Sejarah dan Perkembangan Terapi Plasma Convalescent untuk COVID-19

Majalah Farmasetika – Telah banyak penelitian dan pengembangan terapi yang menjanjikan untuk penganganan covid-19, salah satunya adalah convalescent plasma. Istilah convalescent plasma merujuk pada pemberian plasma darah dari orang yang telah sembuh ke pasien lainnya yang dalam masa pengobatan untuk penyakit infeksi yang sama.

Plasma darah dari orang yang telah sembuh diperkirakan dapat membantu melawan SARS-CoV-2 karena memiliki antibodi yang telah dibentuk oleh pasien sembuh tersebut. Lembaga Food and Drug Administration (FDA) telah merekomendasikan terapi transfer plasma ini mengingat tingkat keberhasilan yang cukup tinggi di China. Namun, ada kriteria khusus untuk para pendonor plasma.

Kriteria tersebut adalah eks-pasien harus berusia 18-55 tahun, tidak memiliki penyakit penyerta, berat badan tidak lebih dari 50 kg, dan mampu mendonorkan darahnya. Selain itu, RNA eks-pasien harus pernah positif dan penyembuhannya harus yang berjalan dengan cepat (kurang dari 3 minggu).

Terapi convalescent plasma ini sebenarnya bukan pertama kali digunakan untuk SARS-CoV-2. Sebelumnya terapi ini pernah digunakan dalam penanganan SARS, MERS, flu burung, dan hantavirus. Untuk kasus covid-19, penerapan terapi ini pertama kali dilakukan di China dengan total pasien 17 orang dan menunjukkan keberhasilan terapi yang cukup tinggi.

Pasien yang diberikan terapi ini menunjukkan kesembuhan yang lebih cepat dan mengurangi keparahan gangguan saluran pernafasan. Namun belum dapat disimpulkan bahwa terapi convalescent plasma ini efektif secara umum, perlu dilakukan studi yang lebih banyak dan pengalaman klinis untuk membuktikan efektivitasnya.

Sejarah Penemuan dan Pengembangan Convalescent Plasma

Convalescent plasma awalnya dijelaskan oleh John Abel dan Leonard Rowntree dari Johns Hopkins Hospital pada tahun 1913. [1] Hal ini dikembangkan oleh Dr. Josep Antoni Grífols Lucas pada tahun 1950 dan 1951.

Grífols menemukan bahwa convalescent plasma memungkinkan donor untuk lebih sering menyumbang plasma darahnya tanpa mengorbankan kesehatan mereka, dan ini memungkinkan untuk merespons permintaan plasma secara lebih efektif.

Grífols mencoba teknik itu pada dirinya sendiri, begitu dia memastikan bahwa teknik itu tidak berbahaya, dia mempraktikkannya pada donor sukarela dan secara bertahap menyempurnakannya. Dia mempresentasikan hasil karyanya pada tahun 1951 di Kongres Internasional Keempat Transfusi Darah di Lisbon, dan pada tahun 1952 ia menerbitkannya di British Medical Journal. [2]

Michael Rubinstein adalah orang pertama yang menggunakan convalescent plasma untuk mengobati gangguan terkait kekebalan. Dia pernah menyelamatkan nyawa seorang remaja laki-laki dengan thrombotic thrombocytopenic purpura (TTP) di Cedars of Lebanon Hospital di Los Angeles pada tahun 1959.[3]

Baca :  FDA Berikan Persetujuan Darurat untuk Terapi COVID-19 dengan Plasma Konvalesen

Proses convalescent plasma modern itu sendiri berasal dari National Cancer Institute antara tahun 1963 dan 1968, dimana peneliti menggunakan teknologi pemisahan creamer susu tua yang pertama kali digunakan pada tahun 1878 dan disempurnakan oleh centrifuge Edwin Cohn yang dipasarkan pada tahun 1953.” [3]

Penyakit yang bisa diterapi convalescent plasma

Setelah dikembangkan, beberapa penyakit berikut ini dapat diterapi menggunakan convalescent plasma.

