Home / R & D / Zat Aktif / Mengenal Netarsudil, Obat Baru Atasi Kebutaan Karena Glaukoma

Mengenal Netarsudil, Obat Baru Atasi Kebutaan Karena Glaukoma

farmasetika.com – Glaukoma adalah penyebab utama kebutaan permanen yang mempengaruhi lebih dari 60 juta orang di seluruh dunia. Glaukoma dapat timbul melalui berbagai etiologi, tetapi kehilangan penglihatan pada akhirnya disebabkan oleh kematian progresif sel-sel ganglion retina dan kerusakan terkait pada saraf optik. Glaukoma sudut terbuka adalah bentuk glaukoma yang paling umum.

Mengenal glaukuma dan tekanan intraokuler

Glaukoma sudut terbuka didefinisikan sebagai kondisi okular di mana sudut bilik anterior terbuka setelah pengamatan gonioskopi, ada beberapa bukti kerusakan saraf optik atau disfungsi (misalnya, kehilangan bidang visual), dan pasien sering menunjukkan peningkatan tekanan intraokular. Terdapat sebuah obat yang dapat menhambat potensi dari glaucoma yang menurunkan tekanan intraokular dengan secara langsung meningkatkan aliran trabekular.

Mekanisme penurunan tekanan intraokuler ini membantu melindungi saraf optik dari kerusakan. Untuk mekanisme penurunan teknis ini ditemukan sebuah obat yang dikembangkan dengan Aerie Pharmaceuticals. Obat tersebut disebut dengan netarsudil yang ditemukan sudah menurunkan tekanan intraokuler pada penelitian di kelinci dan monyet serta pada fase 1 dan fase 2 studi klinis (Rahbarghazi, Keyhanmanesh, Aslani, Hassanpour, & Ahmadi, 2019).

Mengenal netarsudil

Netarsudil adalah Rho Kinase dan penghambat transporter norepinefrin yang memiliki nama kimia (S)-4-(3-amino-1-(isoquinolin-6-yl-amino)-1-oxopropan-2-yl)benzyl 2,4-dimethylbenzoat dimesilat. Yang memiliki rumus kimia yaitu  C30H35N3O9S2 dan memiliki struktur senyawa seperti dibawah ini (Rahbarghazi et al., 2019): 

Netarsudil atau dikenal dengan nama brand yaitu Rhopressa adalah produk optalmik yang merupakan steril, isotonik dan larutan dapar dari netarsudil yang memiliki pH berada pada 5 dan osmolaritas berada pada 295 mOsmol/kg. Larutan ini menjadikan netarsudil sebagai bahan aktif. Dalam formulasi benzalkomium klorida sebesar 0,015 ditambahkan sebagai pengawet. Bahan yang tidak aktif diantara lain adalah mannitol, asam borat, natrium hidroksida untuk penyesuaian pH air untuk injeksi (water for injection) (Rahbarghazi et al., 2019).

Formulasi netarsudil

Dalam preformulasi sediaan netarsudil atau Rhopressa diantara lain bahan yang dibutuhkan adalah benzalkomium klorida, mannitol, asam borat dan natrium hidroksida. Pemerian benzalkomium klorida merupakan gel kental atau potongan gelatin, putih atau putih kekuningan, berbau aromatic lemah, larutan dalam air berasa pahit, jika dikocok sangat berbusa dan biasanya sedikit alkali. Kelarutan benzalkomium klorida sangat mudah larut dalam air dan etanol, bentuk anhidrat mudah larut dalam benzene dan agak sukar larut dalam eter (Depkes RI, 1995).

Benzalkomium klorida memiliki fungsi sebagai pengawet antimikroba, antiseptic, desinfektan, bahan pembasah. Benzalkonium klorida adalah senyawa ammonium kuartener yang digunakan dalam formulasi farmasetikal sebagai antimikroba yang dalam aplikasinya sama dengan surfaktan kation lain. Pada sediaan Rhopressa digunakan benzalkonmium klorida sebesar 0,015% dikarenakan pada obat mata benzalkonmium klorida sebagai pengawet kadarnya berada pada konsentrasi 0,01%-0,02% b/v (Rowe, R.C., Sheskey, P.J, Queen, 2009).

Benzalkonmium klorida merupakan sebuah zat yang memiliki stabilitas yang bisa dipengaruhi oleh cahaya, udara dan logam serta bersifat higroskopis. Larutannya stabil pada rentang pH dan temperature yang lebar dan bisa disterilisasi dengan autoklaf. Pada dasarnya benzalkonmium klorida memiliki inkompatibilitas dengan alumunium, surfaktan anionic, sitrat, hydrogen peroksida, hidroksi propil metilselulosa, iodidda, kaolin, lanolin, nitrat, surfaktan nonionic dengan konsentrasi tinggi, permanganate, protein, salisilat, garam perak, sabun, sulfonamide, tartrat, oksida zink, sulfat zink, campuran karet dan campuran plastik. Penyimpanan dilakukan pada tempat terlindung dari cahaya dan terhindar dari kontak dengan logam. 

Bahan tambahan selanjutnya adalah mannitol atau d-manitol. Manitol adalah alcohol hexahidrik yang berhubungan dengan manosa dan memiliki struktur yang mirip dengan sorbitol. Manitol merupakan zat yang berwarna putih, tidak berbau, bubuk kristal atau granul yang bisa mengalir secara bebas, memiliki rasa yang manis dan dapat memberikan rasa dingin di mulut. Manitol berfungsi sebagai pelarut, plastisizer, agen pemanis, pelarut tablet dan kapsul, agen terapetik dan tonisitas.

