Gambar oleh fernando zhiminaicela dari Pixabay

Pakar Ingatkan Ketika Vaksin COVID-19 Hadir, Tak Berarti Pandemi Otomatis Berakhir

Majalah Farmasetika – Uji klinik kandidat vaksin COVID-19 dari Sinovac, Tiongkok yang dilakukan oleh Universitas Padjadjaran masih sedang berlangsung. Bila hasilnya baik, direncanakan Januari 2021 vaksin ini bisa diproduksi masal di PT Bio Farma Tbk. Vaksin bukan satu-satunya senjata pamungkas untuk menghentikan pandemi COVID-19. Hal ini diungkap oleh para pakar dari Universitas Padjadjaran (4/10/2020).

9 kandidat vaksin COVID-19 dari CEPI bisa dimanfaatkan Indonesia

Tidak hanya vaksin dari Sinovac, pemerintah sedang berusaha untuk bekerjasama dengan perusahaan vaksin yang saat ini juga sedang melakukan uji klinis tahap akhir. Saat ini Indonesia tergabung dalam 172 negara anggota COVAX yakni terobosan kolaborasi global untuk mempercepat pengembangan, produksi, dan akses yang adil ke tes, perawatan, dan vaksin COVID-19.

Sembilan kandidat vaksin yang didukung CEPI (the Coalition for Epidemic Preparedness Innovations) adalah bagian dari inisiatif COVAX, dengan sembilan kandidat lainnya sedang dievaluasi.

Kesembilan vaksin tersebut adalah :

  1. Inovio, United States of America (Phase I/II)
  2. Moderna, United States of America (Phase III)
  3. CureVac, Germany (Phase I)
  4. Institut Pasteur/Merck/Themis, France/ United States of America /Austria (Preclinical)
  5. AstraZeneca/University of Oxford, United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland (Phase III)
  6. University of Hong Kong, China (Preclinical)
  7. Novavax, United States of America (Phase I/II)
  8. Clover Biopharmaceuticals, China (Phase I)
  9. University of Queensland/CSL, Australia (Phase I)

Pakar ingatkan masyarakat jangan terlalu bergantung kepada vaksin COVID-19

Pakar biofarmasi dari Departemen Farmasetika dan Teknologi Farmasi, Universitas Padjadjaran, apt. Taofik Rusdiana, Ph.D., menyampaikan bahwa kandidat vaksin yang didukung CEPI yang sedang di uji klinik dari perusahaan Pfizer, Moderna, AstraZeneca, Johnson-Johnson, dan Novavac memiliki target efikasi yang berada dikisaran 50-60%. Seperti pada tabel berikut ini :

Baca :  Muncul Penyakit, Uji Klinik Vaksin COVID-19 Johnson & Johnson Dihentikan Sementara
https://twitter.com/EricTopol/status/1309913035562053637/photo/1

“Target efikasi atau efektivitas vaksin adalah persen penurunan insiden penyakit pada kelompok yang divaksinasi dibandingkan dengan kelompok yang tidak divaksinasi dalam kondisi optimal.” tutur Taofik kepada Majalah Farmasetika (4/10/2020).

Menurut study the Lancet, beberapa vaksin COVID-19 saat ini sedang dalam uji coba fase 3 dengan kemanjuran yang dinilai sebagai pencegahan penyakit yang dikonfirmasi secara virologi. WHO merekomendasikan bahwa vaksin yang berhasil harus menunjukkan pengurangan risiko penyakit setidaknya 50%. Namun, dampak vaksin COVID-19 ini terhadap infeksi dan dengan demikian penularannya tidak dinilai. Bahkan jika vaksin mampu memberikan perlindungan dari penyakit, mereka mungkin tidak mengurangi penularan dengan cara yang sama.

“Artinya masyarakat juga jangan terlalu menganggap vaksin sebagai jurus pamungkas. Dan pemberian vaksin ini tidak ekivalen dengan penurunan laju transmisi Covid-19 seperti disampaikan WHO” jelas Taofik.

Simulasi komputer terkait efektivitas vaksin dan berapa banyak yang harus di vaksinasi

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan 15 Juli di American Journal of Preventive Medicine, penelitian tersebut menggunakan simulasi komputer dari setiap orang di Amerika Serikat untuk menunjukkan seberapa efektif vaksin itu dan berapa banyak orang yang harus divaksinasi untuk mengakhiri pandemi.

