jenis sel yang berbeda.

“Pada mahluk hidup tingkat tinggi Stem Cell berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan dan pada saat terjadi cedera, Stem Cell memimpin proses pemulihan cedera. Pada manusia stem cell dapat ditemukan pada tali pusat, sum-sum tulang, jaringan adiposa, dan ditempat tertentu lainnya di tubuh.” Jelas Cosmos yang juga kandidat Doktor dari Universitas Gadjah Mada ini.

Menurutnya, berdasarkan kemampuan berdiferensiasinya stem cell dibagi menjadi:

(1) sel totipotent yaitu sel yang dapat berdiferensiasi menjadi seluruh sel.

(2) sel pluripotent, dapat berdiferensiasi menjadi banyak sel tetapi tidak seluruh sel dalam tubuh.

Baca :  PP IAI Adakan Ujian OSCE/OSPE Daring, Catat Jadwal, Cara dan Syaratnya!

(3) sel multipotent, dapat berdiferensiasi menjadi satu sel tertentu saja.

Semakin dewasa stem cell maka akan terbatas kemampuan membelah dirinya. Berdasarkan jenisnya ada embryonal stemcell yang berasal dari embryonal, mesenchymal dan induced pluripotent.

“Untuk keperluan terapi kita bisa menggunakan stem cellnya langsung atau secretome. Secretome adalah suatu zat yang dihasilkan oleh stem cell yang isinya adalah growth factor, miRNA, exosome dan factor-faktor pertumbuhan lainnya yang makin kesini menjadi hal baru yang berguna untuk pengobatan.” Terang Cosmos.

Cosmos memaparkan bahwa pilihan klinisi saat ini untuk terapi medis menggunakan MSC.

MSC merupakan stem cell multipotential berasal dari sumsum tulang ( bone marrow), yang bisa diektraksi dari tubuh manusia.

“Secara Etik lebih manusiawi dan diperbolehkan untuk digunakan hampir diseluruh negara di dunia. Mempunyai kelebihan lain seperti non rejeksi, serta non tumorigenic.” Jelasnya.

“Manfaat klinis dari MSC saat ini beberapa diantaranya adalah pada terapi Osteoarthritis, luka bakar, penyakit ginjal, penyakit jantung dan penyakit mata. Umunya pemberian MSC dalam terapi saat ini dilakukan melalui injeksi atau dengn cara diinfuskan. Namun Terapi stem cell saat ini belum seperti pengobatan rumah sakit atau klinik, terapi ini hanya diberikan kepada pasien-pasien “No Hope No Option”.” Tegasnya.

Cosmos menekankan bahwa dunia kesehatan berubah dengan cepat. Kolaborasi antara banyak pihak untuk membawa teknologi baru ke Indonesia, terutama bidang Regenerative Medicine. Riset dan Inovasi akan merubah apa yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin.

“MSC menawarkan harapan untuk masa depan. Oleh karena itu mari sama-sama kita berkolaborasi untuk membawa kemajuan di Indonesia terutama sektor Kesehatan. Mudah-mudahan kita bisa menikmati kemudahan dengan menggunakan Stem Cell ini.” Paparnya.

Baca :  Kejanggalan Surat KFN Terkait Gelar Apoteker Disimpan Didepan Nama

“Mari kita sebagai manusia belajar dari sifat MSC dimana sifat-sifatnya dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu Low profile tapi high quality, Meredam pertikaian (antiinflamasi), Efek parakrin (pintar berkomunikasi dengan pihak-pihak yang bermasalah), Mampu menjalanakan peran perbaikan dalam kehidupan (antiinflamasi), Memperbaiki kerusakan (regenerasi)” Tutupnya. (Red. Penulis/Rey,Mia, Restu, Editor/NW)

Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About farmasetika.com

Farmasetika.com merupakan situs yang berisi informasi farmasi terkini berbasis ilmiah dan praktis. Sign Up untuk bergabung di komunitas farmasetika.com. Download aplikasi Tapatalk, Caping, atau Baca di smartphone, Ikuti twitter, instagram dan facebook kami. Terimakasih telah ikut bersama memajukan bidang farmasi di Indonesia.

Check Also

Hasil Studi Plasma Konvalesen Tidak Efektif Obati Pasien COVID-19

Majalah Farmasetika – Menurut hasil studi yang diterbitkan di The BMJ, menggunakan plasma convalescent/konvalesen bersama …

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.