resistensi bakteri
pic : University of Melbourne

Peneliti Muda Temukan Polimer Bintang Untuk Menanggulangi Resistensi Antibiotik

Majalah Farmasetika (V1N7-September 2016). Fenomena resistensi antibiotik dengan munculnya bakteri “superbug” atau bakteri yang tahan terhadap antibiotik terkuat saat ini telah menghantui dunia kesehatan di masa depan.

Baca : Bakteri Super Kebal Antibiotik yang Ditakutkan Para Ahli Kini Hadir Di Amerika

Shu Lam, seorang peneliti perempuan berusia 25 tahun berhasil mengembangkan star-shaped polymer, polimer berbentuk bintang yang mampu merusak dinding sel bakteri resisten obat. Shu Lam yang juga seorang mahasiswa doktor di  University of Melbourne, Australia telah mempublikasikan penelitiannya di Nature Microbiology, 12 September 2016.

Walau masih penelitian pra klinis tetapi solusi potensial di masa depan

Walaupun penelitan masih pada skala laboratorium dan di uji di tikus, tetapi bisa menawarkan solusi potensial untuk resistensi antibiotik dimana bakteri resisten antibiotik sudah membunuh sekitar 700.000 orang setiap tahun, Studi terbaru menunjukkan jumlah yang bisa naik menjadi sekitar 10 juta pada tahun 2050.

Baca : Apa yang Bisa Kita Lakukan Ketika Antibiotik Sudah Tidak Bekerja Melawan Infeksi?

Shu Lam telah mengembangkan polimer berbentuk bintang yang dapat membunuh enam strain “superbug” yang berbeda tanpa antibiotik dengan hanya merobek dinding sel mereka.

“Kami telah menemukan bahwa [polimer] sebenarnya menargetkan bakteri dan membunuhnya dalam berbagai cara,” kata Lam Nicola Smith dari The Telegraph. “Salah satu metode adalah dengan menggagu secara fisik atau melanggar dinding sel bakteri. Hal ini menciptakan banyak stres pada bakteri dan menyebabkan ia mulai membunuh dirinya sendiri.” lanjutnya

Baca :  Apa yang Bisa Kita Lakukan Ketika Antibiotik Sudah Tidak Bekerja Melawan Infeksi?

Penelitian ini mendapat pujian dari ilmuwan lainnya

Penelitian ini telah mendapat pujan dari para ilmuwan di area ini sebagai sebuah terobosan yang bisa mengubah wajah kedokteran modern.

Namun hal ini masih sangat dini hari. Sejauh ini, Lam hanya menguji polimer berbentuk bintang-nya di enam strain bakteri yang resistan terhadap obat di laboratorium, dan pada satu superbug pada tikus hidup.

Tetapi dalam semua percobaan, mereka sudah mampu membunuh bakteri yang ditargetkan mereka dan generasi ke generasi tampaknya tidak mengembangkan resistensi terhadap polimer.

Polimer bintang ini dinamakan SNAPPS

Polimer yang mereka sebut SNAPPS (structurally nanoengineered antimicrobial peptide polymers ), atau struktural polimer berteknologi nano peptida antimikroba. SNAPPS bekerja dengan langsung menyerang, menembus, dan kemudian mendestabilisasi membran sel bakteri.

Tidak seperti antibiotik yang juga dapat mempengaruhi sel-sel sehat di tubuh, SNAPPS telah dirancang tidak mempengaruhi sel-sel sehat sama sekali.

“Dengan peptida dipolimerisasi ini kita berbicara perbedaan dalam skala antara mencit dan gajah,” pengawas Lam, Greg Qiao, mengatakan Marcus Strom dari Sydney Morning Herald. “Molekul-molekul peptida besar tidak bisa masuk ke sel [sehat].”

Berikut adalah penampakan SNAPPS (hijau) di sekitar bakteri dan merobek sel bakteri di bawah ini:

resistensi bakteri
pic : University of Melbourne

Hasil saat ini terlalu dini untuk diaplikasikan di manusia

Sementara hasilnya yang positif sejauh ini, terlalu dini untuk mendapatkan hasil berarti yang bisa diterapkan bagi manusia, kata Cyrille Boyer dari University of New South Wales di Australia, yang tidak terlibat dalam penelitian.

“Keuntungan utama tampaknya mereka dapat membunuh bakteri lebih efektif dan selektif [dari peptida lainnya]” Boyer mengatakan pada harian di Australia, dan menambahkan bahwa tim ini masih jauh dari aplikasi klinis.

Tapi apa yang mengagumkan tentang proyek baru ini bahwa sementara tim lain mencari antibiotik baru, Lam telah menemukan pendekatan yang sama sekali berbeda. Dan itu bisa membuat semua berbeda dalam ‘dunia pasca-antibiotik’ datang.

Baca :  Apoteker Harus Tahu Asal-usul Bakteri "Superbug" Karena Resistensi Antibiotik

“Untuk sementara waktu, saya harus datang pada pukul 4:00 di pagi hari untuk menjaga tikus dan sel saya,” katanya kepada The Telegraph. “Saya ingin terlibat dalam beberapa jenis penelitian yang akan membantu memecahkan masalah. Saya sangat berharap bahwa polimer kami mencoba untuk mengembangkan sini akhirnya bisa menjadi solusi.” ujar Lam.

Sumber :

  1. http://www.sciencealert.com/the-science-world-s-freaking-out-over-this-25-year-old-s-solution-to-antibiotic-resistance
  2. http://www.nature.com/articles/nmicrobiol2016162
  3. http://www.telegraph.co.uk/women/health/does-this-25-year-old-hold-the-key-to-winning-the-war-against-th/
  4. http://www.smh.com.au/technology/sci-tech/beyond-antibiotics-starshaped-protein-kills-feared-superbugs-20160912-grehpx.html
Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About Nasrul Wathoni

Nasrul Wathoni, Ph.D., Apt. Pada tahun 2004 lulus sebagai Sarjana Farmasi dari Universitas Padjadjaran. Gelar profesi apoteker didapat dari Universitas Padjadjaran dan Master Farmasetika dari Institut Teknologi Bandung. Gelar Ph.D. di bidang Farmasetika diperoleh dari Kumamoto University pada tahun 2017. Saat ini bekerja sebagai dosen dan peneliti di Departemen Farmasetika, Farmasi Unpad.

Check Also

Hasil Studi Plasma Konvalesen Tidak Efektif Obati Pasien COVID-19

Majalah Farmasetika – Menurut hasil studi yang diterbitkan di The BMJ, menggunakan plasma convalescent/konvalesen bersama …

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.