  • Acute disseminated encephalomyelitis (ADEM)
  • Antiphospholipid antibody syndrome (APS or APLS)
  • Behcet syndrome
  • Chronic inflammatory demyelinating polyneuropathy
  • Goodpasture’s syndrome
  • Granulomatosis with polyangiitis
  • Graves’ disease in infants and neonates
  • Guillain–Barré syndrome
  • HELLP syndrome
  • HIV-related neuropathy[4]
  • Hyperviscosity syndromes (Cryoglobulinemia, Paraproteinemia, Waldenström macroglobulinemia)
  • Idiopathic pulmonary fibrosis
  • Lambert-Eaton syndrome
  • Microscopic polyangiitis
  • Miller Fisher syndrome[5]
  • Multiple sclerosis
  • Myasthenia gravis
  • Neuromyelitis optica
  • Opsoclonus myoclonus syndrome
  • PANDAS syndrome
  • Pemphigus vulgaris
  • Recurrent focal and segmental glomerulosclerosis in the transplanted kidney
  • Refsum disease
  • Rhabdomyolysis
  • Thrombotic thrombocytopenic purpura (TTP) / hemolytic uremic syndrome
  • Toxic epidermal necrolysis (TEN)
  • Transverse myelitis

Saat ini, terapi convalescent plasma telah disetujui oleh FDA untuk digunakan dalam penanganan penyakit kritis termasuk Covid-19 ini. Penerapan klinisnya juga sedang diuji dan telah memasuki fase ke 3.

Pengolahan Convalescent Plasma

Metode manual

Untuk metode manual, sumbangan darah dikumpulkan dari donor kemudian plasma darah dipisahkan oleh mesin centrifuge. Plasma darah kemudian dikumpulkan dan sel-sel darah merah dikembalikan ke donor. Pengembalian sel darah merah ke tubuh donor menyebabkan tubuh mengganti plasma lebih cepat, seorang donor dapat menyediakan hingga satu liter plasma pada satu waktu dan dapat menyumbang lagi hanya beberapa hari setelah sumbangan sebelumnya. Jika sel darah tidak dikembalikan, pendonor darah harus menunggu selama 56 hari untuk dapat mendonorkan plasma darahnya. Jumlah yang diperbolehkan dalam sumbangan sangat bervariasi pada tiap negara, tetapi umumnya tidak melebihi dua sumbangan, masing-masing sebanyak satu liter per periode tujuh hari.

Bahaya dengan metode ini adalah jika sel darah merah yang salah dikembalikan ke donor, reaksi transfusi yang serius dan berpotensi fatal dapat terjadi. Mewajibkan donor untuk melafalkan nama dan nomor ID mereka pada kantong merah yang dikembalikan meminimalkan risiko ini. Prosedur ini sebagian besar sudah tidak digunakan.

Metode otomatis

Metode otomatis menggunakan proses yang sangat mirip dengan metode manual. Perbedaannya adalah pengumpulan, pemisahan, dan pengembalian semua dilakukan di dalam mesin yang terhubung ke donor melalui jarum di lengan, biasanya vena antecubital. Metode ini tidak memiliki risiko penerimaan sel darah merah yang salah.[6] Perangkat yang digunakan sangat mirip dengan perangkat yang digunakan untuk terapi plasmapheresis, dan potensi toksisitas sitrat serupa. Risiko potensial dijelaskan kepada calon donor pada donasi pertama mereka, dan sebagian besar donor mentoleransi prosedur dengan baik.[7]

Baca :  Kemenkes Mulai Uji Klinis Terapi Plasma Konvalesen pada 364 Pasien COVID-19

Jika sejumlah besar sel darah merah tidak dapat dikembalikan, donor tidak boleh menyumbang selama 56 hari. Plasma yang dikeluarkan dapat diganti dengan normal saline. Badan biasanya menggantikan volume yang dikumpulkan dalam waktu 24 jam, dan donor biasanya menyumbang hingga dua kali seminggu, meskipun ini bervariasi di setiap negara.