“Dalam penelitian itu ditemukan bahwa efektivitas vaksin coronavirus mungkin harus lebih tinggi dari 70% atau bahkan 80% sebelum orang Amerika dapat berhenti mengandalkan jarak sosial dengan aman. Sebagai perbandingan, vaksin campak memiliki khasiat 95% -98%, dan vaksin flu 20% -60%.” lanjut Taofik.

Taofik menambahkan tidak berarti vaksin yang menawarkan lebih sedikit perlindungan tidak akan berguna, tetapi itu berarti jarak sosial dalam beberapa bentuk masih diperlukan.

“Meski efektivitas vaksin 20%, asal semua populasi di vaksinasi (100%), maka akan terjadi pengurangan %terinfeksi sampai 71%”. Namun presentasi pengurangan terinfeksi ini akan menurun lagi menjadi 63% bila penduduk sudah terinfeksi 5% (baseline) dan 51% bila penduduk sudah terinfeksi 15% (baseline).” jelas Taofik.

Baca :  Uji Klinik Fase 3 Remdesivir untuk COVID-19, Tunjukan Hasil Positif

Untuk efektivitas vaksin 60%, maka simulasinya mendapatkan angka %penuruan terinfeksi menjadi 100% bila seluruh penduduk (100%) tervaksinasi dengan tingkat baseline 0% terinfeksi atau hanya 85% penurunan kasus terinfeksi pada tingkat baseline 5% terinfeksi, dan hanya tinggal 61% penurunan kasus bila baseline nya sdh mencapai 15% yang terinfeksi.

“Sedangkan untuk mendapatkan 100% jumlah penduduk yg tervaksinasi ini sulit tercapai. Seandainya hanya katakanlah 75% penduduk tervaksinasi, maka dengan target efektivitas vaksin 60% ini hanya akan menurunkan kasus ke angka 82% bila dihitung pada tingat baseline 5% kasus terinfeksi,” tutup Taofik menjelaskan hasil penelitian di jurnal tersebut.

Vaksin COVID-19 salah satu opsi penting pada strategi mitigasi pandemi

Sementara itu, apt. Auliya Suwantika, Ph.D., pakar ekonomi kesehatan dari Departemen Farmakologi dan Farmasi Klinik, Universitas Padjadjaran menuturkan bahwa ketika vaksin COVID-19 diberikan ke masyarakat, tidak otomatis pandemi berakhir. Tetap perlu dilakukan strategi mitigasi lainnya untuk mengakhiri pandemi.

Menurutnya ada 3 strategi mitigasi pandemi, yakni :

  1. Membatasi interaksi antara populasi yang terinfeksi dan tidak terinfeksi: misalnya, melalui isolasi pasien, karantina, praktik jarak sosial, dan penutupan sekolah.
  2. Mengurangi penularan pada pasien yang bergejala: misalnya, melalui pengobatan antivirus dan antibiotik serta praktik pengendalian infeksi.
  3. Mengurangi kerentanan individu yang tidak terinfeksi: misalnya melalui vaksin.

“Ketiga strategi di atas harus dijalankan, intervensi farmakologi dan non-farmakologi. Tapi, efektivitas intervensi non-farmakologi itu akan sangat bergantung pada tingkat partisipasi masyarakat.” tutup Auliya. (Red./NW).

Sumber :

172 countries and multiple candidate vaccines engaged in COVID-19 vaccine Global Access Facility https://www.who.int/news-room/detail/24-08-2020-172-countries-and-multiple-candidate-vaccines-engaged-in-covid-19-vaccine-global-access-facility

Vaccine Efficacy Needed for a COVID-19 Coronavirus Vaccine to Prevent or Stop an Epidemic as the Sole Intervention https://www.ajpmonline.org/article/S0749-3797(20)30284-1/fulltext

What can we expect from first-generation COVID-19 vaccines? https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)31976-0/fulltext

Share this:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

About farmasetika.com

Farmasetika.com merupakan situs yang berisi informasi farmasi terkini berbasis ilmiah dan praktis. Sign Up untuk bergabung di komunitas farmasetika.com. Download aplikasi Tapatalk, Caping, atau Baca di smartphone, Ikuti twitter, instagram dan facebook kami. Terimakasih telah ikut bersama memajukan bidang farmasi di Indonesia.

Check Also

Menlu : Uji Klinis Vaksin COVID-19 Sinovac Berjalan Lancar, Hasilnya Baik

Majalah Farmasetika – Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menyatakan bahwa uji klinis vaksin COVID-19 …

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.