kesalahan pengobatan

Kesalahan Pengobatan Menjadi Pembunuh Ketiga Setelah Penyakit Jantung dan Kanker

Kesalahan Pengobatan Menjadi Pembunuh Ketiga Setelah Penyakit Jantung dan Kanker. Harus dijadikan perhatian lebih bagi tenaga kesehatan saat ini, pasalnya menurut hasil penelitian yang diterbitkan dalam BMJ pada hari Selasa (2 Mei 2016), menunjukkan bahwa “medication error/kesalahan pengobatan” di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya yang sangat umum menjadi penyebab utama kematian ketiga di Amerika Serikat dengan mengklaim 251.000 jiwa setiap tahunnya, lebih dari penyakit pernafasan, kecelakaan, stroke dan Alzheimer.

Martin Makary, seorang profesor bedah di Johns Hopkins University School of Medicine yang memimpin penelitian, mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa kategori mencakup segala sesuatu dari dokter yang buruk masalah yang lebih sistemik seperti terhambatnya komunikasi ketika pasien diserahkan dari satu departemen ke departemen lain .

“Itu bermuara kepada orang-orang yang meninggal akibat perawatan yang mereka terima bukan penyakit yang mereka derita,” kata Makary.

Kenneth Sands, Direktur Pengawasan Kualitas di Beth Israel Deaconess Medical Center, mengatakan bahwa salah satu hambatan utama adalah keragaman yang luar biasa dan kompleksitas dalam perawatan kesehatan cara disampaikan.

“Ada saja yang lebih tinggi tingkat toleransi untuk variabilitas dalam praktek daripada yang Anda akan melihat di industri lain,” jelas Sand yang tidak terlibat dalam penelitian yang diterbitkan dalam BMJ ini.

Ketika penumpang naik pesawat, ada cara standar petugas bergerak di sekitar, berbicara dengan mereka dan mempersiapkan mereka untuk penerbangan, Sands mengatakan, belum adanya standardisasi tersebut tidak terlihat di rumah sakit. Yang membuatnya sulit untuk mencari tahu di mana kesalahan yang terjadi dan bagaimana memperbaikinya. Pemerintah harus bekerja dengan lembaga untuk mencoba untuk menemukan cara-cara memperbaiki situasi ini, katanya.

Makary juga menggunakan analogi pesawat dalam menggambarkan bagaimana ia berpikir rumah sakit harus mendekati kesalahan, referensi dari Federal Aviation Administration bisa digunakan dalam penyelidikan kecelakaan tersebut.

“Mengukur masalahnya adalah mutlak langkah pertama,” katanya. “Rumah sakit saat ini sedang menyelidiki kematian di mana kesalahan medis bisa saja penyebabnya, tetapi mereka kekurangan sumber daya. Apa yang perlu kita lakukan adalah pola studi nasional.”

Sayangnya penelitian di Indonesia mengenai kesalahan pengobatan tidak banyak dilakukan dan dipublikasikan. Kasus bupivacaine menewaskan 10 orang pasien adalah salah satu contoh yang mungkin masih banyak lagi dan tidak terdeteksi.

Sumber : https://www.washingtonpost.com/

Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About farmasetika.com

farmasetika.com
Farmasetika.com merupakan situs yang berisi informasi farmasi terkini berbasis ilmiah dan praktis. Sign Up untuk bergabung di komunitas farmasetika.com. Download aplikasi Tapatalk, Caping, atau Baca di smartphone, Ikuti twitter, instagram dan facebook kami. Terimakasih telah ikut bersama memajukan bidang farmasi di Indonesia.

Check Also

Menggunakan Face Shield Tanpa Masker Tidak Efektif Cegah COVID-19

Majalah Farmasetika – Pejabat kesehatan di Swiss memperingatkan agar tidak menggunakan pelindung wajah dari plastik …

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.