Uji Klinik untuk Convalescent Plasma

Saat ini, terapi covalescent plasma sedang dalam pengujian klinis fase 3 pada pasien yang berumur lebih dari 15 tahun, terkonfirmasi Covid-19, menerima bantuan oksigen, dan dengan golongan darah A, B, atau O. Pengujian ini merupakan multicenter atau dilakukan dibeberapa tempat dan sedang menerima perekrutan untuk bantuan penelitian. Lokasi dan kontaknya dapat dilihat pada link berikut:

https://clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT04348656?type=Intr&cond=COVID-19&age=0&draw=2&rank=10

Prospek Penggunaan Convalescent Plasma

Convalescent plasma memang merupakan terapi yang ideal karena menggunakan plasma yang kaya akan antibodi dari pasien Covid-19 yang telah sembuh. Namun bukan jalan terakhir karena proses pengobatan yang lebih mudah dengan stok yang memadai dan ekonomis tentunya lebih baik.

Kesimpulan

Terapi convalescent plasma dapat digunakan untuk penanganan Covid-19 dan mampu menurunkan tingkat keparahan penyakit tersebut. Namun diperlukan metode dan perhatian yang lebih dalam proses penerapannya agar terhindar reaksi imun, crossinfection, dan lainnya yang dapat berakibat fatal bagi pendonor maupun penerima plasma.

Sumber :

[1] Abel, J.J.; Rowntree, L.G.; Turner, B.B. (1913). “On the removal of diffusible substances from the circulating blood by means of dialysis”. Trans Assoc Am Phys. 28: 51–54.

[2] Grífols-Lucas, J.A. (1952). “Use of plasmapheresis in blood donors”. British Medical Journal. 1 (4763): 854. doi:10.1136/bmj.1.4763.854. PMC 2023259. PMID 14916171.

[3] Wallace, D.J. “Apheresis for lupus erythematosus”. Lupus (1999) 8, 174–80.

[4] Kiprov D.D., Stricker R.B., Miller R.G. Int. Conf. AIDS. 1992 Jul 19-24; 8: 95 (abstract no. PuB 7281). U.S. Nat`l Institutes of Health, NLM Gateway. Abstract retrieved 8-22-2009.

[5] Mori, M; Kuwabara, S; Fukutake, T; Hattori, T (2002). “Plasmapheresis and Miller Fisher syndrome: analysis of 50 consecutive cases”. Journal of Neurology, Neurosurgery, and Psychiatry. 72 (5): 680. doi:10.1136/jnnp.72.5.680. PMC 1737859. PMID 11971070

[6] Batocchi, AP; Evoli, A; Di Schino, C; Tonali, P (2000). “Therapeutic apheresis in myasthenia gravis”. Therapeutic Apheresis. 4 (4): 275–79. doi:10.1046/j.1526-0968.2000.004004275.x. PMID 10975473.

[7] Drew, MJ (2002). “Plasmapheresis in the dysproteinemias”. Therapeutic Apheresis. 6 (1): 45–52. doi:10.1046/j.1526-0968.2002.00393.x. PMID 11886576.

Penulis : Abd. Kakhar Umar, Magister Farmasi, Konsentrasi Farmasetika dan Teknologi Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About farmasetika.com

farmasetika.com
Farmasetika.com merupakan situs yang berisi informasi farmasi terkini berbasis ilmiah dan praktis. Sign Up untuk bergabung di komunitas farmasetika.com. Download aplikasi Tapatalk, Caping, atau Baca di smartphone, Ikuti twitter, instagram dan facebook kami. Terimakasih telah ikut bersama memajukan bidang farmasi di Indonesia.

Check Also

Sel Punca sebagai Medicinal Signaling Cell Berpotensi Besar untuk Terapi COVID-19

Majalah Farmasetika – Mencari sebuah terapi untuk pasien COVID-19 yang memiliki kronik injuri dengan memodifikasi …

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.