Mannitol stabil pada tingkat kering dan pada larutan cairan. Larutan mungkin sterilisai dengan filtrasi atau autoklaf dan jika dibutuhkan adalah autoklaf secara berulang tanpa ada efek yang bahaya atau efek kimia. Dalam larutan, mannitol tidak terserang oleh digin, asam yang terlarut atau basa ataupun dengan kosigen atmosfer ketika tidak terdapat katalis. Bahan harus disimpan di wadah tertutup di tempat yang dingin dan kering. Mannitol memiliki inkompatibilitas dengan infus xylitol dan bisa membentuk kompleks dengan besi seperti alumunium, tembaga dan besi. Mannitol berfungsi sebagai diuretik yang dapat mengurangi pembengkakan dan tekanan disekitar mata atau otak. Dalam operasi mannitol diberikan dengan konsentrasi 20% dari 100 ml pada operasi untuk mengurangi tekanan intraokuler (Rowe, R.C., Sheskey, P.J, Queen, 2009). 

Bahan tambahan yang ditambahkan berikutnya adalah asam borat merupakan pengawet antimikroba dalam tetes mata, produk kosmetik, salep dan krim topical. Asam borat juga digunakan untuk pengawet antimikroba di makanan. Asam borat memiliki kapasitas dapar yang baik dan digunakan untuk mengontrol pH. Asam borat sering digunakan sebagai preparasi eksternal seperti tetes mata. Asam borat memiliki sifat higroskopis, bubuk kristal berwarna putih, platelet tidak berwarna dan bersinar atau kristal putih. Keasaman dengan pH = 3,5-4,1, kerapatan dari zat ini adalah 1,435, memiliki titik leleh sebesar 170,9 0 C. Kelarutan asam borat larut dalam etanol, eter, gliserin, air dan minyak yang menguap. Kelarutan dalam air ditingkatkan dengan penambahan asam hidroklorida, sitrat atau tartrat. Asam borat merupakan higroskopis dan harus disimpan tanpa udara dan wadah yang tertutup rapat dan wadah harus diberi tanda bahwa tidak untuk penggunaan internal (Rowe, R.C., Sheskey, P.J, Queen, 2009). 

Selain itu untuk menyesuaikan pH ditambahkan natrium hidroksida yang digunakan sebagai formulasi farmasetikal untuk menyesuaikan pH larutan. Natrium hidroksida digunakan sebagai massa putih. Natrium hidroksida berada pada pellet kecil, menempel dan dalam bentuk lain. Natrium hidroksida memiliki titik leleh 318 derajat celcius dan larut pada 1 bagian dari 7,2 etanol, pada eter praktis tidak larut, pada gliserin larut, pada methanol larut 1 bagian dari 4,2 dan pada air larut pada 1 bagian dari 0,9.

Natrium hidroksida memiliki kecendrungan menjadi larutan ketika terkena paparan dari udara atau menyerap karbon dioksida dan air. Natrium hidroksida harus disimpan di wadah kedap udara dan bukan besi pada tempat yang dingin dan kering. Natrium hidroksida adalah basa kuat dan memiliki inkompatibilitas dengan senyawa yang bisa mengalami hidrolisis atau oksidasi. Akan bereaksi dengan ester dan eter terutama pada larutan berair. Pada database bahan tidak aktif FDA, natrium hidroksida berfungsi untuk preparasi gigi, injeksi, inhaasi, nasal, optalmik, oral, rektal, topical dan persiapan vagina (Rowe, R.C., Sheskey, P.J, Queen, 2009).

Dari studi preformulasi didapatkan bahwa untuk membuat sediaan optalmik netarsudil dengan konsentrasi 0,02% menggunakan benzalkonium klorida, 0,015%, ditambahkan sebagai pengawet. Bahan-bahan yang tidak aktif adalah mannitol sebagai diuretik dengan konsentrasi 20% dari 100 ml, asam borat, natrium hidroksida untuk menyesuaikan pH, dan air untuk injeksi (Rahbarghazi et al., 2019).

Sumber :

Baca :  Setelah 15 Tahun, Akhirnya Muncul Salep Crisaborole yang Efektif Untuk Eksim

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Rahbarghazi, R., Keyhanmanesh, R., Aslani, M. R., Hassanpour, M., & Ahmadi, M. 2019. Dermatologic and Ophthalmic Drugs Advisory Committee Meeting Briefing Document Product: Microvascular Research, 121, 63–70. https://doi.org/10.1016/j.mvr.2018.10.005

Rowe, R.C., Sheskey, P.J, Queen, M. . 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients, Sixth Edition. London: Pharmaceutical Press and American Pharmacist Association.

Penulis : Saarah Yurva Salsabila Lasabuda, Mahasiswa Program Sarjana, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Share this:
  • 54
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    54
    Shares

About farmasetika.com

Farmasetika.com merupakan situs yang berisi informasi farmasi terkini berbasis ilmiah dan praktis. Sign Up untuk bergabung di komunitas farmasetika.com. Download aplikasi Tapatalk, Caping, atau Baca di smartphone, Ikuti twitter, instagram dan facebook kami. Terimakasih telah ikut bersama memajukan bidang farmasi di Indonesia.

Check Also

Romosozumab, Obat Baru untuk Osteoporosis yang Beresiko Fraktur

farmasetika.com – Osteporosis atau yang lebih dikenal dengan pengeroposan tulang merupakan keadaan terjadinya penurunan kepadataan …

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Skip to toolbar